BI Jaga Posisi Investasi Internasional RI dari Imbas Pandemi

loading...
BI Jaga Posisi Investasi Internasional RI dari Imbas Pandemi
Bank Indonesia jaga posisi investasi internasional RI dari dampak pandemi Covid-19. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus waspada terhadap Posisi Investasi Internasional (PII) akibat pandemi Covid-19. Bank sentral RI tersebut sekuat tenaga agar posisi PII tetap terjaga.

"Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah, serta otoritas terkait lainnya," kata Direktur Eksekutif Komunikasi BI Onny Widjarnako, di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

Baca Juga: Kabar Gembira Nih! Beli Rumah Baru Bakal Bebas Biaya KPR

Dia memandang perkembangan Posisi Investasi Internasional Indonesia pada triwulan II 2020 tetap terjaga. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban PII Indonesia yang didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Namun demikian, pihaknya tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian. Sebagai informasi, PII Indonesia pada triwulan II 2020 mencatat peningkatan kewajiban neto.



Pada akhir triwulan II 2020, PII Indonesia mencatat kewajiban neto USD280,8 miliar (25,7% dari PDB), meningkat dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir triwulan I 2020 yang tercatat sebesar USD256,6 miliar (22,8% dari PDB). Peningkatan kewajiban neto tersebut disebabkan oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Baca Juga: Soal Impor Vaksin Covid dari China, Airlangga: Itu Tanggung Jawab Terawan

Peningkatan posisi KFLN Indonesia didukung oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio dan investasi langsung ke pasar keuangan domestik seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global pada periode laporan. Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan II 2020 meningkat 6,3% (qtq) dari USD620,7 miliar menjadi USD659,6 miliar.



Peningkatan kewajiban tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan posisi kepemilikan asing pada instrumen surat utang pemerintah dan sektor swasta, serta peningkatan transaksi modal ekuitas dari afiliasi. Faktor perubahan lainnya adalah revaluasi positif atas nilai aset finansial domestik berdenominasi Rupiah yang mendorong kenaikan posisi KFLN, seiring dengan perbaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan rupiah terhadap dolar AS.
(nng)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top