Dampak Pandemi ke Ekonomi Global, Orang Kaya Makin Kaya dan Si Miskin Makin Melarat
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 21:38 WIB
loading...
Selama pandemi, kekayaan 10 orang terkaya di dunia naik USD540 miliar, hal ini mengutip laporan Oxfam (The Inequality Virus). Padahal uang sebanyak ini cukup untuk membayar vaksin semua orang di bumi. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Selama pandemi , kekayaan 10 orang terkaya di dunia naik USD540 miliar, hal ini mengutip laporan Oxfam (The Inequality Virus) pada Jumat (20/8/2021). Padahal uang sebanyak ini cukup untuk membayar vaksin semua orang di bumi, tetapi sampai sekarang baru 11% orang di dunia yang mendapat vaksin, dengan mayoritas di negara maju.
Di seluruh dunia, pemodal miliarder menambah besar pundi kekayaannya sebesar USD 3,9 triliun (atau hampir 50% dari sebelumnya), mencapai USD 11,95 triliun. Untuk perbandingan, USD3,9 triliun itu kira-kira setara dengan 3 kali lipat PDB Indonesia.
Baca Juga: Covid-19 Varian Delta Ganggu Pemulihan Ekonomi Negara Berkembang
Akan sangat sulit membayangkan jika pendapatan dan kekayaan rakyat miskin meningkat selama pandemi. Justru sebaliknya Oxfam melaporkan, 1.000 miliarder terkaya dunia kekayaannya pulih dalam waktu 9 bulan sejak awal krisis pandemi, dan justru telah menambah kekayaannya.
Sementara, bagi rakyat miskin, akan butuh waktu setidaknya 10 tahun sebelum kondisi ekonomi mereka pulih. Ini pun dengan asumsi adanya pemulihan ekonomi yang baik dan merata, serta tidak ada krisis lagi di hari depan; sebuah asumsi yang sulit terwujud mengingat krisis kronik kapitalisme.
Jadi, bahkan bila ada pemulihan ekonomi selepas pandemi, dampak ekonomi krisis pandemi akan berkepanjangan bagi rakyat miskin.
"Di Indonesia kita temui gambaran serupa. Kekayaan 15 konglomerat terkaya di Indonesia naik 33,7%, dari USD 53,7 miliar menjadi USD 71,8 miliar. Musibah nasional tidak menghentikan kapitalis dalam meraup profit," ujar Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia).
Di seluruh dunia, pemodal miliarder menambah besar pundi kekayaannya sebesar USD 3,9 triliun (atau hampir 50% dari sebelumnya), mencapai USD 11,95 triliun. Untuk perbandingan, USD3,9 triliun itu kira-kira setara dengan 3 kali lipat PDB Indonesia.
Baca Juga: Covid-19 Varian Delta Ganggu Pemulihan Ekonomi Negara Berkembang
Akan sangat sulit membayangkan jika pendapatan dan kekayaan rakyat miskin meningkat selama pandemi. Justru sebaliknya Oxfam melaporkan, 1.000 miliarder terkaya dunia kekayaannya pulih dalam waktu 9 bulan sejak awal krisis pandemi, dan justru telah menambah kekayaannya.
Sementara, bagi rakyat miskin, akan butuh waktu setidaknya 10 tahun sebelum kondisi ekonomi mereka pulih. Ini pun dengan asumsi adanya pemulihan ekonomi yang baik dan merata, serta tidak ada krisis lagi di hari depan; sebuah asumsi yang sulit terwujud mengingat krisis kronik kapitalisme.
Jadi, bahkan bila ada pemulihan ekonomi selepas pandemi, dampak ekonomi krisis pandemi akan berkepanjangan bagi rakyat miskin.
"Di Indonesia kita temui gambaran serupa. Kekayaan 15 konglomerat terkaya di Indonesia naik 33,7%, dari USD 53,7 miliar menjadi USD 71,8 miliar. Musibah nasional tidak menghentikan kapitalis dalam meraup profit," ujar Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia).
Lihat Juga :