Dunia Dilanda Inflasi Kronis, Sri Mulyani: 60 Negara Terancam Krisis Utang
Rabu, 26 Oktober 2022 - 23:39 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan sebanyak 60 negara terancam krisis utang. Hal ini imbas gejolak inflasi di perekonomian global yang semakin kronis.
"Sebanyak 60 negara terancam krisis utang, sebelumnya sudah terlihat contohnya, yaitu Sri Lanka. Ada 60 negara sudah terjebak dalam debt distress, atau kondisi keuangannya dinilai sudah bisa memicu krisis utang, bahkan krisis ekonomi," ujar Sri dalam acara Leaders Talk Series 2 bertajuk Indonesia Energy Investment Landscape secara virtual, Rabu (26/10/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani: Dunia Idap Inflasi Kronis Terburuk dalam 40 Tahun
Menurut dia meski menunjukkan pemulihan cepat dari pandemi Covid-19, dunia belum sepenuhnya pulih secara merata, dan dihantam tekanan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina. Perang ini kemudian memicu lonjakan harga komoditas, yang kemudian mendorong kenaikan inflasi, krisis energi, hingga pangan.
"Dengan pemulihan ekonomi yang sangat cepat, dunia dihadapkan masalah supply chain yang tidak mampu mengikuti permintaan, kemudian muncul tekanan harga-harga atau inflasi yang diperparah dengan terjadinya perang saat ini," kata dia.
"Sebanyak 60 negara terancam krisis utang, sebelumnya sudah terlihat contohnya, yaitu Sri Lanka. Ada 60 negara sudah terjebak dalam debt distress, atau kondisi keuangannya dinilai sudah bisa memicu krisis utang, bahkan krisis ekonomi," ujar Sri dalam acara Leaders Talk Series 2 bertajuk Indonesia Energy Investment Landscape secara virtual, Rabu (26/10/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani: Dunia Idap Inflasi Kronis Terburuk dalam 40 Tahun
Menurut dia meski menunjukkan pemulihan cepat dari pandemi Covid-19, dunia belum sepenuhnya pulih secara merata, dan dihantam tekanan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina. Perang ini kemudian memicu lonjakan harga komoditas, yang kemudian mendorong kenaikan inflasi, krisis energi, hingga pangan.
"Dengan pemulihan ekonomi yang sangat cepat, dunia dihadapkan masalah supply chain yang tidak mampu mengikuti permintaan, kemudian muncul tekanan harga-harga atau inflasi yang diperparah dengan terjadinya perang saat ini," kata dia.
Lihat Juga :