Gara-gara Krisis Energi, Eropa Disebut Telah Jadi 'Sandera' Rusia

Jum'at, 08 Oktober 2021 - 09:21 WIB
loading...
Gara-gara Krisis Energi,...
Krisis energi di Erop dinilai telah menjadikan kawasan tersebut tersandera oleh Rusia dalam hal energi. FOTO/AFP/Ben Stansall
A A A
LONDON - Eropa dinilai telah menjadi "sandera" Rusia gara-gara krisis energi yang dialami kawasan tersebut. Tudingan itu muncul setelah Rusia datang menawarkan penyelamatan Eropa dari krisis energi dengan menawarkan untuk meningkatkan pasokan gas ke kawasan itu di tengah melonjaknya harga.

Menurut para ahli, dengan langkah itu satu hal menjadi sangat jelas: Eropa sekarang sebagian besar berada di bawah belas kasihan Rusia dalam hal energi, seperti yang telah diperingatkan AS sebelumnya.

Kontrak gas alam mencapai level tertinggi baru di Eropa minggu ini - dan harga patokan regional naik hampir 500% sepanjang tahun ini - dengan meningkatnya permintaan dan tekanan pasokan di sektor energi akibat cuaca yang lebih dingin di Benua Biru tersebut.

Baca Juga: Eropa dan Rusia Saling Tuding Penyebab Krisis Energi

Harga gas bergerak naik-turun pada hari Rabu (6/10), mencapai level tertinggi baru sebelum turun kembali setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan peningkatan pasokan gas Rusia ke Eropa.

Analis pasar mengatakan langkah itu menunjukkan bahwa Eropa semakin rentan terhadap Rusia, yang sedang menunggu Jerman untuk mengesahkan proyek pipa gas Nord Stream 2 yang kontroversial yang akan membawa lebih banyak gas Rusia ke Eropa melalui Laut Baltik.

Pipa senilai USD11 miliar itu kini telah diselesaikan, meski sangat mengganggu AS yang telah lama menentang proyek tersebut. AS selama bertahun-tahun selama pembangunannya memperingatkan bahwa hal itu membahayakan keamanan energi Eropa dan bahwa Rusia dapat berupaya menggunakan pasokan energi untuk memperoleh pengaruh atas wilayah tersebut.

Pemerintahan Obama dan Trump menggembleng opini bipartisan terhadap jalur pipa tersebut dan Presiden Joe Biden juga mengumumkan sanksi terhadap perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut. Akan tetapi sanksi tersebut dihapuskan pada bulan Mei dalam apa yang dilihat sebagai upaya AS untuk membangun kembali hubungan dengan Jerman.

"Eropa sekarang telah membiarkan Rusia menjadi sandera atas pasokan energi," kata Timothy Ash, ahli strategi senior kedaulatan pasar negara berkembang di Bluebay Asset Management, seperti dilansir CNBC, Jumat (8/10/2021). Dia menyebut situasi ini sungguh "tidak dapat dipercaya."

Dia menyebut sangat-sangat jelas bahwa Rusia menguasai Eropa (Uni Eropa dan Inggris) dalam hambatan energi. Eropa dan Inggris menurutnya terlalu lemah untuk berbuat sesuatu tentang itu. Ash menyebutnya sebagai bentuk "pemerasan energi."

"Eropa meringkuk ketakutan di saat menuju musim dingin, Rusia akan lebih lanjut mengetatkan sekrup (pipa energi) dan membiarkan (Eropa) membeku sampai (Rusia) mendapatkan keinginannya dan NS2 disertifikasi," tuturnya.

Putin menggunakan pertemuan pemerintah yang disiarkan televisi Rabu lalu untuk menawarkan peningkatan pasokan gas ke Eropa. Dia juga mencela wilayah tersebut karena membatalkan banyak kontrak gas jangka panjangnya dengan imbalan kesepakatan spot, dengan mengatakan Kremlin siap untuk menegosiasikan kontrak jangka panjang baru untuk penjualan gas.

Banyak ahli percaya bahwa Rusia sengaja menahan pasokan gas ke Eropa, dalam upaya untuk mempercepat sertifikasi pipa Nord Stream 2 Jerman. Rusia telah membantah ini, bagaimanapun, dengan juru bicara Putin Dmitry Peskov menyangkal bahwa Rusia memiliki peran dalam krisis energi Eropa.

Meskipun demikian, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mencatat bahwa sertifikasi Jerman yang diharapkan dari jalur pipa kontroversial itu dapat membantu mendinginkan harga.

Mengupayakan sertifikasi cepat untuk Nord Stream 2, Ash yakin hal itu telah menjadi "rencana permainan Moskow selama ini". Dia menambahkan bahwa pasar benar-benar naif jika berpikir bahwa Moskow akan melakukan apa saja untuk meredakan krisis gas Eropa kapan saja sebelum NS2 disertifikasi.

Regulator energi Jerman belum menunjukkan tanda-tanda sertifikasi pipa, dan pada Selasa (5/6) bahwa proyek itu harus menunjukkan tidak akan melanggar aturan persaingan dengan membatasi pemasok yang menggunakannya. Jerman mengancam akan memberikan denda jika perusahaan mulai memompa gas Rusia ke negara itu tanpa mendapatkan persetujuan yang diperlukan.

Baca Juga: Tak Punya Rekening Bank Himbara, Begini Cara Dapat Subsidi Gaji Rp1 Juta

Mike Fulwood, peneliti senior di Institut Oxford untuk Studi Energi, setuju bahwa setiap keputusan untuk memasok lebih banyak gas ke Eropa oleh Rusia adalah "politis" dan terkait dengan sertifikasi pipa.

"Pada dasarnya, (situasi untuk Rusia adalah) jika Anda menyetujui Nord Stream 2, kami akan mendapatkan beberapa gas untuk mengirimkan Nord Stream 2 untuk menunjukkan bahwa kami setia pada kata-kata kami," katanya kepada CNBC.

Bilal Hafeez, CEO dan kepala penelitian di Macro Hive, mengatakan kepada "Street Signs" CNBC pada Kamis (7/10) bahwa dia juga percaya Rusia menggunakan situasi ini untuk keuntungannya.

"Saya pikir Rusia telah menggunakan krisis energi ini untuk mengambil keuntungan dari situasi di sini dan untuk mencoba memaksa percepatan dalam penggunaan pipa dan dalam beberapa hal ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa mereka mungkin menahan pasokan melalui pipa melalui Ukraina, agar Jerman dan UE mempercepat penggunaan pipa Nord Stream 2," ujarnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, Industri dan Sektor Energi Perlu Dijaga Bersama
Ekspor Minyak Venezuela...
Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Jet Tempur Masa Depan...
Jet Tempur Masa Depan untuk Menggantikan Rafale dan Eurofighter Gagal Terwujud, Ini 4 Alasannya
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Rekomendasi
MNC Peduli dan Park...
MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Salurkan Makanan Bergizi, Warga Duri Kepa Mengaku Sangat Terbantu
Kejagung Geledah 6 Lokasi...
Kejagung Geledah 6 Lokasi terkait Korupsi MBG, Sasar Kantor dan Rumah Tersangka di Jakarta hingga Bandung
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Meksiko Gulung Afrika Selatan 2-0
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved