Hantu Stagflasi Bangkit Lagi? Ini Penyebab dan Dampaknya
Senin, 31 Oktober 2022 - 07:47 WIB
loading...
A
A
A
Anggaran perang Vietnam yang selangit, runtuhnya perjanjian Bretton Woods, embargo minyak Arab Saudi, merupakan beberapa faktor yang menjadi pemicu.
“Pengiriman minyak yang dihentikan pada saat itu menaikkan harga. Jadi kita memiliki lebih sedikit pasokan, sementara permintaan sama. Imbasnya, biaya hidup naik, pada saat yang sama ekonomi global menderita cukup parah,” beber Raka.
Dengan kondisi tersebut, saat itu Bank Sentral AS Federal Reserve atau The Fed secara agresif memperketat kebijakan moneter, intinya menaikkan suku bunga secara signifikan.
Langkah ini memang mampu mendinginkan ekonomi dan akhirnya inflasi turun, tetapi kenaikan suku bunga yang agresif datang dengan efek samping, resesi, dan meningkatnya pengangguran.
“Pada akhirnya ekonomi memang pulih di AS, tetapi itu sangat menyakitkan dan tentu saja ada banyak penderitaan di luar negeri juga. Banyak negara miskin, pasar negara berkembang, ekonomi berkembang, mengalami krisis utang, terutama pada 1980-an,” tutur Raka.
Baca juga: Dunia Dilanda Inflasi Kronis, Sri Mulyani: 60 Negara Terancam Krisis Utang
Penyebab Stagflasi
Seperti hantu lama yang bangkit dari masa lalu, stagflasi kembali menghantui saat ini. Terkait penyebabnya, meskipun tidak persis sama dengan stagflasi tahun 1970-an, terdapat kemiripan dalam hal ekonomi yang menukik tajam ke bawah, inflasi yang meroket, serta krisis pasokan.
Sebagaimana diketahui, perang Rusia-Ukraina telah menambah kerusakan ekonomi yang ditinggalkan oleh pandemi Covid-19 dan menarik lebih keras pada jeda pertumbuhan ekonomi.
Perang menyebabkan dunia gonjang-ganjing, salah satunya terkait ancaman krisis pangan dan energi sehubungan gangguan rantai pasok. Belum lagi harga komoditas seperti minyak mentah yang melejit dan sejumlah embargo. Lonjakan biaya bahan baku menyebabkan inflasi dan membuat orang kekurangan uang untuk dibelanjakan.
“Jadi jika Anda menggabungkan efek rebound pandemi dan perang, kenaikan dua tahun harga energi dan harga pangan, benar-benar sangat, sangat besar. Sebagai perbandingan, ini adalah kenaikan dua tahun terbesar dalam harga energi sejak tahun 1970-an dan kenaikan harga pangan dua tahun terbesar kedua,” ujar Franziska Ohnsorge, Manager of the Prospects Group Bank Dunia, dalam diskusi podcast yang sama.
Tak hanya itu, stagflasi ini juga bisa disebabkan oleh tatanan kebijakan ekonomi yang buruk. Contohnya manakala pemerintah membuat kebijakan yang merugikan industri, regulasi barang, pasar, dan tenaga kerja yang tidak baik akan membuat produksi terhambat, membiarkan uang beredar terlalu cepat, dan imbasnya harga barang meroket.
Ditambah dengan adanya pelemahan laju ekonomi di waktu bersamaan akan menimbulkan bencana yang lebih besar dari sekedar resesi maupun inflasi.
Baca juga: Sri Mulyani Curhat Pusing Hadapi Tsunami Inflasi Global
Dampak Stagflasi
Stagflasi tidak bisa ditentukan oleh ambang batas tertentu dan saat ini juga belum ada otoritas ekonomi tunggal yang secara resmi menyatakan apakah stagflasi telah terjadi, tidak seperti periode resesi.
“Pengiriman minyak yang dihentikan pada saat itu menaikkan harga. Jadi kita memiliki lebih sedikit pasokan, sementara permintaan sama. Imbasnya, biaya hidup naik, pada saat yang sama ekonomi global menderita cukup parah,” beber Raka.
Dengan kondisi tersebut, saat itu Bank Sentral AS Federal Reserve atau The Fed secara agresif memperketat kebijakan moneter, intinya menaikkan suku bunga secara signifikan.
Langkah ini memang mampu mendinginkan ekonomi dan akhirnya inflasi turun, tetapi kenaikan suku bunga yang agresif datang dengan efek samping, resesi, dan meningkatnya pengangguran.
“Pada akhirnya ekonomi memang pulih di AS, tetapi itu sangat menyakitkan dan tentu saja ada banyak penderitaan di luar negeri juga. Banyak negara miskin, pasar negara berkembang, ekonomi berkembang, mengalami krisis utang, terutama pada 1980-an,” tutur Raka.
Baca juga: Dunia Dilanda Inflasi Kronis, Sri Mulyani: 60 Negara Terancam Krisis Utang
Penyebab Stagflasi
Seperti hantu lama yang bangkit dari masa lalu, stagflasi kembali menghantui saat ini. Terkait penyebabnya, meskipun tidak persis sama dengan stagflasi tahun 1970-an, terdapat kemiripan dalam hal ekonomi yang menukik tajam ke bawah, inflasi yang meroket, serta krisis pasokan.
Sebagaimana diketahui, perang Rusia-Ukraina telah menambah kerusakan ekonomi yang ditinggalkan oleh pandemi Covid-19 dan menarik lebih keras pada jeda pertumbuhan ekonomi.
Perang menyebabkan dunia gonjang-ganjing, salah satunya terkait ancaman krisis pangan dan energi sehubungan gangguan rantai pasok. Belum lagi harga komoditas seperti minyak mentah yang melejit dan sejumlah embargo. Lonjakan biaya bahan baku menyebabkan inflasi dan membuat orang kekurangan uang untuk dibelanjakan.
“Jadi jika Anda menggabungkan efek rebound pandemi dan perang, kenaikan dua tahun harga energi dan harga pangan, benar-benar sangat, sangat besar. Sebagai perbandingan, ini adalah kenaikan dua tahun terbesar dalam harga energi sejak tahun 1970-an dan kenaikan harga pangan dua tahun terbesar kedua,” ujar Franziska Ohnsorge, Manager of the Prospects Group Bank Dunia, dalam diskusi podcast yang sama.
Tak hanya itu, stagflasi ini juga bisa disebabkan oleh tatanan kebijakan ekonomi yang buruk. Contohnya manakala pemerintah membuat kebijakan yang merugikan industri, regulasi barang, pasar, dan tenaga kerja yang tidak baik akan membuat produksi terhambat, membiarkan uang beredar terlalu cepat, dan imbasnya harga barang meroket.
Ditambah dengan adanya pelemahan laju ekonomi di waktu bersamaan akan menimbulkan bencana yang lebih besar dari sekedar resesi maupun inflasi.
Baca juga: Sri Mulyani Curhat Pusing Hadapi Tsunami Inflasi Global
Dampak Stagflasi
Stagflasi tidak bisa ditentukan oleh ambang batas tertentu dan saat ini juga belum ada otoritas ekonomi tunggal yang secara resmi menyatakan apakah stagflasi telah terjadi, tidak seperti periode resesi.
Lihat Juga :