Saat Banyak Maskapai Mundur, Emirates Tetap Terbang ke Rusia

Selasa, 19 April 2022 - 10:35 WIB
loading...
Saat Banyak Maskapai...
Bos Emirates mengatakan, maskapai yang berpusat di Dubai, Uni Emirates Arab itu akan tetap terbang ke Rusia ketika banyak maskapai internasional telah menarik diri dari Moskow. Foto/Dok
A A A
DUBAI - Bos Emirates mengatakan, maskapai yang berpusat di Dubai, Uni Emirates Arab itu akan tetap terbang ke Rusia , kecuali pemiliknya yakni pemerintah Dubai melarangnya.

"Jika kami disuruh berhenti, kami akan berhenti, kecuali kami diberitahu sebaliknya, kami akan melanjutkan," kata Sir Tim Clarke kepada BBC.

Baca Juga: Sanksi ke Rusia Punya Konsekuensi Besar Bagi Industri Penerbangan Global

Seperti diketahui sebagian besar maskapai internasional telah menarik diri dari Rusia di tengah sanksi besar-besaran yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat sejak perang dimulai di Ukraina.

Namun Emirates menjadi salah satu dari sedikit maskapai yang masih mengoperasikan penerbangan ke Moskow dan St Petersburg.

Ketika ditanya apakah maskapai akan mempertimbangkan kembali posisinya, presiden Emirates Sir Tim mengatakan bahwa "itu bukan perintahnya" tetapi keputusan yang akan diambil oleh pemerintah Uni Emirat Arab (UEA).

Selain mengangkut penumpang, maskapai ini juga mengangkut kargo termasuk barang-barang kemanusiaan, makanan dan obat-obatan, yang tidak termasuk dalam daftar sanksi.

Sir Tim menambahkan, bahwa penting untuk menyadari bahwa penduduk Rusia mungkin tidak menjadi bagian dari perang di Ukraina.

Bahwa inti diplomatik negara lain di Moskow harus dapat berfungsi dengan bergerak masuk dan keluar dari negara tersebut. Dia berkata: "Kami melayani orang-orang yang berada di pinggiran masalah utama di sini, dan itu mungkin cara pemerintah (UEA) melihatnya."

Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah menolak seruan dari pemerintah barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Abu Dhabi juga tidak memutuskan hubungan ekonomi dengan Moskow.

Mereka menjadi salah satu dari hanya tiga negara, bersama dengan China dan India yang abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB pada Februari untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. UEA juga abstain dalam pemungutan suara Majelis Umum pada 7 April untuk menangguhkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Sebagai informasi sejak pecahnya perang Rusia Ukraina, Moskow telah menghadapi rentetan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk larangan pesawat Rusia menggunakan wilayah udara dan bandara di Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Inggris, dan Kanada.

Penerbangan internasional oleh maskapai Rusia telah sangat dibatasi karena sanksi. Maskapai nasional Aeroflot telah menangguhkan semua penerbangan internasional, kecuali untuk layanan ke ibu kota Belarus, Minsk karena sanksi.

Baca Juga: Masuk Daftar Hitam, Maskapai Rusia Haram Terbang di Langit Eropa

Sir Tim menyakini bahwa perang di Ukraina dapat menimbulkan implikasi jangka panjang bagi industri penerbangan global, terutama jika Rusia dikeluarkan oleh Barat dari ekonomi global.

"(Peran) ini akan memiliki manifestasi besar yang mungkin merugikan kedua belah pihak. Dan ini akan berdampak pada industri," katanya.

Sir Tim mengatakan, Emirates melihat permintaan yang kuat meskipun harga minyak tinggi. Maskapai ini telah membebankan biaya kenaikan bahan bakar kepada konsumen dengan menjual tiket pesawat lebih mahal. Tetap hal itu diklaim tidak memengaruhi pemesanan.

"Terlepas dari itu, orang siap membayar harga yang harus kami bayar untuk menutupi kenaikan harga bahan bakar yang sangat besar ini," kata Sir Tim.

Dia menambahkan, bahwa industri penerbangan terbiasa menghadapi harga minyak yang tinggi, tetapi Ia memperkirakan bahwa operator akan kesulitan melewati ini tanpa mendapat pukulan finansial.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Rekomendasi
Demam Piala Dunia, Patung...
Demam Piala Dunia, Patung Ikonik Yesus Sang Penebus di Brasil Diselimuti Jersey Samba
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Berita Terkini
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Tanda Tangani PKB 2026,...
Tanda Tangani PKB 2026, Menaker Titip 3 Agenda Strategis ke Jasa Raharja
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Status Pasar Modal RI...
Status Pasar Modal RI Tetap Emerging Market, Kekhawatiran Investor Hilang?
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved