Aprindo: Orang Cuma Belanja Rp100 Ribu, Habis Itu Cepat-cepat Pulang
Sabtu, 07 November 2020 - 20:13 WIB
loading...
Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh besar terhadap perilaku belanja masyarakat. Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) menerangkan, sekarang mungkin Rp100.000 pun sudah cukup dan cepat-cepat pulang. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh besar terhadap perilaku belanja yang dilakukan oleh masyarakat. Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) membeberkan, selama pandemi masyarakat hanya membeli produk tertentu saja, mengingat adanya pembatasan aktivitas.
"Hal-hal seperti impulse buying hilang saat pandemi. Orang masuk supermarket biasanya akan mengeluarkan rata-rata perhitungan peritel Rp200.000-Rp250.000 sekarang cukup untuk beli ikan beli sayur dan daging yang mungkin Rp100.000 pun sudah cukup dan cepat-cepat pulang," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey dalam polemik MNC Trijaya FM bertajuk 'Efek Resesi di Tengah Pandemi', Sabtu (7/11/2020).
(Baca Juga: Robinson Singapura Aja Keok, Kondisi Ritel RI: Masih Hidup Namun Berat )
Ia menjelaskan, jika dilihat dari strata kebutuhan ada yang utama, secondary dan tersier. Nah biasanya, lanjut Roy, tersier ini atau yang disebut impulse buying (belanja yang tidak direncanakan biasanya lebih besar dari belanja yang direncanakan).
"Contohnya saja ketika melihat diskon buy one get one, sehingga membuat pengunjung membelinya. Namun itu sekarang hilang," terangnya.
"Hal-hal seperti impulse buying hilang saat pandemi. Orang masuk supermarket biasanya akan mengeluarkan rata-rata perhitungan peritel Rp200.000-Rp250.000 sekarang cukup untuk beli ikan beli sayur dan daging yang mungkin Rp100.000 pun sudah cukup dan cepat-cepat pulang," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey dalam polemik MNC Trijaya FM bertajuk 'Efek Resesi di Tengah Pandemi', Sabtu (7/11/2020).
(Baca Juga: Robinson Singapura Aja Keok, Kondisi Ritel RI: Masih Hidup Namun Berat )
Ia menjelaskan, jika dilihat dari strata kebutuhan ada yang utama, secondary dan tersier. Nah biasanya, lanjut Roy, tersier ini atau yang disebut impulse buying (belanja yang tidak direncanakan biasanya lebih besar dari belanja yang direncanakan).
"Contohnya saja ketika melihat diskon buy one get one, sehingga membuat pengunjung membelinya. Namun itu sekarang hilang," terangnya.
Lihat Juga :