Dampak Pandemi Corona, Waspadai Neraca Dagang Semester II

Kamis, 16 Juli 2020 - 09:06 WIB
loading...
Dampak Pandemi Corona,...
Kinerja perdagangan Mei dan Juni 2020 menunjukkan angka yang menggembirakan. Foto/dok
A A A
JAKARTA - Kinerja perdagangan Mei dan Juni 2020 menunjukkan angka yang menggembirakan. Di tengah lesunya perekonomian sebagai dampak pandemi Covid-19, kinerja perdagangan justru mengalami surplus.

Sebagaimana dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Juni 2020 mengalami surplus USD1,27 miliar dengan nilai ekspor USD12,03 miliar dan impor USD10,76 miliar. Neraca perdagangan Juni 2020 ini menggembirakan karena baik ekspor maupun impornya sama-sama tumbuh.

Moncernya kinerja perdagangan itu tak hanya terlihat di dua bulan tersebut, namun juga secara agregat di semester I/2020. Pada paruh pertama tahun ini BPS mencatat terjadi surplus USD5,5 miliar. Angka tersebut lebih baik dari neraca perdagangan pada periode yang sama 2019 yang defisit USD1,93 miliar.

BPS mencatat kinerja di Juni 2020 ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas yang mencapai USD580 juta miliar atau naik 3,8% dari bulan sebelumnya. Sementara ekspor nonmigas USD11,45 miliar atau meningkat 15,73%.

Peningkatan nilai ekspor migas terjadi karena harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) naik 42,9% menjadi 36,6 per barel pada Juni 2020. Peningkatan ekspor nonmigas disumbang ekspor industri pertanian 18,99% menjadi USD280 juta, industri pengolahan naik 15,96% menjadi USD9,6 miliar, dan industri pertambangan 13,69% menjadi USD1,51 miliar. (Baca: Gegara yang Lain Sukses, Garuda Latah Tuntut Ganti Rugi ke Airbus)

Namun, apakah catatan positif tersebut akan terus berlanjut di bulan-bulan selanjutnya? Harapannya memang begitu. Tapi kondisi itu bisa saja berbalik pada semester II/2020.

Alasannya, pada bulan Juni ada indikasi kenaikan impor bahan baku dan barang modal 24% dan 27,3% secara bulanan (mtm). Kondisi ini menandakan adanya harapan industri mulai berproduksi untuk persiapan tiga bulan ke depan. “Setidaknya ini untuk mengantisipasi pemulihan yang bertahap di dalam negeri,” ungkap Ekonom Indef Bhima Yudhistira saat dihubungi di Jakarta kemarin.

Kenaikan impor bahan baku tersebut memang menggembirakan karena ini menandakan industri pengolahan mulai menggeliat. Sayangnya, kenaikan impor bahan baku tersebut tidak dibarengi impor bahan baku yang akan dijadikan produk untuk tujuan ekspor. “Antara angka kenaikan impor bahan baku, barang modal dengan kinerja ekspor nonmigas masih terdapat gap. Ekspor nonmigas tercatat naik 15,7% lebih rendah dari kenaikan impor bahan baku,” bebernya. (Baca juga: Neraca Dagang Surplus, Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Bangkit di Kuartal III/2020)

Bhima memperkirakan hingga akhir tahun recovery kinerja ekspor masih berjalan lamban. Indikasinya adalah negara-negara tujuan ekspor utama melakukan pembatasan kembali aktivitas ekonominya setelah terjadi kenaikan kasus Covid-19. “Ini kembali mengganggu arus logistik dan permintaan secara agregat,” katanya.

Sementara itu, Singapura yang mengalami resesi cukup dalam juga menjadi indikasi bahwa kinerja ekspor di kawasan masih membutuhkan waktu. “Diperkirakan baru 2021 akan recovery bertahap,” papar Bhima.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan, dengan dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor, diharapkan pada bulan-bulan berikutnya neraca perdagangan masih bisa surplus. “Tentu harus diimbangi pengendalian impor yang baik. Impor barang modal, bahan baku dan penolong masih baik, tetapi impor barang konsumtif dikendalikan dengan ketat,” kata Ryan.

Guna menjaga surplus neraca perdagangan, pemerintah terus mendorong ekspor ke beberapa negara agar ekonomi tetap tumbuh. Salah satunya, pemerintah akan mendorong ekspor alat kesehatan dan alat pelindung diri (APD) ke sejumlah negara. “Ini sedang permintaan final ke negara lain, karena itu kita akan genjot ekspor APD karena sekarang ini perluasan Covid-19 sudah kembali melonjak, terlebih di Amerika Serikat,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. (Baca juga: Tragis, Bocah Saudi Meninggal Gara-gara Alat Swab Test Patah di Hidung)

Sektor Pertanian Paling Moncer

Kinerja ekspor yang bagus selama bulan Juni di sektor nonmigas terutama disumbang dari komoditas pertanian. BPS mencatat ekspor hasil pertanian bulan Juni naik 18,9% dibanding Mei 2020, bahkan kenaikannya juga jauh lebih tinggi kalau dibanding Juni 2019. “Dibanding bulan sebelumnya, ekspor pertanian yang meningkat cukup besar pada Juni 2020 di antaranya komoditas kopi, tanaman obat aromatik dan rempah, biji kakao, dan sarang burung,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta kemarin.

Ekspor pertanian terus konsisten menunjukkan kenaikan secara year on year (YoY). Bahkan kenaikannya juga jauh lebih tinggi dibanding Juni 2019. “Dibanding bulan sebelumnya, ekspor pertanian meningkat cukup besar. Ini merupakan sinyal bagus,” katanya. (Lihat videonya: Viral, Janda di Bangka Belitung Jual rumah Beserta Pemilik)

Suhariyanto berharap, ke depan ekspor Indonesia bisa terus meningkat dan capaian baik ini tidak hanya terjadi di bulan Juni tetapi di bulan-bulan lainnya. Selain itu, dia juga meminta sektor lain untuk mencontoh sektor pertanian yang terus tumbuh. “Tentunya ini tren yang sangat menggembirakan dan bisa menjadi angin segar di tengah keadaan sekarang ini,” tutupnya. (Kunthi Fahmar Sandy/Rina Anggraeni)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
BPS: Neraca Dagang RI...
BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
Buka MNC Forum ke-82,...
Buka MNC Forum ke-82, HT Ungkap Peran Strategis Pasar Modal bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Mengulik Kerentanan...
Mengulik Kerentanan Ekonomi Nasional di Balik Angka Pertumbuhan 5,61 Persen
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Diragukan, Purbaya: Angka Jelek Ribut, Angka Tinggi Ribut
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Rekomendasi
15.080 Peserta Siap...
15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Hapus Dahaga Gelar 266 Hari
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
Infografis
Waspadai Penyakit yang...
Waspadai Penyakit yang Rentan Menyerang saat Mudik Lebaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved