PPKM Bersambung hingga 2 Agustus, Pemerintah Diminta Jangan Maju Mundur
Senin, 26 Juli 2021 - 21:24 WIB
loading...
Soal PPKM yang diperpanjang hingga 2 Agustus, ekonom mengibaratkan Indonesia seperti orang sakir parah yang membutuhkan bed rest atau istirahat agar kondisi bisa segera pulih kembali. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengungkapkan, ibarat orang sakit ketika sudah dalam kondisi yang parah, maka yang diperlukan adalah bed rest atau istirahat agar kondisi bisa segera pulih kembali. Lantaran itu terang dia, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah benar diperpanjang.
"Maka lockdown atau PPKM atau PSBB ini harus tetap dijalankan sampai kasus Covid-19 melandai," ucap Esther secara virtual di Jakarta, Senin (26/7/2021).
Baca Juga: Bali Pilih PPKM Level 4, Makan di Warung Boleh 30 Menit
Baginya, kebijakan pembatasan mobilitas merupakan hal yang tepat, terbukti dari melihat pemerintah China menangani pandemi Covid-19 ketika pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan pada akhir 2019 lalu.
“Waktu itu pemerintah China segera menerapkan lockdown total kawasan Wuhan, di mana transportasi umum maupun pribadi di larang untuk beroperasi. Ditambah serta masyarakatnya pun diwajibkan menggunakan masker,” terang dia.
Esther mengungkapkan, dalam hal ini yang menjadi risiko adalah ekonomi negara. Sama halnya dengan China dimana ekonomi mereka terganggu pada kuartal I tahun 2020 tercatat turun tajam ke -6,85%.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama seiring China mampu mengendalikan penularan virus Covid-19. Dengan begitu dapat dilihat, kini ekonomi Negara Tirai Bambu pulih kembali.
"Maka lockdown atau PPKM atau PSBB ini harus tetap dijalankan sampai kasus Covid-19 melandai," ucap Esther secara virtual di Jakarta, Senin (26/7/2021).
Baca Juga: Bali Pilih PPKM Level 4, Makan di Warung Boleh 30 Menit
Baginya, kebijakan pembatasan mobilitas merupakan hal yang tepat, terbukti dari melihat pemerintah China menangani pandemi Covid-19 ketika pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan pada akhir 2019 lalu.
“Waktu itu pemerintah China segera menerapkan lockdown total kawasan Wuhan, di mana transportasi umum maupun pribadi di larang untuk beroperasi. Ditambah serta masyarakatnya pun diwajibkan menggunakan masker,” terang dia.
Esther mengungkapkan, dalam hal ini yang menjadi risiko adalah ekonomi negara. Sama halnya dengan China dimana ekonomi mereka terganggu pada kuartal I tahun 2020 tercatat turun tajam ke -6,85%.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama seiring China mampu mengendalikan penularan virus Covid-19. Dengan begitu dapat dilihat, kini ekonomi Negara Tirai Bambu pulih kembali.
Lihat Juga :