Industry Megashifts 2021 (3)
Sabtu, 14 November 2020 - 07:41 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah pandemi industri-industri yang by-default bersifat high-touch seperti pariwisata, MICE, bisnis pertunjukkan hingga sport berguguran.
Di tengah berbagai aktivitas di industri-industri ini tidak bisa dilakukan secara fisik, medium digital menjadi solusi sementara, yang tak tertutup kemungkinan akan menjadi solusi selamanya.
Maka tak terhindarkan lagi konsumen beramai-ramai go virtual, beralih dari medium space ke medium screen. Maka di masa pandemi istilah virtual kian populer: virtual meeting, virtual concert, virtual exhibition, virtual prayer.
Menariknya, aktivitas virtual ini kian lama memiliki value bagi konsumen. Survei dari Nielsen misalnya menunjukkan bahwa konsumen rela membayar tiket untuk menyaksikan konser secara personal. (Baca juga: Gelombang PHK Tak Terbendung, Pengangguran di Bekasi Melonjak)
#4. The Birth of Empathic Society
Krisis Covid-19 merupakan bencana kemanusiaan yang paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Umat manusia di seluruh dunia terketuk hatinya menyaksikan ratusan ribu korban meninggal di seluruh dunia. Begitu banyak orang yang cemas, takut, dan mengalami kesulitan hidup.
Hikmahnya, Covid-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. Covid-19 melahirkan rasa senasib dan sepenanggungan yang melahirkan tujuan bersama (common goal) untuk melawannya. Tak mengherankan jika rasa empati dan kepedulian berbagai pihak terhadap nasib sesama tumbuh luas di Tanah Air dan di seluruh dunia.
Berbagai gerakan kepedulian dan aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat secara genuine untuk mengurangi penderitaan orang-orang yang terdampak. Rasa simpati yang luar biasa diberikan kepada para tenaga kesehatan yang telah berjuang menyelamatkan para korban dengan risiko nyawa. (Lihat videonya: Berkunjung ke Aceh Jangan Lupa Menikmati Kopi Gayo)
Covid-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera.
Di tengah berbagai aktivitas di industri-industri ini tidak bisa dilakukan secara fisik, medium digital menjadi solusi sementara, yang tak tertutup kemungkinan akan menjadi solusi selamanya.
Maka tak terhindarkan lagi konsumen beramai-ramai go virtual, beralih dari medium space ke medium screen. Maka di masa pandemi istilah virtual kian populer: virtual meeting, virtual concert, virtual exhibition, virtual prayer.
Menariknya, aktivitas virtual ini kian lama memiliki value bagi konsumen. Survei dari Nielsen misalnya menunjukkan bahwa konsumen rela membayar tiket untuk menyaksikan konser secara personal. (Baca juga: Gelombang PHK Tak Terbendung, Pengangguran di Bekasi Melonjak)
#4. The Birth of Empathic Society
Krisis Covid-19 merupakan bencana kemanusiaan yang paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Umat manusia di seluruh dunia terketuk hatinya menyaksikan ratusan ribu korban meninggal di seluruh dunia. Begitu banyak orang yang cemas, takut, dan mengalami kesulitan hidup.
Hikmahnya, Covid-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. Covid-19 melahirkan rasa senasib dan sepenanggungan yang melahirkan tujuan bersama (common goal) untuk melawannya. Tak mengherankan jika rasa empati dan kepedulian berbagai pihak terhadap nasib sesama tumbuh luas di Tanah Air dan di seluruh dunia.
Berbagai gerakan kepedulian dan aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat secara genuine untuk mengurangi penderitaan orang-orang yang terdampak. Rasa simpati yang luar biasa diberikan kepada para tenaga kesehatan yang telah berjuang menyelamatkan para korban dengan risiko nyawa. (Lihat videonya: Berkunjung ke Aceh Jangan Lupa Menikmati Kopi Gayo)
Covid-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera.
(ysw)
Lihat Juga :