Inflasi Tinggi Bayangi Pemulihan Ekonomi, Pemerintah Harus Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok

Kamis, 19 Mei 2022 - 13:31 WIB
loading...
Inflasi Tinggi Bayangi Pemulihan Ekonomi, Pemerintah Harus Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok
Petugas melakukan pengisian Bahan Bakar Gas (BBG) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (12/5/2022). Foto/MPI/Faisal Rahman
A A A
JAKARTA - Kebijakan pemerintah yang kian melonggarkan berbagai syarat bepergian menjadi angin segar yang mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.

Geliat ekonomi pascalibur Lebaran pun makin kencang, terlihat dari kota-kota besar seperti Jakarta yang kembali dilanda kemacetan. Optimisme ekonomi segera pulih pun menguat. Namun, di lain pihak ada hal yang perlu diwaspadai yaitu kenaikan harga-harga barang dan jasa atau inflasi .

Di awal tahun 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan harga atau inflasi tahunan per Desember 2021 sebesar 1,87%. Angka tersebut merupakan angka inflasi tahunan tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Baca juga: Inflasi Tinggi Akibat Situasi Global Harus Diantisipasi, Ini Saran Ekonom

Penyumbang inflasi terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kenaikan sebesar 1,6%, diikuti oleh komponen transportasi yang datangnya dari angkutan udara dengan kenaikan sebesar 0,6%.

Belakangan, inflasi di berbagai negara juga merangkak naik, menyebabkan melemahnya daya beli dan pada akhirnya memperlambat proses pemulihan ekonomi.

Keadaan diperparah dengan masih berlangsungnya perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan harga sejumlah komoditas global dan energi yang semakin melejit.

Sejumlah harga pangan yang merangkak naik seperti harga minyak goreng, harga kedelai yang tinggi dan harga beras yang sudah mulai naik harga juga menjadi pendorong inflasi.

Kondisi ini memicu kenaikan level inflasi di berbagai negara, serta menahan laju pemulihan ekonomi global yang sedang berlangsung.

Sebut saja inflasi Turki yang nyaris menyentuh 70% pada April lalu, menembus rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1820 seconds (10.55#12.26)