Pemerintah Akan Coba Terapkan Money Follow Program Tahun Depan

Selasa, 19 Juli 2016 - 13:11 WIB
Pemerintah Akan Coba...
Pemerintah Akan Coba Terapkan Money Follow Program Tahun Depan
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, tahun depan pemerintah akan mencoba menerapkan Money Follow Program (penempatan dana di program prioritas kementerian dan lembaga/K/L). Langkah ini memiliki tantangan tersendiri dari masing-masing K/L.

Money follow program merupakan pendekatan penganggaran yang lebih fokus pada program atau kegiatan yang terkait langsung dengan prioritas nasional serta memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Dengan money follow program, belanja tidak lagi dibagi secara merata kepada setiap tugas dan fungsi (money follow function).

"Tantangan untuk money follow program ini paling besar dari K/L terkait. Kami coba di 2017 supaya ide ini dilakukan. Kalau tidak, tunggu satu tahun lagi, jadi ini jawaban apakah money follow program akan dilakukan 2017," katanya di ruang rapat komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa (19/7/2016).

Menurunya, jika dirinci dibanding APBN 2015, alokasi belanja K/L dalam pagu indikatif 2017 lebih rendah Rp14,8 triliun, yakni Rp769,3 triliun. Sedangkan tahun ini sebesar Rp784,1 triliun.

Di dalam penurunan pagu tersebut, belanja nonoperasional turun lebih besar yaitu Rp31,5 triliun dikarenakan adanya kenaikan belanja operasional yang sebesar Rp16,6 triliun.

"Penganggaran money follow program ini mendukung pendekatan penyusunan rencana kerja pemerintah (RKP) 2017, yaitu menuju ke perencanaan yang holistik, tematik, terintegrasi, dan spesial," imbuh Bambang.

Menkeu mengatakan, di dalam kondisi penurunan belanja K/L, money follow program diimplementasikan dengan cara mengamankan alokasi pada prioritas, relokasi dari program kegiatan yang telah cukup mendapat penekanan pada tahun-tahun sebelumnya, serta efisiensi program atau kegiatan nonprioritas.

Dengan demikian, penurunan belanja K/L tidak terjadi pada semua K/L secara merata, namun terdapat K/L yang tetap mendapat kenaikan, sesuai prioritas, arahan perundangan dan kewajiban yang terdapat di dalamnya atau kontrak tahun jamak.

"Ini sudah tercermin dari postur K/L di dalam pagu indikatif 2017 yakni 20 K/L alokasinya naik, kemudian delapan K/L alokasinya tetap, dan 59 K/L alokasinya turun," tutup dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kemenkeu Ungkap Alasan...
Kemenkeu Ungkap Alasan Pembekuan Anggaran Kementerian Rp50,2 Triliun
Kemenkeu Ajukan Tambahan...
Kemenkeu Ajukan Tambahan Anggaran Rp43,307 T di 2021, Buat Apa?
Kemenkeu Perpanjang...
Kemenkeu Perpanjang Alokasi Anggaran Corona Sampai 2021
Kemenkeu Puji Komitmen...
Kemenkeu Puji Komitmen Jabar Soal Realisasi DAK Fisik Kesehatan Corona
Sri Mulyani Mohon Maaf...
Sri Mulyani Mohon Maaf Tak Ada Snack Saat Rapat Imbas Hemat Anggaran
Sah! Anggaran Kementerian...
Sah! Anggaran Kementerian Keuangan Dipangkas Rp8,9 Triliun
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
1 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
1 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
2 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
4 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
4 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
5 jam yang lalu
Infografis
Penyebab 85 Juta Pekerjaan...
Penyebab 85 Juta Pekerjaan yang Terancam Musnah Tahun Depan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved