Kendati Melemah, Importir Sebut Nilai Tukar Rupiah Masih Aman

Jum'at, 13 Oktober 2017 - 20:32 WIB
Kendati Melemah, Importir...
Kendati Melemah, Importir Sebut Nilai Tukar Rupiah Masih Aman
A A A
JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini disebut belum banyak berpengaruh terhadap pengusaha barang-barang impor. Para importir lebih mengkhawatirkan jika terjadi ketidakstabilan atas nilai tukar.

Sekretaris Badan Pengurus Pusat (BPP) Gabungan lmportir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Erwin Topan mengungkapkan, bagi importir nilai tukar rupiah di kisaran Rp13.500 per dolar AS (USD) seperti saat ini belum begitu memberatkan. Terlebih, imbuh dia, turunnya daya beli masyarakat juga membuat para importir mengurangi kegiatan importasinya.

"Kita sama-sama paham saat ini daya beli menurun sehingga tingkat konsumsi juga turun. Otomatis impor barang-barang juga mengalami penurunan," ungkapnya di sela acara pelantikan BPP GINSI di Hotel Sari Pan Pasifik Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Menurut dia, volume kontainer barang yang masuk ke pelabuhan saat ini mengalami penurunan, khususnya untuk barang konsumtif. "Seperti barang-barang fashion dan lainnya, tapi (penurunan) bukan karena kurs," tegasnya lagi.

Kendati demikian, Topan mengakui, bagi industri yang bahan bakunya berasal dari impor, pelemahan rupiah akan sangat berpengaruh. Namun, dia memastikan para pengusaha rata-rata sudah membuat langkah antisipasi untuk mengatasi pelemahan nilai tukar.

Lebih lanjut, Topan mengatakan, para importir lebih mengkhawatirkan jika nilai tukar rupiah berfluktuasi alias tidak stabil. "Jadi bukan seperti saat ini. Kalau pun misalnya melemah hingga ke level Rp14.000 per USD tetapi stabil tidak masalah. Kalau tidak stabil itu baru pengaruhnya kuat," pungkasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
GINSI Apresiasi Inpres...
GINSI Apresiasi Inpres Pembenahan Logistik dan Pengetatan Impor
GINSI Dukung Sikap Kemenperin...
GINSI Dukung Sikap Kemenperin Soal Importasi Baja
Produksi Baja Nasional...
Produksi Baja Nasional Belum Mampu Imbangi Kebutuhan Industri Pengguna
Tak Ada Faedah, GINSI...
Tak Ada Faedah, GINSI Tolak Biaya Survei Peti Kemas di Depo Empty
Jaga Pasokan Saat Libur...
Jaga Pasokan Saat Libur Nataru, Importir: Pembatasan Logistik Jangan Beratkan Industri
Banjir Impor Kosmetik...
Banjir Impor Kosmetik Ilegal, GINSI: Bikin Hancur Industri Lokal!
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
4 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
4 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
5 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
5 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
5 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
7 jam yang lalu
Infografis
Daftar Nilai Rerata...
Daftar Nilai Rerata TKA 2025 Tiap Provinsi, Yogyakarta Tertinggi untuk Skor Matematika
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved