Dedolarisasi Membara! Morgan Stanley Ungkap 3 Alasan Dominasi Dolar AS Tak Akan Pudar
Selasa, 21 Mei 2024 - 17:29 WIB
loading...
Status dolar AS (USD) sebagai mata uang utama bank sentral dan untuk perdagangan internasional, diyakini oleh Morgan Stanley tidak akan segera memudar, meski fenomena dedolarisasi terus menggema. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Status dolar Amerika Serikat (USD) sebagai mata uang utama bank sentral dan untuk perdagangan internasional, diyakini oleh Morgan Stanley tidak akan segera memudar. Sementara itu belakangan fenomena dedolarisasi terus menggema karena tingginya inflasi serta ketidakpastian global.
Baca Juga: Dedolarisasi Memanas, Transaksi BRICS Tanpa Dolar Tembus Rp800.000 T
Salah satu yang antusias membuang dolar AS adalah aliansi BRICS, yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang pada tahun lalu memperluas keanggotaan mereka. Deretan negara berkembang tersebut bergerak untuk berupaya menggantikan dolar AS yang biasanya digunakan sebagai mata uang transaksi bilateral.
Tujuannya untuk melepaskan ketergantungan pada mata uang dolar AS. Langkah tersebut tidak membuat Morgan Stanley khawatir bahwa dolar AS pada akhirnya bisa dicopot sebagai mata uang yang paling banyak dipegang dan paling banyak digunakan di dunia.
Baca Juga: Bye Bye Dolar AS, Transaksi Rusia dan China 90 Persen Pakai Yuan atau Rubel
Beberapa pengamat memperingatkan, mata uang rival seperti yuan China atau yen Jepang atau bahkan mata uang BRICS bersama dapat mengganggu statistik dolar. Tetapi ahli strategi Morgan Stanley, menerangkan alasan utama dominasi dolar tidak akan hilang dalam waktu dekat:
Baca Juga: Dedolarisasi Memanas, Transaksi BRICS Tanpa Dolar Tembus Rp800.000 T
Salah satu yang antusias membuang dolar AS adalah aliansi BRICS, yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang pada tahun lalu memperluas keanggotaan mereka. Deretan negara berkembang tersebut bergerak untuk berupaya menggantikan dolar AS yang biasanya digunakan sebagai mata uang transaksi bilateral.
Tujuannya untuk melepaskan ketergantungan pada mata uang dolar AS. Langkah tersebut tidak membuat Morgan Stanley khawatir bahwa dolar AS pada akhirnya bisa dicopot sebagai mata uang yang paling banyak dipegang dan paling banyak digunakan di dunia.
Baca Juga: Bye Bye Dolar AS, Transaksi Rusia dan China 90 Persen Pakai Yuan atau Rubel
Beberapa pengamat memperingatkan, mata uang rival seperti yuan China atau yen Jepang atau bahkan mata uang BRICS bersama dapat mengganggu statistik dolar. Tetapi ahli strategi Morgan Stanley, menerangkan alasan utama dominasi dolar tidak akan hilang dalam waktu dekat:
Lihat Juga :