Melawan Putin? Dua Miliarder Top Rusia Berbicara Menentang Perang
Rabu, 02 Maret 2022 - 10:23 WIB
loading...
A
A
A
"Perdamaian sangat penting," tulis Deripaska, yang mendirikan raksasa aluminium Rusia Rusal, di mana ia masih memiliki saham melalui perusahaan induk en+ Group yang terdaftar di London.
Deripaska, yang mengatakan baru-baru ini pada 21 Februari tidak akan ada perang di Ukraina, telah masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat (AS) sejak 2018 atas dugaan hubungannya dengan pemerintah Rusia. Dimana Ia telah mengambil tindakan hukum untuk menentangnya seperti dilansir Guardian.
Fridman menduduki peringkat ke-128 sebagai orang terkaya di dunia pada tahun 2021, menurut daftar miliarder dunia Forbes. Pria berusia 57 tahun itu mengatakan kepada staf dalam suratnya bahwa dia biasanya menghindari membuat pernyataan politik.
"Saya seorang pengusaha yang bertanggung jawab kepada ribuan karyawan saya di Rusia dan Ukraina. Namun saya yakin bahwa perang tidak akan pernah bisa menjadi jawabannya. Krisis ini akan menelan korban jiwa dan merusak dua negara yang telah menjadi saudara selama ratusan tahun," tulisnya.
"Sementara solusi tampaknya masih sangat jauh, saya hanya bisa bergabung dengan mereka yang mempunyai keinginan kuat agar pertumpahan darah berakhir."
Baca Juga: Tak Gentar Dihujani Sanksi Ekonomi, Dubes Rusia: Kami Punya Segalanya
Deripaska, yang mengatakan baru-baru ini pada 21 Februari tidak akan ada perang di Ukraina, telah masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat (AS) sejak 2018 atas dugaan hubungannya dengan pemerintah Rusia. Dimana Ia telah mengambil tindakan hukum untuk menentangnya seperti dilansir Guardian.
Fridman menduduki peringkat ke-128 sebagai orang terkaya di dunia pada tahun 2021, menurut daftar miliarder dunia Forbes. Pria berusia 57 tahun itu mengatakan kepada staf dalam suratnya bahwa dia biasanya menghindari membuat pernyataan politik.
"Saya seorang pengusaha yang bertanggung jawab kepada ribuan karyawan saya di Rusia dan Ukraina. Namun saya yakin bahwa perang tidak akan pernah bisa menjadi jawabannya. Krisis ini akan menelan korban jiwa dan merusak dua negara yang telah menjadi saudara selama ratusan tahun," tulisnya.
"Sementara solusi tampaknya masih sangat jauh, saya hanya bisa bergabung dengan mereka yang mempunyai keinginan kuat agar pertumpahan darah berakhir."
Baca Juga: Tak Gentar Dihujani Sanksi Ekonomi, Dubes Rusia: Kami Punya Segalanya
Lihat Juga :