Pemerintah Diminta Kurangi Subsidi BBM

Jum'at, 13 Juni 2014 - 19:00 WIB
Pemerintah Diminta Kurangi...
Pemerintah Diminta Kurangi Subsidi BBM
A A A
JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) mendesak pemerintah agar mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan memberikan bantuan tanpa menurunkan alokasi anggaran.

Anggota DEN Tumiran mengatakan, subsidi energi bisa dialihkan dengan bentuk lain tanpa menurunkan alokasi anggaran.

"Kami berpikir rasionalitas. Jadi memang seharusnnya subsidi dikurangi. Misalnya untuk BBM dipatok Rp200 triliun dan Rp150 triliun bagi listrik. Kemudian ini bisa dimainkan dengan menaikturunkan harga jual BBM subsidi dan listrik," ujar Tumiran di Jakarta, Jumat (13/6/2014).

Menurutnya, dengan alokasi subsidi energi yang tersisa, pemerintah bisa mengupayakan infrastruktur penunjang sektor energi seperti penambahan pembangkit listrik dan kilang minyak.

Otomatis fokus pemerintah tak lagi berpusat pada subsidi energi masyarakat semata, tapi memperhatikan aspek ketahanan energi nasional.

"Bangun kilang itu dananya sekitar Rp100 triliun ketimbang alokasikan BBM bersubsidi yang bisa tembus Rp300 triliun. Kemudian pemerintah juga upayakan dana subsidi yang tersisa untuk membangun pembangkit hingga 5.000 mega watt (mw)," katanya.

Tanpa memperhatikan kondisi itu, pihaknya mengkhawatirkan beban subsidi ke anggaran negara akan di luar penguasaan pemerintah.

Hingga kini, kebutuhan produk BBM cukup timpang dengan produksi minyak mentah nasional. Tumiran menjabarkan, produksi minyak mentah nasional sekitar 800 ribu barel per hari (bph), dengan kebutuhan yang mencapai 1,45 juta bph.

Ditambah pula jatah minyak production sharing contract (PSC) membuat kepemilikan negara akan produksi minyak hanya sekitar 500 ribu bph.

"Jadi kalau diasumsikan ke minyak mentah, kita impornya itu sekitar 900 ribu bph. Padahal, kalau kita bisa bangun kilang minyak kita tak perlu mengimpor produk BBM," ucapnya.

Dia juga meminta pemerintah agar energi tidak menjadi komoditas ekspor atau ladang bisnis. Produksi gas yang selama ini diproduksi negara tidak seharusnya diekspor.

"Energi harus dimanfaatkan bagi pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan energi nasional," katanya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tak Tepat Sasaran, Hanya...
Tak Tepat Sasaran, Hanya 40 Persen Masyarakat Tak Mampu Penerima Subsidi BBM
Menilik Urgensi Reformasi...
Menilik Urgensi Reformasi Subsidi BBM, Jangan Lupakan 2 Hal Ini
Subsidi BBM Jadi Beban...
Subsidi BBM Jadi Beban APBN, Legislator: Harus Cari Cara Tepat Sasaran
Pengamat: Subsidi Langsung...
Pengamat: Subsidi Langsung Jadi Solusi Masalah Penyaluran BBM
Kuota BBM Subsidi Tahun...
Kuota BBM Subsidi Tahun Depan Disepakati, Ini Rinciannya
DPR Usul Sistem Pemberian...
DPR Usul Sistem Pemberian Subsidi BBM Diubah
Berita Terkini
Sistem Payment Gateway...
Sistem Payment Gateway Revolusioner untuk UMKM & Startup Dirilis, Jaminan Uptime 99,95%
1 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh Aktivitas Seru, Edukatif, dan Bermakna Bersama Paramount Gading Serpong
1 jam yang lalu
Perang Iran Picu Guncangan...
Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979
2 jam yang lalu
Pertamina Jamin Stok...
Pertamina Jamin Stok LPG di Surabaya Aman
2 jam yang lalu
Tol Prambanan-Purwomartani...
Tol Prambanan-Purwomartani Siap Beroperasi Mudik Lebaran 2027
2 jam yang lalu
Amran Klaim Teknologi...
Amran Klaim Teknologi Pertanian Papua Setara dengan Jepang dan AS
4 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved