Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kebijakan Tarif Baru Tes PCR
Jum'at, 29 Oktober 2021 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Nathasa membeberkan, pertimbangan lain yang menjadi penentu harga PCR selain bahan baku adalah banyaknya biaya lain-lain seperti Alat Pelindung Diri (APD) standar Kementerian Kesehatan sebagai kelengkapan yang menjamin keamanan tenaga kesehatan, serta upah para tenaga Kesehatan, dokter, analis laboratorium.
"Dan juga bahan habis pakai lainnya yang menjadi salah satu pertimbangan kami dalam menurunkan tarif PCR sesuai arahan pemerintah," ungkap Nathasa.
Kebijakan terbaru ini juga menuai kritik dari beberapa ahli epidemiologi yang mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang dikarenakan risiko besar yang bisa dialami oleh masyarakat luas. Penurunan harga yang diputuskan dalam waktu singkat dikhawatirkan mempengaruhi kualitas pengetesan di Indonesia menjadi turun.
“Kebijakan pemerintah seperti tawar-menawar. Harusnya pemerintah mengkaji ulang kebijakan ini dan bukan diturunkan harganya," ucap epidemiolog FKM UI Tri Yunis Wahyono dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi.
Menuut dia, pemerintah terlalu gampang menurunkan harga. "Jangan sampai kualitas digadaikan demi harga yang lebih rendah. Ini terlalu berisiko," ucapnya.
"Dan juga bahan habis pakai lainnya yang menjadi salah satu pertimbangan kami dalam menurunkan tarif PCR sesuai arahan pemerintah," ungkap Nathasa.
Kebijakan terbaru ini juga menuai kritik dari beberapa ahli epidemiologi yang mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang dikarenakan risiko besar yang bisa dialami oleh masyarakat luas. Penurunan harga yang diputuskan dalam waktu singkat dikhawatirkan mempengaruhi kualitas pengetesan di Indonesia menjadi turun.
“Kebijakan pemerintah seperti tawar-menawar. Harusnya pemerintah mengkaji ulang kebijakan ini dan bukan diturunkan harganya," ucap epidemiolog FKM UI Tri Yunis Wahyono dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi.
Menuut dia, pemerintah terlalu gampang menurunkan harga. "Jangan sampai kualitas digadaikan demi harga yang lebih rendah. Ini terlalu berisiko," ucapnya.
(ind)
Lihat Juga :