Seskab: Perpres Kilang Sudah di Tangan Jokowi

Senin, 21 Desember 2015 - 19:16 WIB
Seskab: Perpres Kilang...
Seskab: Perpres Kilang Sudah di Tangan Jokowi
A A A
JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menyatakan peraturan presiden (perpres) tentang percepatan pembangunan kilang minyak di dalam negeri kini telah di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perpres tersebut tinggal menunggu pengesahan hingga akhirnya dikeluarkan nanti.

(Baca Juga: Dorong Kilang Dalam Negeri, Ini Tiga Poin Kebijakan Ekonomi VIII)

Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membangun ketahanan energi, melalui percepatan pembangunan kilang yang menjadi salah satu poin dalam paket kebijakan ekonomi jilid VIII.

"Perpres (pembangunan kilang) sudah disiapkan. Sudah naik ke bapak presiden," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Dia juga menambahkan saat ini Indonesia memiliki empat kilang minyak dengan total kapasitas 900.000 barel per hari (bph). Dia berharap dengan dikeluarkannya perpres tersebut akan dapat merealisasikan pembangunan kilang minimal dua unit.

"Lifting kita juga kurang lebih seperti itu, maka dengan adanya paket kebijakan ini diharapkan dalam waktu dekat akan bisa dibangun dua atau maksimum, bukan maksimum, dua, tiga dan seterusnya," imbuh dia.

Politisi PDI-Perjuangan ini menambahkan, dua kilang yang akan menjadi prioritas pemerintah untuk dapat segera dibangun terdapat di Bontang, Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur. Dua kilang ini diharapkan dapat menambah kapasitas kilang minyak yang ada di dalam negeri.

"Tapi paling utama adalah dua kilang yang akan dipersiapkan. Pertama adalah di Bontang, yang kedua di Tuban," ungkap Pramono.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa pelaksanaan pembangunan kilang di dalam negeri harus diintegrasikan dengan petrokimia. Pasalnya, profit yang akan diperoleh industri kilang minyak tidak terlalu besar lantaran teknologi sudah sampai pada titik puncaknya.

"Supaya lebih menarik, dia perlu dikombinasikan dengan industri petrokimia yang pasti akan lebih menarik dari profitabilitas," tutur Darmin.

Selain itu, negara berkembang seperti Indonesia juga memerlukan beberapa hasil industri agar menjaga supaya transaksi berjalan tidak cepat defisit. "Salah satu hasil industri yang sangat diperlukan itu hasil petrokimia. Oleh karena itu kalau bisa dipasangkan dengan pembangunan kilang, kita akan capai dua langkah dengan satu kebijakan," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Lifting Minyak Saban...
Lifting Minyak Saban Tahun Turun Dianggap Wajar, Ini 5 Penyebabnya
Pertamina Beberkan Pentingnya...
Pertamina Beberkan Pentingnya Membangun Kilang Minyak Baru di Tanah Air
34 Tahun Tanpa Kilang...
34 Tahun Tanpa Kilang Minyak Baru di Indonesia, Dua Faktor Ini Penyebabnya
Industri Hulu Migas...
Industri Hulu Migas Terus Ngegas Demi Ketahanan Energi
Penurunan Harga Gas...
Penurunan Harga Gas Berpotensi Langgar UU Migas
9 Usulan Stimulus SKK...
9 Usulan Stimulus SKK Migas Demi Selamatkan Bisnis Hulu Migas
Berita Terkini
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
9 menit yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
19 menit yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
21 menit yang lalu
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
39 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
1 jam yang lalu
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
1 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved