Sanksi Barat Tak Berkutik melawan Kemampuan Adaptasi Rusia
Kamis, 26 September 2024 - 18:48 WIB
loading...
Gelombang sanksi Barat terhadap Rusia setelah perang Ukraina pecah belum memberikan pukulan telak bagi ekonomi Moskow seperti yang diperkirakan beberapa orang. Beberapa peneliti ungkap penyebabnya. Foto/Dok
A
A
A
WASHINGTON - Gelombang sanksi Barat terhadap Rusia setelah perang Ukraina pecah belum memberikan pukulan telak bagi ekonomi Moskow seperti yang diperkirakan beberapa orang. Dalam sebuah laporan terbaru, dua peneliti mengungkapkan alasan kenapa sanksi AS dan sekutunya belum efektif.
Baca Juga: Sanksi Barat Sia-sia, Rusia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2024-2027 Capai 13%
Oleg Itskhoki dari Universitas Harvard dan Elina Ribakova dari Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional berpendapat, bahwa sanksi Barat seharusnya dijatuhkan lebih kuat segera setelah invasi, daripada dengan cara melakukannya sedikit demi sedikit.
"Dalam retrospeksi, terbukti bahwa tidak ada alasan untuk tidak memberlakukan semua tindakan tegas yang bisa dilakukan terhadap Rusia sejak awal setelah Rusia meluncurkan invasi skala penuh pada Februari 2022," kata para penulis dalam makalah tersebut.
Namun, "kesimpulan kritis adalah bahwa sanksi bukanlah peluru perak," kata Ribakova.
Baca Juga: AS Ancam Rusia dengan Sanksi Minyak Baru
Para peneliti mengatakan, Rusia mampu beradaptasi menghadapi sanksi keuangan atau ekonomi karena pelajaran yang dipetik dari sanksi yang dijatuhkan pada tahun 2014 setelah menginvasi Krimea. Selain itu lemahnya dampak dari sanksi, lantaran gagal menyakinkan lebih banyak negara untuk ikut serta, dimana kekuatan ekonomi seperti China dan India tidak termasuk di dalamnya.
Baca Juga: Sanksi Barat Sia-sia, Rusia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2024-2027 Capai 13%
Oleg Itskhoki dari Universitas Harvard dan Elina Ribakova dari Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional berpendapat, bahwa sanksi Barat seharusnya dijatuhkan lebih kuat segera setelah invasi, daripada dengan cara melakukannya sedikit demi sedikit.
"Dalam retrospeksi, terbukti bahwa tidak ada alasan untuk tidak memberlakukan semua tindakan tegas yang bisa dilakukan terhadap Rusia sejak awal setelah Rusia meluncurkan invasi skala penuh pada Februari 2022," kata para penulis dalam makalah tersebut.
Namun, "kesimpulan kritis adalah bahwa sanksi bukanlah peluru perak," kata Ribakova.
Baca Juga: AS Ancam Rusia dengan Sanksi Minyak Baru
Para peneliti mengatakan, Rusia mampu beradaptasi menghadapi sanksi keuangan atau ekonomi karena pelajaran yang dipetik dari sanksi yang dijatuhkan pada tahun 2014 setelah menginvasi Krimea. Selain itu lemahnya dampak dari sanksi, lantaran gagal menyakinkan lebih banyak negara untuk ikut serta, dimana kekuatan ekonomi seperti China dan India tidak termasuk di dalamnya.
Lihat Juga :