'Perang' dengan Covid-19, Perusahaan Harus Ubah Strategi Bisnis
Jum'at, 26 Juni 2020 - 09:28 WIB
loading...
A
A
A
Yuswohady mengatakan, dalam kondisi VUCA semacam ini, brand menjadi harta karun paling berharga yang bisa menyelamatkan dan membangun kembali brand di era kenormalan baru.
“Untuk sukses mengarungi new normal, ada tiga langkah strategis yang harus dilakukan perusahaan, bangkit (rebound), merombak total DNA dan model bisnis (reboot), kemudian terlahir kembali (reborn) menjadi brand baru yang fresh dan relevan dengan situasi baru,” ungkapnya. (Lihat videonya: Rapid Test Reaktif, Warga Isolasi Diri di Tengah Pekuburan di Sragen)
Dia menuturkan, beberapa perusahaan dengan cerdik memanfaatkan momentum untuk tumbuh semakin kuat, di antara mereka adalah perusahaan asuransi kesehatan seperti Asuransi Generali, perusahaan jamu (Acharaki Jamu), telemedicine (KlikDokter), dan logistik (Paxel).
Menurut Yuswohady, mereka benar-benar memanfaatkan momentum dengan memperluas basis pasar, meraih konsumen baru di tengah suasana pandemi ketika terjadi social distancing, mencari keamanan, dan apa yang disebut low touch economy (minimnya sentuhan fisik).
“Dalam situasi seperti sekarang, memang banyak pemilik merek yang struggling. Namun, banyak pula yang mendapatkan momentum untuk tumbuh. Persoalannya, bagaimana mereka memanfaatkan momentum ini sehingga sustainable. Ini adalah critical moment bagi sejumlah pemilik merek,” ujarnya.
“Untuk sukses mengarungi new normal, ada tiga langkah strategis yang harus dilakukan perusahaan, bangkit (rebound), merombak total DNA dan model bisnis (reboot), kemudian terlahir kembali (reborn) menjadi brand baru yang fresh dan relevan dengan situasi baru,” ungkapnya. (Lihat videonya: Rapid Test Reaktif, Warga Isolasi Diri di Tengah Pekuburan di Sragen)
Dia menuturkan, beberapa perusahaan dengan cerdik memanfaatkan momentum untuk tumbuh semakin kuat, di antara mereka adalah perusahaan asuransi kesehatan seperti Asuransi Generali, perusahaan jamu (Acharaki Jamu), telemedicine (KlikDokter), dan logistik (Paxel).
Menurut Yuswohady, mereka benar-benar memanfaatkan momentum dengan memperluas basis pasar, meraih konsumen baru di tengah suasana pandemi ketika terjadi social distancing, mencari keamanan, dan apa yang disebut low touch economy (minimnya sentuhan fisik).
“Dalam situasi seperti sekarang, memang banyak pemilik merek yang struggling. Namun, banyak pula yang mendapatkan momentum untuk tumbuh. Persoalannya, bagaimana mereka memanfaatkan momentum ini sehingga sustainable. Ini adalah critical moment bagi sejumlah pemilik merek,” ujarnya.
Lihat Juga :