China Disebut Ngatur-ngatur Indonesia, Luhut: Jangan Asal Ngomong
Rabu, 13 April 2022 - 08:40 WIB
loading...
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menentang sejumlah statement dan tudingan miring terkait kerja Indonesia dengan China. Foto/Dok
A
A
A
DEPOK - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menentang sejumlah statement dan tudingan miring terkait kerja Indonesia dengan China . Luhut menekankan, kerja sama yang terjalin dengan China akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan sejumlah perbaikan sektor lain di Indonesia.
“Jadi kalau Anda pikir sekarang kita datangkan TKA (Tenaga Kerja Asing) dari China , mereka (China) bisa ngatur-ngatur kita? Gak ada ceritanya,” Kata Menko Luhut dalam kuliah umum di Kawasan Balai Sidang Universitas Indonesia, dikutip Rabu (13/4/2022).
Baca Juga: Luhut: Siapa Bilang Ibu Kota Baru Tak Ada Investor, Saya Pusing Ngaturnya
Sambung dia menerangkan, ada sejumlah kriteria untuk melakukan investasi atau menjalin kerja sama dengan beberapa negara termasuk China. Sementara terkait dengan dampak menggandeng China, Luhut mengutarakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dicatat pada triwulan IV 2021 kembali ke angka 5,02%.
“Jadi saya bilang ke mereka ada empat sampai lima kriteria yang harus dipenuhi, pertama harus tenaga kerja pakai sebanyak-banyaknya. Saya paham Indonesia belum paham lima tahun pertama,” ungkapnya.
“Jadi kalau Anda pikir sekarang kita datangkan TKA (Tenaga Kerja Asing) dari China , mereka (China) bisa ngatur-ngatur kita? Gak ada ceritanya,” Kata Menko Luhut dalam kuliah umum di Kawasan Balai Sidang Universitas Indonesia, dikutip Rabu (13/4/2022).
Baca Juga: Luhut: Siapa Bilang Ibu Kota Baru Tak Ada Investor, Saya Pusing Ngaturnya
Sambung dia menerangkan, ada sejumlah kriteria untuk melakukan investasi atau menjalin kerja sama dengan beberapa negara termasuk China. Sementara terkait dengan dampak menggandeng China, Luhut mengutarakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dicatat pada triwulan IV 2021 kembali ke angka 5,02%.
“Jadi saya bilang ke mereka ada empat sampai lima kriteria yang harus dipenuhi, pertama harus tenaga kerja pakai sebanyak-banyaknya. Saya paham Indonesia belum paham lima tahun pertama,” ungkapnya.
Lihat Juga :