Adaptasi Kilat ala Restoran
Senin, 21 September 2020 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, more value oriented di mana pelanggan tidak mau lagi antre panjang saat membeli makanan take away. Ketiga, food@home lifestyle di mana konsumen menjadi lebih nyaman membeli secara online. Keempat, digital maturity, yaknidi mana pandemi Covid-19 mendorong konsumen segera beradaptasi dengan digital.
Di bagian lain, pengamat manajemen dari PPM School of Management Wahyu Tri Setyobudi memahami apabila pelaku usaha terpaksa melakukan berbagai strategi demi mempertahankan lini bisnisnya. Strategi itu berkaitan dengan jangka pendek terkait pencapaian penjualan (sales), target campaign dan lainnya. Sementara strategi jangka panjang terkait imej brand. (Baca juga: Siap-siap Resesi, Penduduk Miskin Bisa Bertambah 1,2 Juta)
“Bisa kita pahami apa yang dilakukan itu sebagai satu tuntutan adanya shock atau gegar bisnis. Pandemi ini kan datangnya tiba-tiba, banyak yang tidak ada persiapan. Ini juga berlarut-larut sampai enam bulan lebih, bahkan akhirnyajuga masih tidak tahu kapan,” kata Wahyu.
Terkait stretegi jangka pendek seperti melakukan penjualan langsung di pinggir jalan, dia menilai hal itu belum tentu efektif dika dilakukan dalam jangka panjang. Menurutnya, belum tentu metode pemasaran tersebut secara sistemik akan menjadi solusi.
Kalau melihat dari sisi brand atau jangka panjang, Wahyu menilai upaya tersebut tidak produktif. Sebagai restoran yang masuk kategori high end, namun format penjualan yang low end. Padahal salah satu nilai atau value dari produk high end yaitu menawarkan eksklusivitas.
“Kalau menjual secara low end, artinya melepaskan competitive positioning yang seakan-akan memberi pesan ke masyarakat bahwa tidak ada jalan lain. Mengorbankan jangka panjang hanya untuk mendapatkan tindakan reaktif jangka pendek. Harusnya lebih elegan Menurut saya, itu kontraproduktif, sangat berbahaya. Karena brand itu dibangun lama dan menggunakan investasi yang tidak sedikit,” katanya.
Ketua Center for Innovation and Collaboration PPM itu berpendapat, brand-brand besar perlu melakukan hibernasi yakni menerapkan efisiensi dan menekan pengeluaran dengan menyesuaikan kondisi pendapatan yang sedang berada pada titik rendah. Misalnya, terkait efisensi karyawan.
“Pola pengurangan karyawan bisa diperhalus dengan kemitraan. Jika tadinya menjadi karyawan, setelah PHK harus dijadikan mitra misalnya sebagai mitra delivery,” ujar dia. (Lihat videonya: Bom Sukhoi TNI AU Jatuh ke Pemukiman Warga di Takalar)
Langkah lainnya, lanjut Wahyu, bisa dengan menghilangkan produk atau portofolio yang kurang menghasilkan. Momentum ini saatnya bagi perusahaan untuk melihat lagi dan membenahi portofolio produknya.
Wahyu juga menilai bahwa penggunaan layanan digital harus menjadi strategi yang perlu diupayakan perusahaan. Misalnya, melakukan promo-promo melalui digital. Menurut dia, cara itu jauh lebih elegan ketimbang promo di jalan. (Faorick Pakpahan/Oktiani Endarwati/Yanto Kusdiantono)
Di bagian lain, pengamat manajemen dari PPM School of Management Wahyu Tri Setyobudi memahami apabila pelaku usaha terpaksa melakukan berbagai strategi demi mempertahankan lini bisnisnya. Strategi itu berkaitan dengan jangka pendek terkait pencapaian penjualan (sales), target campaign dan lainnya. Sementara strategi jangka panjang terkait imej brand. (Baca juga: Siap-siap Resesi, Penduduk Miskin Bisa Bertambah 1,2 Juta)
“Bisa kita pahami apa yang dilakukan itu sebagai satu tuntutan adanya shock atau gegar bisnis. Pandemi ini kan datangnya tiba-tiba, banyak yang tidak ada persiapan. Ini juga berlarut-larut sampai enam bulan lebih, bahkan akhirnyajuga masih tidak tahu kapan,” kata Wahyu.
Terkait stretegi jangka pendek seperti melakukan penjualan langsung di pinggir jalan, dia menilai hal itu belum tentu efektif dika dilakukan dalam jangka panjang. Menurutnya, belum tentu metode pemasaran tersebut secara sistemik akan menjadi solusi.
Kalau melihat dari sisi brand atau jangka panjang, Wahyu menilai upaya tersebut tidak produktif. Sebagai restoran yang masuk kategori high end, namun format penjualan yang low end. Padahal salah satu nilai atau value dari produk high end yaitu menawarkan eksklusivitas.
“Kalau menjual secara low end, artinya melepaskan competitive positioning yang seakan-akan memberi pesan ke masyarakat bahwa tidak ada jalan lain. Mengorbankan jangka panjang hanya untuk mendapatkan tindakan reaktif jangka pendek. Harusnya lebih elegan Menurut saya, itu kontraproduktif, sangat berbahaya. Karena brand itu dibangun lama dan menggunakan investasi yang tidak sedikit,” katanya.
Ketua Center for Innovation and Collaboration PPM itu berpendapat, brand-brand besar perlu melakukan hibernasi yakni menerapkan efisiensi dan menekan pengeluaran dengan menyesuaikan kondisi pendapatan yang sedang berada pada titik rendah. Misalnya, terkait efisensi karyawan.
“Pola pengurangan karyawan bisa diperhalus dengan kemitraan. Jika tadinya menjadi karyawan, setelah PHK harus dijadikan mitra misalnya sebagai mitra delivery,” ujar dia. (Lihat videonya: Bom Sukhoi TNI AU Jatuh ke Pemukiman Warga di Takalar)
Langkah lainnya, lanjut Wahyu, bisa dengan menghilangkan produk atau portofolio yang kurang menghasilkan. Momentum ini saatnya bagi perusahaan untuk melihat lagi dan membenahi portofolio produknya.
Wahyu juga menilai bahwa penggunaan layanan digital harus menjadi strategi yang perlu diupayakan perusahaan. Misalnya, melakukan promo-promo melalui digital. Menurut dia, cara itu jauh lebih elegan ketimbang promo di jalan. (Faorick Pakpahan/Oktiani Endarwati/Yanto Kusdiantono)
(ysw)
Lihat Juga :