Ekonomi Kuartal IV Diproyeksi Minus 2,5 Persen
Jum'at, 05 Februari 2021 - 08:15 WIB
loading...
foto/ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun 2020 diperkirakan terkontraksi di kisaran -2,50% (year on year/yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat -3,49% yoy. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan lertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan terkontraksi ke kisaran -2,6% yoy dari kuartal sebelumnya -4,0% yoy.
"Meskipun konsumsi masih terkontraksi pada 4Q20, namun tidak sedalam kontraksi pada 2Q20," kata Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (5/2/2031). ( Baca juga:Realisasi Investasi Dipatok Rp900 Triliun )
Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan PSBB transisi di berbagai daerah di Indonesia yang mendorong peningkatan pada pergerakan masyarakat, meskipun situasinya belum kembali ke level normal.
"Beberapa data yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga menunjukkan perbaikan yang terbatas sepanjang kuartal IV tahun 2020 di mana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode Oktober-Desember 2020 tercatat terkontraksi -20,7%yoy dibandingkan laju penjualan ritel pada 4Q19 yang tercatat -0,5%yoy," katanya.
Sementara itu, meskipun trennya membaik, indeks kepercayaan konsumen pada periode kuartal keempat tercatat -23,6% yoy dari akhir kuartal sebelumnya yang tercatat -31,6% yoy. Selain itu, laju pertumbuhan nilai tukar petani pada kuartal keempat cenderung stabil dengan tercatat -0,11% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat 3,15% yoy.
Pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -40% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat -6% yoy. Selain penjualan mobil yang mengalami pertumbuhan negatif, penjualan motor juga mengalami kontraksi -49,8% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat -5,6% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada kuartal keempat diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran -4,6% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat -6,5%, investasi bangunan dan non-bangunan cenderung masih terkontraksi. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan penjualan semen yang terkontraksi -13,8%yoy
"Meskipun konsumsi masih terkontraksi pada 4Q20, namun tidak sedalam kontraksi pada 2Q20," kata Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (5/2/2031). ( Baca juga:Realisasi Investasi Dipatok Rp900 Triliun )
Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan PSBB transisi di berbagai daerah di Indonesia yang mendorong peningkatan pada pergerakan masyarakat, meskipun situasinya belum kembali ke level normal.
"Beberapa data yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga menunjukkan perbaikan yang terbatas sepanjang kuartal IV tahun 2020 di mana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode Oktober-Desember 2020 tercatat terkontraksi -20,7%yoy dibandingkan laju penjualan ritel pada 4Q19 yang tercatat -0,5%yoy," katanya.
Sementara itu, meskipun trennya membaik, indeks kepercayaan konsumen pada periode kuartal keempat tercatat -23,6% yoy dari akhir kuartal sebelumnya yang tercatat -31,6% yoy. Selain itu, laju pertumbuhan nilai tukar petani pada kuartal keempat cenderung stabil dengan tercatat -0,11% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat 3,15% yoy.
Pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -40% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat -6% yoy. Selain penjualan mobil yang mengalami pertumbuhan negatif, penjualan motor juga mengalami kontraksi -49,8% yoy dari kuartal IV tahun 2019 yang tercatat -5,6% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada kuartal keempat diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran -4,6% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat -6,5%, investasi bangunan dan non-bangunan cenderung masih terkontraksi. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan penjualan semen yang terkontraksi -13,8%yoy
Lihat Juga :