Kos-kosan di Jogja Bangkrut & Dijual Online, Ini Sebabnya
Minggu, 07 Februari 2021 - 14:04 WIB
loading...
Ilustrasi kamar kos. FOTO/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Maraknya kos-kosan dijual di lapak online tak bisa dihindari akibat terdampak wabah corona. Di Yogyakarta , ribuan kos-kosan ditawarkan secara online dengan harga yang beragam mulai Rp1 miliar hingga Rp12 miliar.
Baca Juga: Duh! Kos-kosan di Jogja Bangkrut, Ribuan Dijual Online
Pengamat Properti Arief Rahardjo mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan imbas dari tingkat hunian kos yang terus mengalami penurunan signifikan. Adapun penurunan tingkat hunian karena mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di Yogyakarta memilih pulang ke daerah masing-masing karena banyak kampus menerapkan kuliah online.
"Jadi kebanyakan mereka pilih mudik dan melakukan kegiatan belajar dan bekerja online dari rumah masing-masing. Ya, kita berharap kegiatan belajar maupun bekerja online bisa kembali seperti biasa sehingga tingkat hunian kosan membaik," ujar Arief saat berbincang dengan SINDOnews, di Jakarta, Minggu (7/2/2021).
Dia menyebutkan tahun ini nampaknya usaha kos-kosan belum bisa masuk pengembangan proyek baru bisnis properti. Pengusaha properti tahun ini akan membidik pembangunan proyek perumahan dan apartemen. "Pengembangan proyek baru di 2021 masih didominasi oleh perumahan dan apartemen," jelasnya.
Baca Juga: Juragan Kos-kosan di Jogja Bangkrut, PHRI: Mereka Butuh Duit Cash
Menurut dia proyek kos-kosan pada dasarnya masih punya potensi digarap dengan syarat pengembangannya dekat dengan area komersial dan dekat dengan kampus. Namun demikian proyek-proyek masih belum menguntungkan karena tingkat hunian menurun. "Potensi pengembangan kosan pada dasarnya masih berpetensi, asalkan dekat dengan kampus atau area komersial yang banyak karyawan dan karyawatinya," kata dia.
Baca Juga: Duh! Kos-kosan di Jogja Bangkrut, Ribuan Dijual Online
Pengamat Properti Arief Rahardjo mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan imbas dari tingkat hunian kos yang terus mengalami penurunan signifikan. Adapun penurunan tingkat hunian karena mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di Yogyakarta memilih pulang ke daerah masing-masing karena banyak kampus menerapkan kuliah online.
"Jadi kebanyakan mereka pilih mudik dan melakukan kegiatan belajar dan bekerja online dari rumah masing-masing. Ya, kita berharap kegiatan belajar maupun bekerja online bisa kembali seperti biasa sehingga tingkat hunian kosan membaik," ujar Arief saat berbincang dengan SINDOnews, di Jakarta, Minggu (7/2/2021).
Dia menyebutkan tahun ini nampaknya usaha kos-kosan belum bisa masuk pengembangan proyek baru bisnis properti. Pengusaha properti tahun ini akan membidik pembangunan proyek perumahan dan apartemen. "Pengembangan proyek baru di 2021 masih didominasi oleh perumahan dan apartemen," jelasnya.
Baca Juga: Juragan Kos-kosan di Jogja Bangkrut, PHRI: Mereka Butuh Duit Cash
Menurut dia proyek kos-kosan pada dasarnya masih punya potensi digarap dengan syarat pengembangannya dekat dengan area komersial dan dekat dengan kampus. Namun demikian proyek-proyek masih belum menguntungkan karena tingkat hunian menurun. "Potensi pengembangan kosan pada dasarnya masih berpetensi, asalkan dekat dengan kampus atau area komersial yang banyak karyawan dan karyawatinya," kata dia.
(nng)
Lihat Juga :