Perum Bulog Andil Topang Sulsel Jadi Penyangga Pangan Nasional

Senin, 19 April 2021 - 12:26 WIB
“Untuk beras saya yakin optimis target saya akan tercapai karena target saya tahun ini 303.000 ton dan posisi sekarang sudah mencapai 125.000 ton artinya untuk target sampai dengan satu tahun ini, tapi untuk bulan April kita sudah 125%. Sehari pemasukan 4.000-5.000 ton lagi puncak panen April ini,” optimisnya.

Saat ini kata dia, sedang panen Kabupaten Maros, Barru, Sidrap, Pinrang, Wajo, dan Bone. Semuanya merata di bulan April. Puncaknya diperkirakan minggu kedua sampai akhir April.

“Nanti terakhir di sana di Palopo. Sepanjang tahun, nanti nyambung dia makanya gak pernah ada harga jatuh di Sulsel. Saya juga gak pernah dengar harga jatuh tahun lalu juga. Inikan musim rende, nanti terakhirnya Palopo, bulan Oktober nanti panen juga Sidrap, Polman nanti terakhirnya di Palopo lagi. Makanya saya bilang panen sepanjang tahun di sini. Pengalaman saya di Sulsel ini beda dengan daerah lain, beda di Jawa rende sudah dua kali makanya harganya agak anjlok di Jawa,” ujarnya.

Baca juga: Stok Beras Dipastikan Aman, Hari Ini Tembus 1 Juta Ton

Di sisi lain, Eko Pranoto menyatakan, jika posisi Bulog dominan menyerap beras petani, meski demikian juga ada pangan pokok lainnya diserap tapi tidak terlalu besar seperti beras. Seperti pangan gula, yang memang tidak hanya Bulog , ada juga kompetitor.

“Posisi kami hanya menyampaikan harga dengan operasi pasar. Dan tahun ini juga kami sudah bekerja sama dengan dinas kota untuk melakukan pasar murah menjelang Ramadan. Seperti, kami telah melakukan pasar murah di 15 titik kelurahan yang kita datangi untuk melakukan Pasar Murah dan responsnya sangat baik di masyarakat,” terangnya.

Kontak Tani Nelayan Mitra Bulog

Ketua Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) Sulselm Andi Muhammad Yunus mengungkapkan, jika memang Sulsel adalah penyangga pangan utamanya padi.



Seorang petani di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan memisahkan bulir padi dari tangkainya secara manual. Foto: SINDOnews/Maman Sukirman

“Padi itu untuk daerah Sulawesi Selatan tiada hari tanpa tanam dan tiada hari tanpa panen begitu istilahnya dan itu kenyataan yang ada di lapangan. Misalnya sektor barat, Sulawesi Selatan bagian barat tanam otomatis sektor timur itu panen, begitu pula sektor utara dan banyak pangan-pangan yang bisa mendukung seperti umbi-umbian dan sebagainya. Menurut prakiraan saya tidak ada hentinya, bahkan kami dari petani Sulawesi Selatan itu bisa dikatakan bahwa yang terhebat dan terbanyak itu produksinya adalah Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Baca juga: Mentan Minta Bulog Serap Gabah Petani Cegah Harga Anjlok

Dia menyebutkan, jika rata-rat produksi per hektare sawah mencapai 9 ton per hektare, dengan distribusi besar ke tujuh hingga delapan provinsi utamanya sektor timur. Bahkan sudah ke Kalimantan bahkan sampai ke Jawa. Sektor timur itu seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

“Peran Bulog menyerap hasil panen petani sudah dilakukan dengan baik, hanya saja perlu diperhatikan penerapan HPP agar tidak menjadi kompetitor sektor swasta yang menyebabkan petani berpaling ke Bulog ,” ungkapnya.

Yunus merinci, saat ini anggota KTNA mencapai 47.000 tergabung dalam gabungan kelompok tani atau gapoktan, dengan satu gapoktan terdiri dari 25-30 petani.

Baca juga: Panen Raya di Maros, Bulog dan Kostraling Sinergi Serap Gabah

“Sangat disyukuri musim panen sepanjang tahun menyebabkan stok beras aman, dan pendapatan petani dapat terjaga baik bisa mencapai Rp5 juta ke atas sekali panen. Bahkan, kalau sebelum pandemi diatasnya itu, tapi untuk rata-rata sekarang ya seperti itu,” paparnya.

Dengan kondisi tersebut, ke depan KTNA berharap Bulog semakin memaksimalkan sinerginya agar tercipta saling mendukung antarlembaga utamanya dalam menyerap hasil panen petani.
(luq)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!