Arwin Rasyid Soroti Revolusi Digital Banking
Selasa, 18 Agustus 2020 - 07:11 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, papar Arwin, perbankan harus siap menghadapi era di mana kemajuan akan berkembang semakin pesat. Kedua, tranformasi digital adalah sumber keniscayaan dan sumber perjalanan yang harus dijalankan dengan sepenuh hati. Menurut pria kelahiran 1957 itu, kekuatanbisnis berbasis konten yang tak bergantung pada ukuran aset.
Keempat, industri keuangan harus mempu membangun paradigma baru seperti new bank dan fintech. Sedangkan yang kelima, ke depan harus mampu mengantisipasi tren new bank raksasa yang bisa didirikan dari platform media sosial maupun e-commerce.
"Semoga buku ini menjadi diskusi yang menarik dan bermanfaat bagi kita semua," tuturnya pada kesempatan tersebut. (Baca juga: 75 Tahun Merdeka, Politikus PPP Ingatkan Akses Kesehatan dan Pendidikan)
Di industri keuangan, nama Arwin Rasyid sangat dikenal karena sudah malang melintang berkarir sejak tahun 1980-an. Awal karirnya di perbankan dimulai ketika dia bergabung dengan Bank of America di Jakarta, sebagai asisten vice president. Kemudian pada 1987 bergabung dengan PT Bank Niaga Tbk. Setelah sempat menduduki di Grup Bank Niaga, pada tahun 1999 Arwin menjabat Wakil Presiden Direktur.
Setahun setelah terjadi krisis keuangan, tepatnya pada 1999, Arwin lalu dipercaya menjadi salah satu eksekutif di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan tugas menangani manajemen risiko dan kredit. Selanjutnya, pada tahun 2000, Arwin diangkat sebagai Wakil Ketua BPPN.
Pascabertugas di BPPN, Arwin sempat menjabat sebagai wakil direktur utama Bank BNI pada 2003-2005, kemudian menjadi orang nomor satu di Telkom selama dua tahun yaitu 2005-2007. Setelah itu, baru pada 2008 Arwin kembali ke Bank CIMB Niaga dengan jabatan presiden direktur selama kurang lebih tujuh tahun hingga 2015.
Saat ini, Arwin memiliki bisnis sendiri di sektor kauangan dengan mendirikan PT TEZ Capital dan Finance, PT Sarana Gadai Prioritas dan PT TEZ Venture Indonesia. (Baca juga: Bangun Jalan Tol Terpanjang di Indonesia, Hutama Karya Pakai Produk Lokal)
Keempat, industri keuangan harus mempu membangun paradigma baru seperti new bank dan fintech. Sedangkan yang kelima, ke depan harus mampu mengantisipasi tren new bank raksasa yang bisa didirikan dari platform media sosial maupun e-commerce.
"Semoga buku ini menjadi diskusi yang menarik dan bermanfaat bagi kita semua," tuturnya pada kesempatan tersebut. (Baca juga: 75 Tahun Merdeka, Politikus PPP Ingatkan Akses Kesehatan dan Pendidikan)
Di industri keuangan, nama Arwin Rasyid sangat dikenal karena sudah malang melintang berkarir sejak tahun 1980-an. Awal karirnya di perbankan dimulai ketika dia bergabung dengan Bank of America di Jakarta, sebagai asisten vice president. Kemudian pada 1987 bergabung dengan PT Bank Niaga Tbk. Setelah sempat menduduki di Grup Bank Niaga, pada tahun 1999 Arwin menjabat Wakil Presiden Direktur.
Setahun setelah terjadi krisis keuangan, tepatnya pada 1999, Arwin lalu dipercaya menjadi salah satu eksekutif di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan tugas menangani manajemen risiko dan kredit. Selanjutnya, pada tahun 2000, Arwin diangkat sebagai Wakil Ketua BPPN.
Pascabertugas di BPPN, Arwin sempat menjabat sebagai wakil direktur utama Bank BNI pada 2003-2005, kemudian menjadi orang nomor satu di Telkom selama dua tahun yaitu 2005-2007. Setelah itu, baru pada 2008 Arwin kembali ke Bank CIMB Niaga dengan jabatan presiden direktur selama kurang lebih tujuh tahun hingga 2015.
Saat ini, Arwin memiliki bisnis sendiri di sektor kauangan dengan mendirikan PT TEZ Capital dan Finance, PT Sarana Gadai Prioritas dan PT TEZ Venture Indonesia. (Baca juga: Bangun Jalan Tol Terpanjang di Indonesia, Hutama Karya Pakai Produk Lokal)
Lihat Juga :