Industry Megashifts 2021 (3)
Sabtu, 14 November 2020 - 07:41 WIB
loading...
A
A
A
Dengan tak menentunya kapan krisis pandemi ini berakhir, gaya hidup baru ini akan semakin permanen, bahkan termasuk setelah vaksin diproduksi dan didistribusikan. Contohnya untuk belanja online, WFH, home entertainment hingga sekolah online. (Baca juga: Ini Manfaat Mengonsum Dua Pisang Dalam Sehari)
Stay @ Home Lifestyle akan memicu terciptanya apa yang kami sebut Stay @ Home Economy di mana begitu banyak industri yang berguguran (high-touch industries), tetapi di sisi lain tak sedikit industri yang justru menikmati pertumbuhan dahsyat (low-touch industries).
Krisis Covid-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba di mana hidupnya hanya di “gua”, yaitu rumah mereka. Welcome stay @ home economy.
#2. Back to the Bottom of the Pyramid
Kami di Inventure menyebut masa sebelum Maret 2020 saat WHO menetapkan Covid-19 sebagai bencana pandemi sebagai era leisure economy di mana kebutuhan konsumen bergerak cepat menuju puncak piramida Maslow, yaitu self esteem dan self actualization.
Pasca-Maret 2020, secara mendadak umat manusia dipaksa memasuki era pandemic economy di mana kebutuhan konsumen berbalik arah dari awalnya go to the top, menaiki piramida Maslow menjadi back to the bottom menuju dasar piramida.
Dengan merebaknya virus, kebutuhan-kebutuhan self esteem dan self actualization menjadi tidak prioritas lagi. Konsumen kembali ke kebutuhan dasar, yaitu safety (health), security (free of fear, employment), dan physiological needs (food, cloth, shelter). (Baca juga: Kriminolog: Hoaks Masuk Kategori Kejahatan karena Menimbulkan Dampak Buruk)
Consumer Megashifts ini menghasilkan preferensi konsumen yang menuntut marketers melakukan perubahan value proposition yang mendasar.
#3. Go Virtual
Stay @ Home Lifestyle akan memicu terciptanya apa yang kami sebut Stay @ Home Economy di mana begitu banyak industri yang berguguran (high-touch industries), tetapi di sisi lain tak sedikit industri yang justru menikmati pertumbuhan dahsyat (low-touch industries).
Krisis Covid-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba di mana hidupnya hanya di “gua”, yaitu rumah mereka. Welcome stay @ home economy.
#2. Back to the Bottom of the Pyramid
Kami di Inventure menyebut masa sebelum Maret 2020 saat WHO menetapkan Covid-19 sebagai bencana pandemi sebagai era leisure economy di mana kebutuhan konsumen bergerak cepat menuju puncak piramida Maslow, yaitu self esteem dan self actualization.
Pasca-Maret 2020, secara mendadak umat manusia dipaksa memasuki era pandemic economy di mana kebutuhan konsumen berbalik arah dari awalnya go to the top, menaiki piramida Maslow menjadi back to the bottom menuju dasar piramida.
Dengan merebaknya virus, kebutuhan-kebutuhan self esteem dan self actualization menjadi tidak prioritas lagi. Konsumen kembali ke kebutuhan dasar, yaitu safety (health), security (free of fear, employment), dan physiological needs (food, cloth, shelter). (Baca juga: Kriminolog: Hoaks Masuk Kategori Kejahatan karena Menimbulkan Dampak Buruk)
Consumer Megashifts ini menghasilkan preferensi konsumen yang menuntut marketers melakukan perubahan value proposition yang mendasar.
#3. Go Virtual
Lihat Juga :