Terbentur Pembatasan di China, Harga Minyak Melemah
Rabu, 12 Oktober 2022 - 10:40 WIB
loading...
Harga minyak dunia turun terimbas pembatasan di China. Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak mentah turun pada perdagangan Rabu (12/10/2022), di tengah kekhawatiran menurunnya permintaan bahan bakar di China dan proyeksi ekonomi suram dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Baca juga: Dilanda Aksi Jual, Harga Minyak Mentah Tergelincir
Data perdagangan hingga pukul 09:27 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Desember turun 0,99% menjadi USD93,37 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Desember merosot 1,10% sebesar USD87,00 per barel.
Penurunan pagi ini merupakan kelanjutan koreksi setelah keduanya turun 2% di sesi sebelumnya, terbebani sentimen pembatasan mobilitas di China terkait wabah Covid-19 yang tak kunjung usai. Kota-kota besar China termasuk Shanghai dan Shenzhen telah meningkatkan uji tes massal Covid-19 dan memperketat pembatasan setelah infeksi naik ke level tertinggi sejak Agustus.
"Otoritas China mengindikasikan bahwa tidak akan ada relaksasi dalam kebijakan Covid-19 mereka, yang semakin memperburuk situasi permintaan," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Rabu (12/11/2022).
Baca juga: Dilanda Aksi Jual, Harga Minyak Mentah Tergelincir
Data perdagangan hingga pukul 09:27 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Desember turun 0,99% menjadi USD93,37 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Desember merosot 1,10% sebesar USD87,00 per barel.
Penurunan pagi ini merupakan kelanjutan koreksi setelah keduanya turun 2% di sesi sebelumnya, terbebani sentimen pembatasan mobilitas di China terkait wabah Covid-19 yang tak kunjung usai. Kota-kota besar China termasuk Shanghai dan Shenzhen telah meningkatkan uji tes massal Covid-19 dan memperketat pembatasan setelah infeksi naik ke level tertinggi sejak Agustus.
"Otoritas China mengindikasikan bahwa tidak akan ada relaksasi dalam kebijakan Covid-19 mereka, yang semakin memperburuk situasi permintaan," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Rabu (12/11/2022).
Lihat Juga :