Belanja Pemerintah Naik 9,4% di 2020, Sri Mulyani Tetap Berpegang Efisiensi

Sabtu, 17 Agustus 2019 - 06:37 WIB
Belanja Pemerintah Naik...
Belanja Pemerintah Naik 9,4% di 2020, Sri Mulyani Tetap Berpegang Efisiensi
A A A
JAKARTA - Dalam RAPBN 2020, tercatat bahwa belanja pemerintah pusat tercatat naik sebesar 9,4% dibandingkan 4,9% di Outlook 2019. Belanja pemerintah sebesar Rp1,670 triliun tersebut terdiri dari belanja K/L sebesar Rp884,6 triliun dan belanja non K/L sebesar Rp785,4 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia Sri Mulyani mengutarakan, bahwa belanja pemerintah pusat ini akan berpegang pada prinsip efisiensi dan sinergi. "Efisiensi berarti spending melalui penajaman belanja barang, penguatan belanja modal, dan efektivitas bansos. Disini kami akan melakukan sinergi melalui koordinasi program-program strategis lintas K/L baik itu vokasi, penguatan destinasi wisata, dan penelitian," ujar Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Jumat 16/8/2019).

Sambung Menkeu menjelaskan, bahwa belanja pemerintah pusat ini fokus utamanya untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dengan KIP Kuliah, Kartu Sembako, dan Kartu Prakerja sesuai janji Presiden RI Joko Widodo dalam kampanyenya yang lalu. Selain itu, dananya akan diarahkan pada pemerataan pembangunan antar wilayah dan perbaikan kualitas kesehatan.

"Nantinya kami juga akan arahkan dana ini untuk percepatan pengembangan 4 destinasi wisata super prioritas, antara lain Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Borobudur. Tidak terlepas juga tujuan dana untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha," lanjut Sri.

Ia menambahkan, bahwa belanja K/L naik karena beberapa alasan, antara lain pelaksanaan program baru seperti KIP Kuliah dan Kartu Sembako, revitalisasi pendidikan vokasi (SMK dan BLK), percepatan penyelesaian pembangunan infrastruktur, pengembangan destinasi pariwisata prioritas, dan pelaksanaan sensus penduduk. Melalui belanja pemerintah pusat ini, pemerintah targetkan birokrasi yang efisien, melayani, berbasis kemajuan ICT, dan bebas korupsi.

"Kami juga akan mengantisipasi ketidakpastian di sektor ekonomi, keamanan dan politik, terlebih lagi kami juga akan anggarkan untuk mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, dan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Perlu juga adanya penguatan fiscal buffer untuk fleksibilitas dan sustainabilitas," tuturnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Banggar DPR Setujui...
Banggar DPR Setujui Postur Terbaru RAPBN 2026, Belanja Negara Naik Rp56,2 Triliun
Ekonom Indef Sebut RAPBN...
Ekonom Indef Sebut RAPBN 2021 Aneh dan Tidak Kokoh, Kok?
Sah! RAPBN 2023 Jadi...
Sah! RAPBN 2023 Jadi Undang-undang: Belanja Negara Tembus Rp3.000 Triliun
Belanja Rp2.747 Triliun...
Belanja Rp2.747 Triliun Jadi Senjata Sri Mulyani Kerek Pertumbuhan Ekonomi
Alokasi Dana Pendidikan...
Alokasi Dana Pendidikan dalam RAPBN 2021 Harus Sentuh Pesantren Demi Pemerataan
APBN 2026 Disetujui...
APBN 2026 Disetujui DPR, Belanja Negara Tembus Rp3.842,72 Triliun
Berita Terkini
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
6 menit yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
17 menit yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
19 menit yang lalu
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
37 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
1 jam yang lalu
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
1 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Bocorkan...
Pemerintah Bocorkan Soal Potensi Harga BBM Naik per 1 Juli Nanti
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved