Stop Bisnis di Rusia, Produsen Bir Heineken Bakal Menelan Kerugian Rp6,2 Triliun
Senin, 28 Maret 2022 - 23:19 WIB
loading...
Raksasa produsen bir asal Belanda, Heineken mengatakan, telah mengambil keputusan untuk menghentikan bisnisnya di Rusia dengan kerugian ditaksir mencapai USD438 juta. Foto/Dok
A
A
A
BRUSSELS - Raksasa produsen bir asal Belanda, Heineken mengatakan, telah mengambil keputusan untuk menghentikan bisnisnya di Rusia dengan kerugian ditaksir mencapai USD438 juta atau setara Rp6,2 triliun (Kurs Rp14.316 per USD). Sebelumnya pihak perusahaan mengungkapkan, hanya akan menghentikan investasi dan ekspor ke negeri Beruang Merah.
Baca Juga: Giliran Vodka Rusia Diembargo AS, Uni Eropa dan Sekutu Lainnya Bakal Ngekor
Keputusan Heineken membuatnya bergabung dengan brand-brand terkenal Barat yang lebih dulu menutup bisnis di Rusia setelah perang Ukraina pecah. Apa yang dilakukan oleh Heineken juga diyakini memperbesar tekanan terhadap rivalnya asal Denmark, Carlsberg untuk bersikap serupa.
"Kami telah menyimpulkan bahwa kepemilikan Heineken atas bisnis di Rusia tidak lagi berkelanjutan atau layak di lingkungan saat ini," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa mereka tidak akan mendapat untung dari pengalihan kepemilikan.
Heineken sendiri merupakan pembuat bir terbesar ketiga di Rusia, di mana ia memiliki beberapa brand lokal seperti Bochkarev, Okhota dan Tri Medvedya. Dikatakan bahwa pihaknya ingin melakukan pengalihan secara bertahap, dimana operasional bisnis maish berjalan yang berangsur ada pengurangan selama masa transisi.
Langkah tersebut diterangkan perusahaan untuk meminimalkan risiko nasionalisasi. Perusahaan mengatakan, bakal menjamin gaji 1.800 karyawan Rusia hingga akhir tahun ini dan diperkirakan biaya penurunan nilai dan biaya luar biasa non-tunai lainnya sekitar mencapai 400 juta euro atau USD438 juta.
Meskipun Heineken adalah pemain utama di pasar Rusia, penjualan di sana hanya menyumbang 2% dari total perusahaan. Saham perusahaan naik 0,8% pada 88,16 euro di Amsterdam dalam sesi hari ini waktu setempat.
Baca Juga: Giliran Vodka Rusia Diembargo AS, Uni Eropa dan Sekutu Lainnya Bakal Ngekor
Keputusan Heineken membuatnya bergabung dengan brand-brand terkenal Barat yang lebih dulu menutup bisnis di Rusia setelah perang Ukraina pecah. Apa yang dilakukan oleh Heineken juga diyakini memperbesar tekanan terhadap rivalnya asal Denmark, Carlsberg untuk bersikap serupa.
"Kami telah menyimpulkan bahwa kepemilikan Heineken atas bisnis di Rusia tidak lagi berkelanjutan atau layak di lingkungan saat ini," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa mereka tidak akan mendapat untung dari pengalihan kepemilikan.
Heineken sendiri merupakan pembuat bir terbesar ketiga di Rusia, di mana ia memiliki beberapa brand lokal seperti Bochkarev, Okhota dan Tri Medvedya. Dikatakan bahwa pihaknya ingin melakukan pengalihan secara bertahap, dimana operasional bisnis maish berjalan yang berangsur ada pengurangan selama masa transisi.
Langkah tersebut diterangkan perusahaan untuk meminimalkan risiko nasionalisasi. Perusahaan mengatakan, bakal menjamin gaji 1.800 karyawan Rusia hingga akhir tahun ini dan diperkirakan biaya penurunan nilai dan biaya luar biasa non-tunai lainnya sekitar mencapai 400 juta euro atau USD438 juta.
Meskipun Heineken adalah pemain utama di pasar Rusia, penjualan di sana hanya menyumbang 2% dari total perusahaan. Saham perusahaan naik 0,8% pada 88,16 euro di Amsterdam dalam sesi hari ini waktu setempat.
Lihat Juga :