Rusia di Ambang Bencana Sosial dan Ekonomi Akibat Perang Ukraina

Selasa, 12 April 2022 - 06:07 WIB
loading...
Rusia di Ambang Bencana...
Mantan wakil menteri energi Rusia, Vladimir Milov menerangkan, kebijakan Putin akan membawa Rusia ke dalam bencana, termasuk bencana sosial dan ekonomi. Foto/Dok
A A A
MOSKOW - Pekan lalu di tengah ketegangan dengan Eropa mengenai bagaimana gas akan dibayar, Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa indikator utama kesehatan ekonomi Rusia termasuk di antaranya "penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan ketidaksetaraan, peningkatan kualitas hidup orang, ketersediaan barang dan jasa".

Angka Bank Dunia menunjukkan bahwa hampir 20 juta orang Rusia hidup dalam garis kemiskinan. Presiden Putin dalam beberapa tahun terakhir berjanji untuk mengurangi separuh dari jumlah itu.

Baca Juga: Mantan Pembantu Putin: Embargo Penuh Terhadap Minyak Rusia Bisa Hentikan Perang Ukraina

Sekarang Mantan Penasihat Ekonomi Presiden Vladimir Putin, Dr Andrei Illarionov mengatakan "kita akan melihat mungkin jumlah orang-orang (miskin) itu akan naik hingga tiga kali lipat" ketika ekonomi terus berjuang.

Lembaga think tank yang berbasis di Moskow, Pusat Penelitian Strategis memperkirakan dua juta pekerjaan bisa hilang tahun ini karena tingkat pengangguran naik dari rekor terendah.

Kekhawatiran itu disampaikan oleh Vladimir Milov, yang merupakan mantan wakil menteri energi Rusia, tetapi sekarang menjadi bagian dari partai oposisi Rusia. "Banyak orang khawatir kehilangan pekerjaan mereka, saya pikir mayoritas tidak benar-benar menyadari separah apa situasi ekonomi ," katanya.

Inflasi yang telah meningkat menjadi 15,7% karena perang, berarti kebanyakan orang bakal berhenti menghabiskan uang untuk hal-hal seperti gym dan makan di restoran dan "itu menjadi berita buruk bagi banyak usaha kecil", kata Milov.

Baca Juga: Ekonomi Rusia Mulai Retak, Begini Proyeksi Para Ekonom

Beberapa bahan makanan pokok seperti gula, bawang dan kubis telah naik harganya lebih dari 40% sejak awal tahun ini. Milov mengatakan, setiap penurunan standar hidup akan membantu perjuangan partainya sebagai oposisi.

"Kami telah menjelaskan kepada orang-orang selama ini bahwa kebijakan Putin akan membawa Rusia ke dalam bencana, termasuk bencana sosial dan ekonomi, termasuk penurunan standar hidup yang belum pernah kita lihat dalam beberapa dekade," katanya.

"Saya harus mengatakan itu datang dengan harga yang sangat tinggi. Kami lebih memilih untuk tidak melihat apa yang terjadi hari ini," paparnya.

Namun Milov, yang melarikan diri ke Lithuania tahun lalu, berpikir akan membutuhkan waktu menjatuhkan standar hidup untuk diterjemahkan ke perubahan politik.

"Rusia adalah negara dengan inersia besar dalam masyarakat, dan banyak ketakutan yang dihasut oleh pihak berwenang. Secara khusus orang-orang benar-benar sangat takut memprotes karena saat ini mereka bisa berakhir di penjara untuk waktu yang sangat lama apabila melakukan hal itu," terangnya.

Dia menambahkan: "Tapi saya akan mengatakan (bahwa dalam beberapa bulan) masalah krisis ekonomi yang belum pernah kita lihat dalam 30 tahun, itu akan mengubah suasana hati masyarakat. Lebih banyak orang akan mulai berbicara dengan keras."

Mantan penasihat Presiden Putin, Dr Andrei Illarionov, yang sekarang tinggal di Amerika Serikat mengatakan, perubahan pemerintahan tidak dapat dihindari "cepat atau lambat".

"Sama sekali tidak mungkin untuk memiliki masa depan yang positif bagi Rusia, dengan rezim politik saat ini," ucap Illarionov.

Di bawah Presiden Putin, ia menyarankan, "tidak mungkin negara itu diintegrasikan kembali ke dalam hubungan internasional, dalam ekonomi dunia".

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Rekomendasi
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Berita Terkini
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
Mengapa Harga Pertamax...
Mengapa Harga Pertamax Naik? Kemkomdigi: Karena Indonesia Tak Hidup Sendirian
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Dorong Penguatan Pendidikan...
Dorong Penguatan Pendidikan Vokasi Ganda, Endress+Hauser Gelar Education Forum 2026
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved