RI Pasti Njeblos ke Jurang Resesi, Obatnya Cuma Disuntik Vaksin
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 18:28 WIB
loading...
Obat resesi ekonomi hanya satu yaitu disuntik vaksin Covid-19. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Kontraksi ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 diperkirakan masih akan negatif. Hal ini membuat Indonesia sudah dipastikan akan masuk jurang resesi setelah kuartal II pertumbuhan ekonomi -5,32 persen.
Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ke depannya perekonomian Indonesia akan bergantung pada penemuan vaksin dan bagaimana pemerintah dapat menyediakannya bagi masyarakat. Hal ini disebabkan apabila belum ada vaksin, maka perilaku konsumsi masyarakat belum akan pulih ke kondisi sebelum pandemi Covid-19 , yang kemudian akan menghambat pemulihan perekonomian.
"Saat ini, salah satu skenario terbaik adalah ditemukannya vaksin yang efektif sebelum 2020 berakhir sehingga pengadaan dan distribusi vaksin dapat terimplementasi pada kuartal I-2021, yang kemudian akan mendorong pemulihan ekonomi di kuartal II-2021, dengan asumsi vaksin dapat terdistribusi merata di daerah-daerah prioritas. Dengan skenario ini, konsolidasi pemulihan perekonomian dapat mulai terjadi pada 2021-2022," ujar Josua saat dihubungi MNC Portal, di Jakarta,Sabtu (3/10/2020).
Baca Juga: Gawat! Deflasi Lanjut Lagi, Ekonomi RI Bisa Depresi
Di sisi lain, salah satu skenario terburuk adalah belum adanya vaksin hingga tahun 2021. Josua menyebut, skenario ini akan mengakibatkan pemulihan perekonomian yakni pertumbuhan ekonomi akan kembali pada trajectory awal di mana pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen baru akan tercapai di tahun 2023-2024.
Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ke depannya perekonomian Indonesia akan bergantung pada penemuan vaksin dan bagaimana pemerintah dapat menyediakannya bagi masyarakat. Hal ini disebabkan apabila belum ada vaksin, maka perilaku konsumsi masyarakat belum akan pulih ke kondisi sebelum pandemi Covid-19 , yang kemudian akan menghambat pemulihan perekonomian.
"Saat ini, salah satu skenario terbaik adalah ditemukannya vaksin yang efektif sebelum 2020 berakhir sehingga pengadaan dan distribusi vaksin dapat terimplementasi pada kuartal I-2021, yang kemudian akan mendorong pemulihan ekonomi di kuartal II-2021, dengan asumsi vaksin dapat terdistribusi merata di daerah-daerah prioritas. Dengan skenario ini, konsolidasi pemulihan perekonomian dapat mulai terjadi pada 2021-2022," ujar Josua saat dihubungi MNC Portal, di Jakarta,Sabtu (3/10/2020).
Baca Juga: Gawat! Deflasi Lanjut Lagi, Ekonomi RI Bisa Depresi
Di sisi lain, salah satu skenario terburuk adalah belum adanya vaksin hingga tahun 2021. Josua menyebut, skenario ini akan mengakibatkan pemulihan perekonomian yakni pertumbuhan ekonomi akan kembali pada trajectory awal di mana pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen baru akan tercapai di tahun 2023-2024.
Lihat Juga :