Harga Minyak Tinggi, Ekonom Desak Subsidi Lebih Tepat Sasaran
Senin, 27 Juni 2022 - 16:06 WIB
loading...
Mekanisme subsidi energi, termasuk subsidi pada solar, pertalite dan LPG 3 kg dinilai perlu diperbaiki agar lebih tepat sasaran. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah dan Pertamina hingga kini masih mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan pertalite serta LPG 3 kg di tengah mahalnya harga minyak mentah global, yang kini berada di atas UD110 per barel. Sementara, sejumlah badan usaha penyalur BBM baik domestik maupun di luar negeri telah menaikkan harga jual BBM-nya mengikuti kenaikan harga minyak dunia.
Kebijakan pemerintah dan Pertamina untuk tetap menahan harga tersebut diapresiasi kalangan ekonom karena sangat membantu pemulihan konsumsi rumah tangga dan menjaga stabilitas inflasi. Namun, diakui pula bahwa kebijakan tersebut memiliki konsekuensi berupa meningkatnya beban subsidi energi dan kompensasi yang harus digelontorkan pemerintah, yang nilainya mencapai Rp500 triliun pada 2022. Terkait dengan itu, sejumlah ekonom mengatakan bahwa salah satu upaya menekan bengkaknya subsidi adalah dengan memastikan subsidi BBM dan LPG 3 kg tepat sasaran.
Baca Juga: Subsidi Pertalite Bengkak Bisa Bikin APBN Tekor, Ini Saran Ekonom
Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios)Bhima Yudhistira mengatakan, subsidi BBM dan LPG 3 kg berdampak positif terhadap konsumsi rumah tangga, khususnya kelompok 40% terbawah. Selama ini penduduk miskin dan rentan memanfaatkan subsidi BBM dan LPG sehingga terdapat disposable income yang digunakan untuk belanja kebutuhan lain.
“Kalau ada sisa belanja karena BBM-nya disubsidi, orang miskin bisa beli keperluan sekolah anak, misalnya. Ini sangat membantu menjaga daya beli terlebih saat ini ancaman dari kenaikan harga pangan terjadi," ujar Bhima di Jakarta, Senin (27/6/2022).
Kebijakan pemerintah dan Pertamina untuk tetap menahan harga tersebut diapresiasi kalangan ekonom karena sangat membantu pemulihan konsumsi rumah tangga dan menjaga stabilitas inflasi. Namun, diakui pula bahwa kebijakan tersebut memiliki konsekuensi berupa meningkatnya beban subsidi energi dan kompensasi yang harus digelontorkan pemerintah, yang nilainya mencapai Rp500 triliun pada 2022. Terkait dengan itu, sejumlah ekonom mengatakan bahwa salah satu upaya menekan bengkaknya subsidi adalah dengan memastikan subsidi BBM dan LPG 3 kg tepat sasaran.
Baca Juga: Subsidi Pertalite Bengkak Bisa Bikin APBN Tekor, Ini Saran Ekonom
Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios)Bhima Yudhistira mengatakan, subsidi BBM dan LPG 3 kg berdampak positif terhadap konsumsi rumah tangga, khususnya kelompok 40% terbawah. Selama ini penduduk miskin dan rentan memanfaatkan subsidi BBM dan LPG sehingga terdapat disposable income yang digunakan untuk belanja kebutuhan lain.
“Kalau ada sisa belanja karena BBM-nya disubsidi, orang miskin bisa beli keperluan sekolah anak, misalnya. Ini sangat membantu menjaga daya beli terlebih saat ini ancaman dari kenaikan harga pangan terjadi," ujar Bhima di Jakarta, Senin (27/6/2022).
Lihat Juga :