4 Negara Eropa Ini Menolak Bayar Gas Rusia Pakai Rubel, Bagaimana Nasibnya?

Jum'at, 29 April 2022 - 20:37 WIB
loading...
4 Negara Eropa Ini Menolak...
Tuntutan Presiden Vladimir Putin bagi negara-negara yang mendapatkan label tidak ramah untuk membayar gas Rusia dengan rubel menjadi senjata untuk melawan sanksi Barat. Namun 4 negara eropa ini menolaknya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Tuntutan Presiden Vladimir Putin bagi negara-negara yang mendapatkan label tidak ramah untuk membayar gas Rusia dengan rubel menjadi senjata untuk melawan sanksi Barat. Kebijakan Putin terbukti membuat banyak negara Eropa kelabakan, mengingat ketergantungan mereka terhadap minyak dan gas Rusia.

Namun tidak sedikit negara-negara Eropa yang dengan tegas menolak membayar gas Rusia dengan rubel. Dipelopori oleh Amerika Serikat, Inggris yang menggaungkan embargo energi Rusia sebagai respon terhadap invasi Rusia ke Ukraina telah menekan negara Eropa lainnya untuk melakukan hal serupa.

Baca Juga: Eropa Mengecam Pemerasan Rusia Usai Stop Kirim Gas ke Polandia ke Bulgaria

Seiring dorongan dari sekutunya, beberapa negara Uni Eropa (UE) menyatakan keberatan dengan kebijakan membayar gas dengan rubel dan menolaknya. Hasilnya, Gazprom menghentikan pasokan gas ke negara-negara yang tidak mau membayar dengan Rubel.

Terbaru, perusahaan energi Rusia yang dikuasai negeri telah menutup keran pasokan gas ke Polandia dan Bulgaria. Lantas, negara mana sajakah yang menolak pembayaran gas Rusia menggunakan Rubel? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasannya.

1. Polandia

Polandia menjadi salah satu negara yang mendukung sanksi internasional atas Rusia. Sebagai sikap terhadap negara yang dianggap tak bersahabat, Vladimir Putin sendiri membuat kebijakan baru bagi para pembeli gas Rusia, termasuk Polandia untuk membayarnya dengan mata uang Rubel.

Dikutip dari The Moscow Times, menyikapi kebijakan tersebut, perusahaan energi Polandia mengatakan tidak akan membayar gas dalam rubel. “Kontraknya menetapkan alat pembayaran. Itu tidak memungkinkan ketika satu pihak merubahnya sesuai keinginannya sendiri,” ucap Kepala Perusahaan Minyak dan Gas Polandia, Pawel Majewski.

Kontrak Polandia sendiri untuk gas Rusia akan berakhir pada akhir tahun ini. Warsawa berharap dapat menghentikan ketergantungan terhadap gas Rusia dan menggantikannya dengan pengiriman gas cair di pelabuhan dan gas dari Norwegia melalui pipa Laut Baltik.

Kremlin telah bergerak cepat untuk membatasi dampak sanksi terhadap ekonomi Rusia yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah mempengaruhi segalanya mulai dari cadangan devisa bank sentral hingga McDonalds. Tak berselang lama, Gazprom menghentikan pasokan gas ke Polandia karena penolakannya membayar dalam rubel.

2. Bulgaria

Sama halnya dengan Polandia, Bulgaria juga tak setuju untuk membayar gas Rusia dalam bentuk mata uang Rubel. Terkait keamanan pasokan energi dalam negerinya, Bulgaria tetap percaya diri bisa mengganti pasokan gas Rusia dari negara lain.

Dikutip dari Alarabiya News, Perdana Menteri Assen Vassilev mengatakan, negaranya dapat mengganti sumber pasokan gas Rusia dan tidak akan menghadapi kekurangan gas di musim dingin mendatang.

Sebelumnya, Gazprom telah memotong pasokan gas ke Bulgaria dan Polandia setelah kedua negara tersebut menolak membayarnya dengan mata uang Rubel. Bulgaria sendiri mengkonsumsi sekitar 3 miliar meter kubik gas per tahunnya. Dan 90% di antaranya berasal dari Rusia.

3. Jerman

Kanselir Jerman, Olaf Scholz telah menolak permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin agar pihaknya membayar pengiriman gas Rusia dengan mata uang Rubel. Dikutip dari Newsweek, dalam konferensi pers G7, Scholz mengatakan, bahwa sudah ada kontrak tetap yang menentukan pembayaran gas dilakukan dalam Euro atau Dolar.

Dia menganggap permintaan Putin itu sebagai upaya mengembalikan nilai mata uang Rubel yang jatuh setelah invasinya ke Ukraina. Sebelumnya diketahui bahwa nilai Rubel telah anjlok.

Baca Juga: Pasokan Gas Rusia Dihentikan, Polandia Ajak Jerman Ikut Larangan Impor Energi Moskow

Namun setelah pengumuman Putin bahwa gas Rusia harus dibayar dengan Rubel membuat nilai mata uang itu naik. Seperti dilaporkan Komisi Eropa bahwa Rusia menyediakan sekitar 45% dari impor gas Uni Eropa.

Sementara itu dilaporkan NewsWeek bulan lalu bahwa membutuhkan 4.500 rubel untuk mengisi tangki gas 12 galon. Bahkan seorang ekonom menilai bahwa Putin telah membuat Rusia seperti ‘Limbah Beracun’ bagi investor asing.

4. Prancis

Sejalan dengan anggota Uni Eropa lainnya, Prancis pun menolak pembayaran gas Rusia menggunakan Rubel. Tak hanya melanggar kontrak yang sudah disepakati, Prancis juga menganggap manuver Rusia ini sama saja dengan pemerasan.

Dikutip dari France 24, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan bahwa Prancis menolak permintaan Rusia tersebut dan sedang mempersiapkan kemungkinan penghentian pengiriman gas dari Rusia. Selain itu pada sela kunjungannya ke Berlin, Le Maire juga mengaku sudah siap untuk kemungkinan tidak ada lagi gas dari Rusia.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Rekomendasi
Anggota Polri dan TNI...
Anggota Polri dan TNI Gugur saat Selamatkan Anak Tenggelam di Pantai Maluku Tenggara
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
4 Negara di Asia Tenggara...
4 Negara di Asia Tenggara yang Menjadi Sekutu Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved