alexametrics

Pekerjanya Paling Banyak di PHK, Begini Nasib Perusahaan Konstruksi

loading...
Pekerjanya Paling Banyak di PHK, Begini Nasib Perusahaan Konstruksi
Kinerja Perusahaan Konstruski tak Mencapai Target
A+ A-
JAKARTA - Pandemi Virus Covid 19 memang telah membuat susah banyak orang. Hingga Bulan Mei lalu saja sudah lebih dari 2 juta pekerja yang harus di PHK. Kondisi perusahaan yang sempoyongan di hantam pandemic memaksa mereka melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk mengurangi jumlah karyawan.

Survei yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bidang Ketenagakerjaan, menyebutkan konstruksi dan bangunan menjadi sektor lapangan kerja yang paling banyak melakukan PHK, sebesar 29,3% dari total pekerja yang di PHK. Disusul kemudian sektor perdagangan, rumah makan, dan akomodasi 28,9%. Setelah itu sektor pertambangan penggalian sebanyak 28,6%. Baca Juga: Hak Pekerja Konstruksi Tetap Dijamin di Tengah Pandemi Corona

Banyaknya pekerja di sektor konstruksi dan bangunan yang harus kehilangan pekerjaan menjadi indikator kondisi perusahaan konstruksi saat ini. Sejumlah perusahaan konstruksi kelas kakap pun terpaksa harus menerima kenytaan kinerja mereka merosot tajam di awal tahun ini. Seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk (ADHI), Budi Harto. Menurutnya proyek-proyek infrastruktur yang dikerjakan perseroan banyak yang tertunda karena pemerintah sedang fokus menyelesaikan pandemi Covid-19.



Pada kuartal pertama 2020, BUMN Karya dengan kode emiten ADHI ini, hanya mampu mencatatkan kontrak baru senilai Rp2,5 triliun. Padahal tahun ini target Adhi Karya mampu maraup kontrak baru senilai Rp35 triliun.

Artinya sepanjang tiga bulan pertama tahun ini kontrak baru yang dihasilkan perseroan hanya 7,14% dari target. Dibandingkan kontrak baru yang dihasilkan di tahun-tahun sebelumnya, di periode yang sama, tahun ini memang tergolong rendah.

Pada kuartal I-2019 ADHI mampu meraih kontrak baru sebesar Rp3 triliun. Pada kuartal I-2018, kuartal I-2018 dan di kuartaI perta ma 2017 Rp3,7 triliun.

Meskipun kontrak baru yang didapat tergolong kecil, namun total pendapatan yang dibukukan ADHI di Kuartal I ini naik 31,76%, menjadi Rp3,07 triliun. Di tahun lalu, pada periode yang sama perseroan mencatatakan pendapatan sebesar Rp2,33 triliun.

Meski pendapatan naik, laba bersih ADHI justru turun 80,72% menjadi Rp14,56 miliar di kuartal I 2020. Dari laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan diketahui, laba bersih yang merosot tajam itu disebabkan karena beban keuangan juga mengalami kenaikan 26,73% menjadi Rp186,86 miliar.

Adapun, pendapatan lainnya turun 57,86% yoy dari Rp20,41 miliar menjadi Rp8,6 miliar di kuartal I 2020. Sedangkan bagian laba ventura bersama turun dari 69,35% yoy menjadi Rp24,66 miliar.

Penurunan laba ventura terjadi karena beberapa proyek kerjasama operasi (KSO) ADHI tidak menyumbang bagian laba. seperti proyek Stadion Manahan Surakarta, Jalur Kereta Api Solo Balapan - Bandara Adi Soemarmo dan Toll JORR II Ruas Kunciran-Serpong.

Seluruhnya ada 13 proyek konstruski yang tidak menyumbangkan laba. Dua proyek lainnya, yaitu PLTU Tanjung Selor dan proyek 6 ruas tol dalam kota DKI malah mencatatkan kerugian.

Nasib yang tak jauh berbeda dialami oleh PT PT Wijaya Karya Tbk. Di Kuartal I tahun ini, emiten berkode WIKA ini hanya mampu meraih kontrak baru sebesar Rp2,48 triliun, atau setara dengan 3,78% dari target tahun ini sebesar Rp65,5 triliun.

Dalam target WIKA, setidaknya di kuartal pertama tahun ini dapat mengantongi kontrak baru Rp5,7 triliun. Namun apa daya, realisasi kontrak baru di kuartal pertama ini pun merosot 76,82% dibandingkan kontrak baru pada kuartal I-2019 yang mencapai Rp10,7 triliun.

Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Wijaya mengatakan, di tengah kondisi seperti ini maka perseroan memproyeksikan di kuartal I 2020 akan terjadi penurunan pendapatan, Demikian juga dengan laba bersih diprediksi merosot antara 25% hingga 50%.

Ini terjadi, lantaran dari 208 proyek yang tengah digarap WIKA, hingga April 2020, sebanyak 13% diantaranya dalam kondisi suspend. Seluruh pekerjaan proyek dihentikan untuk sementara waktu.

Sebagai gambaran, pada kuartal I 2019, WIKA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp341,34 atau tumbuh 58,45% (yoy). Perolehan laba bersih tersebut ditopang oleh pendapatan yang mencapai Rp6,50 triliun (naik 3,95% yoy). Lalu kontrak baru yang berhasil diraih sebesar Rp 10,91 triliun, tumbuh 62,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BUMN karya lainnya, PT Waskita Karya Tbk juga memprediksi hal yang sama. Pendapatan BUMN ini di kuartal I-2020 bakal merosot tajam, sekitar 25%-50%, bila dibandingkan capaian kuartal pertama tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh penghentian operasional proyek konstruksi.

Senior Vice President Corporate Secretary Waskita Karya, Shastia Hadiarti menjelaskan, banyak proyek yang tengah dikerjakan Waskita mandek, khususnya yang berada di zona merah corona.

Proyek-proyek tersebut cukup strategis bagi perseroan, sebab berkontribusi 25% dari total pendapatan di tahun 2019. Proyeksi pendpatan yang merosot berimbas kepada laba perusahaan. Di tiga bulan pertama tahun ini diprediksi laba bersih perusahaan akan tergerus lebih dari 75%.

Sebagai pembanding, Waskita membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp4,17 triliun pada kuartal I/2019 atau melonjak 15,83% secara yoy. Pendapatan yang diraih saat itu sebesar Rp8,68 triliun, turun 30% secara tahunan. Laba bersih yang dibukukan Rp795 miliar terpangkas 54,18% yoy.

Hanya Hutama yang Naik

Kontrak baru yang merosot juga dialami oleh PT PP Tbk. Di kuartal pertama tahun ini hanya bisa menggengam kontrak baru senilai Rp 5,2 triliun atau setara 12,9% dari target tahun ini sebesar Rp40,3 triliun. raihan Kontrak baru ini merosot 46,94% dibandingkan hasil di kuartal I 2019 yang mencapai Rp9,80 triliun.

Diantara perusahaan konstruksi pelat merah, dari sisi kontrak baru yang berhasil didapat, sepertinya hanya PT Hutama Karya (Persero) yang masih bisa tumbuh. SEVP of Corporate Secretary Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan sepanjang kuartal I tahun 2020 pihaknya mampu mencatatkan kontrak baru sebesar Rp8,5 triliun atau naik tinggi sebanyak 104,62%.

Kontrak baru Hutama Karya memang melesat tinggi, maklum saja BUMN yang satu ini memang mendapat penugasan dari pemerintah untuk membangun Tol Trans Sumatera. Pembangnan tol sepanjang 2.800 Km ini dianggarkan akan memakan biaya hingga Rp476 triliun

Jika tadi gambaran kinerja dari BUMN kontrsuksi, bagaimana dengan persahaan konstruksi swasta? Ternyata kondisnya sama saja. Seperti yang dialami PT Total Bangun Persada Tbk. pada kuartal pertama tahun ini laba bersihnya merosot sedalam 9,38%. Perseroan hanya bisa menghasilkan laba bersih Rp60,98 miliar. Turun dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 67,28 miliar.

Dari sisi perolehan kontrak baru, Sekretaris Perusahaan Total Bangun Persada menyatakan bahwa perseroan telah meraup kontrak baru senilai Rp58,68 miliar.

Tahun ini, perseroan menargetkan dapat membukukan kontrak baru sebesar Rp3 triliun. Sementara itu, dari sisi top line perseroan menyasar pendapatan Rp2,3 triliun pada tahun ini.

Dalam laporannya, perseroan memperkirakan dampak pandemic Covid-19 akan dirasakan cukup berat bagi perseroan. Namun sejauh mana dampak tersebut, management Total Bangun Persada belum bisa memperkirakannya.
(eko)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top