Kurs Rupiah Ditutup Perkasa Hari Ini ke Rp15.660/USD, Pengaruh The Fed Masih Terasa
Jum'at, 02 Februari 2024 - 17:17 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga perdagangan sore ini, Jumat (2/2/2024) ditutup menguat 104 poin. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga perdagangan sore ini, Jumat (2/2/2024) ditutup menguat 104 poin ke level Rp15.660 per USD. Sebelumnya kurs rupiah sempat melemah pada posisi Rp15.764 per dolar AS.
Baca Juga: BI Ungkap Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Fundamental Rupiah
Tren penguatan mata uang rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana hari ini bertengger di posisi Rp15.688/USD. Raihan tersebut terpantau lebih kuat dari sesi kemarin Rp15.775 per USD.
Baca Juga: Diterpa Angin The Fed, Kurs Rupiah Hari Ini Jadi Rp15.764/USD
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah karena setelah Federal Reserve alias the Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil dan menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Maret.
“Namun Ketua Fed Jerome Powell memberikan catatan yang agak optimis terhadap perekonomian AS, yang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang berbasis risiko meskipun ada prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: BI Ungkap Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Fundamental Rupiah
Tren penguatan mata uang rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana hari ini bertengger di posisi Rp15.688/USD. Raihan tersebut terpantau lebih kuat dari sesi kemarin Rp15.775 per USD.
Baca Juga: Diterpa Angin The Fed, Kurs Rupiah Hari Ini Jadi Rp15.764/USD
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah karena setelah Federal Reserve alias the Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil dan menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Maret.
“Namun Ketua Fed Jerome Powell memberikan catatan yang agak optimis terhadap perekonomian AS, yang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang berbasis risiko meskipun ada prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Lihat Juga :