Krisis Energi Eropa Semakin Mencekam, Selanjutnya Batu Bara Rusia Jadi Target

Sabtu, 16 Juli 2022 - 11:57 WIB
loading...
Krisis Energi Eropa...
Uni Eropa (UE) telah secara drastis mengurangi impor batu bara termal Rusia menjelang larangan penuh bulan depan. Hal ini memperparah kekhawatiran atas krisis energi yang semakin intensif di benua Eropa. Foto/Dok
A A A
BRUSSELS - Uni Eropa (UE) telah secara drastis mengurangi impor batu bara termal Rusia menjelang larangan penuh bulan depan. Hal ini memperparah kekhawatiran atas krisis energi yang semakin intensif di benua Eropa.

Langkah untuk membatasi ketergantungan pada bahan bakar dari Rusia menambah kekhawatiran tentang krisis energi. Tercatat hanya 1,7 juta ton batu bara Rusia terpakai untuk pembangkit listrik, yang dikirim melalui laut ke UE pada bulan Juni 2022.

Baca Juga: Hongaria Tolak Embargo Minyak Rusia, Begini Isi Proposal Uni Eropa

Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 48% dibandingkan dengan Mei 2022 ketika kekuatan barat memperpanjang sanksi mereka terhadap Moskow usai invasi ke Ukraina. Ini menandai penurunan bulanan terbesar sejak setidaknya 2019, menurut konsultan komoditas CRU.

Eropa menerima sebagian besar pasokan batu baranya melalui pelabuhan Rotterdam. Penurunan pada bulan Juni terjadi setelah tiga bulan berturut-turut mencatatkan kenaikan impor yang stabil, bahkan ketika Rusia meningkatkan serangannya di negara tetangganya tersebut.

Analis di CRU, Dmitry Popov mengatakan, perusahaan-perusahaan Eropa telah menimbun sejumlah besar batu bara Rusia menjelang larangan impor secara penuh. Ekonomi Eropa termasuk Jerman dan Austria menjadi semakin bergantung pada batu bara karena pasokan gas Rusia yang terbatas dalam beberapa bulan terakhir.

Negara-negara itu berencana untuk menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara tahun ini sebagai upaya menutupi kekurangan gas, yang berarti bahwa mengurangi impor dari Rusia kemungkinan akan meningkatkan biaya energi yang mengarah ke musim dingin.

Popov mengatakan, pembeli Eropa terus menurunkan volume di bawah kesepakatan yang ada pada bulan April dan Mei. Sedangkan beberapa di antaranya telah meminta semua volume kontrak mereka untuk dikirim lebih cepat dari jadwal sehingga mereka dapat menyimpan sebelum larangan.

"Kami mendengar tidak ada penyimpanan yang cukup untuk bijih besi karena ruang penyimpanan telah diambil oleh batu bara," kata Popov.

Batubara oleh sebagian negara Eropa dipandang sebagai solusi jangka pendek menggantikan gas Rusia untuk menyalakan pembangkit listrik. Aliran gas dari Rusia sudah turun 60% pada kapasitas standar mereka, sementara pemeliharaan yang direncanakan dari pipa Nord Stream 1 — pipa gas utama Rusia ke Jerman — yang dimulai pada 11 Juli, akan semakin membatasi pasokan.

Negara-negara seperti Jerman, Belanda, Austria, dan Prancis sedang menyiapkan pembangkit listrik tenaga batu bara mereka jika terjadi krisis energi darurat.

Baca Juga: Membongkar Fakta-fakta Siapa Saja Penadah Minyak Rusia dan Mantan Pembelinya

Namun, Komisi Eropa pada bulan April menyetujui larangan penuh impor untuk semua jenis batu bara Rusia, yang dijadwalkan mulai berlaku pada 10 Agustus. Embargo batu bara Rusia diklaim bakal merugikan Kremlin 8 miliar euro dalam pendapatan tahunan.

Dengan pembatasan penuh, UE sudah mulai mencari sumber alternatif komoditas tersebut. Sejak awal Maret, setelah invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari, blok itu mengimpor 15,8 juta ton batubara termal lintas laut dari negara-negara selain Rusia.

Terpantau ada peningkatan 45% dibandingkan dengan periode yang sama pada pra-pandemi 2019, demikian menurut Kpler, sebuah perusahaan data komoditas. Peningkatan terbesar datang dari Afrika Selatan dan Australia, seperti diperlihatkan data Kpler.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Hormuz Kuras...
Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, Industri dan Sektor Energi Perlu Dijaga Bersama
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Rekomendasi
BMKG Ungkap 5 Daerah...
BMKG Ungkap 5 Daerah Tak Diguyur Hujan Lebih Sebulan, Probolinggo Terlama
Perempuan Cantik Ini...
Perempuan Cantik Ini Tewas dalam Atraksi Lompat Jembatan 30 Meter karena Petugas Lupa Pasang Tali Pengaman
Tekuk Haiti, Timnas...
Tekuk Haiti, Timnas Skotlandia Puncaki Grup C Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved