China Memberi Sinyal Meleset Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Jum'at, 29 Juli 2022 - 17:58 WIB
loading...
China Memberi Sinyal...
China telah mengisyaratkan bahwa mereka mungkin meleset dari target pertumbuhan ekonomi tahunannya, karena pembatasan Covid-19 membebani ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Foto/Dok
A A A
BEIJING - China telah mengisyaratkan bahwa mereka mungkin meleset dari target pertumbuhan ekonomi tahunannya, karena pembatasan Covid-19 membebani ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Pada hari Kamis waktu setempat, Politbiro -badan pembuat kebijakan utama Partai Komunis yang berkuasa- mengatakan, pihaknya bakal berjuang menjaga pertumbuhan dalam 'kisaran yang wajar'.

Baca Juga: AS Masuk Jurang Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2022 Turun 0,9 Persen

Namun, Ia tidak menyebutkan target pertumbuhan resmi sebesar 5,5% yang telah ditetapkan sebelumnya. Sementara itu China terus menerapkan kebijakan nol-Covid yang telah menempatkan kota-kota besar terpaksa menerapkan kebijakan Lockdown secara penuh atau sebagian.

Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan ekonomi triwulanannya, Politbiro yang beranggotakan 25 orang dan diketuai oleh Presiden China, Xi Jinping mengatakan para pemimpin akan "berusaha untuk mencapai hasil terbaik".

Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Ancaman Nyata Resesi Akibat Tekanan Global

Namun, pihaknya juga meminta provinsi-provinsi yang lebih kuat untuk bekerja memenuhi target pertumbuhan mereka. Sementara itu Analis mengatakan, kurangnya penyebutan PDB sangat penting, meskipun para ekonom sebelumnya memperkirakan akan sulit bagi China untuk mencapai target 5,5%.

"Target pertumbuhan 5,5% bukan lagi suatu keharusan bagi China," kata Iris Pang, kepala ekonom China di ING Bank, kepada Wall Street Journal.

Mereka juga menambahkan, bahwa China mendesak provinsi-provinsi yang lebih besar untuk mengejar target ekonomi meski terimbas oleh kebijakan lockdown.

"Beijing meminta agar provinsi-provinsi yang berada di posisi yang relatif baik harus berusaha untuk mencapai target ekonomi dan sosial untuk tahun ini," kata analis Nomura Ting Lu, Jing Wang dan Harrington Zhang dalam sebuah catatan.

"Kami pikir Beijing menyarankan bahwa target pertumbuhan PDB untuk provinsi-provinsi dengan kondisi yang kurang menguntungkan, terutama bagi mereka yang terpukul keras oleh varian Omicron dan lockdown, bisa lebih fleksibel," bebernya.

Awal bulan ini, China mengatakan, ekonominya telah mengalami kontraksi tajam pada kuartal kedua tahun ini. Kota-kota besar di China, termasuk pusat keuangan dan manufaktur utama Shanghai, memberlakukan Lockdown secara penuh atau sebagian selama periode ini.

Pasar properti China yang pernah booming juga berada dalam kemerosotan sangat dalam, dan penjualan rumah telah turun selama 11 bulan berturut-turut. Beberapa pengembang China telah menghentikan pembangunan rumah yang telah dijual, karena kekhawatiran atas arus kas perusahaan.

Sementara itu dalam beberapa pekan terakhir, para pembeli rumah telah mengancam akan berhenti membayar hipotek mereka sampai pekerjaan konstruksi dimulai kembali.

Sebelummnya pada tahun 2020, China membuat keputusan langka untuk menghapus target PDB-nya, sehubungan dengan pandemi.

PDB mengukur ukuran ekonomi. Mengukur ekspansi atau kontraksinya adalah salah satu cara terpenting untuk mengetahui seberapa baik atau buruk kinerja ekonomi dan diawasi secara ketat oleh para ekonom dan bank sentral.

Ini juga membantu bisnis untuk menilai kapan harus memperluas dan merekrut lebih banyak pekerja atau berinvestasi lebih sedikit dan bahkan mengurangi tenaga kerja mereka.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Rekomendasi
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Solusi Tepat Menghadapi...
Solusi Tepat Menghadapi Situasi Mendadak dalam Perjalanan Bisnis
Thariq Halilintar dan...
Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Terkait Kasus Hanania Travel
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved