Perlu Dukungan Ketersediaan Sinyal Agar UKM Terus Bertumbuh

Jum'at, 26 Februari 2021 - 23:26 WIB
Perlu Melibatkan Pihak Swasta

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology Institute (ICT Institute) Heru Sutadi mengatakan, meskipun infrastruktur Palapa Ring sudah dikembangkan, namun di beberapa wilayah masyarakat masih terkendala mengakses jaringan internet. Hal ini terjadi karena belum dibangun backhaul dan akses dari Palapa Ring ke area penduduk. Padahal, dengan adanya backhaul penyedia layanan internet akan lebih cepat melakukan adopsi infrastruktur. ’’Masih ada kendala di infrastruktur backhaul- nya, sehingga masih ada daerah yang belum bisa menikmati jaringan maupun akses internet secara maksimal,’’tegasnya Jumat (26/2/2020).

Dia menilai, pengembangan jaringan, termasuk jaringan 5G harus didukung oleh infrastruktur yang solid. Terutama ketersediaan menara telekomunikasi atau BTS dengan jumlah yang banyak. Karena jangkauan wilayahnya terbatas, maka yang dibutuhkan bukan hanya menara makrosel, tetapi juga menara mikrosel dan pikosel. Dengan baiknya kualitas jaringan, maka akan tercipta pusat-pusat ekonomi baru. Juga akan mengakselerasi UKM yang sudah ada untuk memanfaatkan secara maksimal akses digital. Sehingga UKM di daerah tak lagi terhambat oleh sinyal seluler maupun akses internet, dan bisa melakukan perluasan pasar. ’’Apabila anggaran pemerintah terbatas, tentu bisa melibatkan stakeholder lain. Seperti operator seluler maupun perusahaan penyedia menara telekomunikasi,’’ujarnya.

Salah satu perusahaan jasa pendukung telekomunikasi termasuk penyewaan dan pemeliharaan BTS yang siap mendukung upaya pemerintah dalam menghadirkan merdeka sinyal bagi masyarakat Indonesia yakni PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG). Perusahaan ini agresif membangun tower seluler sesuai pesanan dari operator hingga ke daerah 3 T.

Bahkan, perusahaan tersebut melalui anak usahanya yakni PT Tower Bersama (TB) merencanakan untuk membeli 3.000 menara telekomunikasi. Mengutip keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen TBIG, perjanjian jual beli telah dilakukan pada akhir 2020 lalu. Dalam paparan publik virtual beberapa waktu lalu Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso mengungkapkan, hingga akhir semester I 2020, TBIG memiliki 15.893 site telekomunikasi. Terdiri dari 15.772 menara telekomunikasi dan 121 jaringan DAS (Distributed Antenna System).

Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 30.918, rasio kolokasi (tenancy ratio) perusahaan infrastruktur ini menjadi 1,96, naik dari 1,85 di akhir 2019. Dukungan untuk menghadirkan merdeka sinyal terus dilakukan perusahaan ini meski masih dalam suasana pandemi. Bahkan, selama pandemi Covid-19, TBIG terus membantu pelanggan telekomunikasi dalam memperluas jaringan mereka. Saat ini, penyebaran jaringan tower TBIG berada di Jawa dan Bali (57%). Kemudian Sumatera (27%), Kalimantan (7%), dan Indonesia Timur (9%).

Selain menghadirkan merdeka sinyal, TBIG juga memiliki komitmen mendukung dan mengakselerasi ekonomi digital Indonesia melalui infrastruktur information communication and technology (ICT). Salah satunya yakni mengembangkan kota cerdas (smart city) dengan menggandeng pemerintah daerah. Teknologi digital yang akan diaplikasikan di smart city ini yakni smart governance, smart people, smart living, smart mobility, smart economy, dan smart environment.
(ton)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!