Penundaan Kenaikan Tarif Ojol Jadi Kesempatan Susun Kebijakan Terbaik
Selasa, 30 Agustus 2022 - 08:36 WIB
loading...
Penundaan kenaikan tarif ojek online menjadi kesempatan untuk mempertimbangkan semua aspek agar didapat kebijakan terbaik. Foto/Ilustrasi/Antara
A
A
A
JAKARTA - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyambut baik keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunda kenaikan tarif ojek online (ojol) dan mengkaji ulang besaran kenaikannya. Hal itu diyakini akan menjadi kesempatan dibuatnya kebijakan yang terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pasalnya, jika kenaikan tarif sebesar 30-50% jadi diberlakukan, hal itu diperkirakan justru bakal membuat ojol menjadi kurang kompetitif. Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Harya S Dillon menilai, jika dipaksakan kenaikan sebesar itu justru bisa membuat konsumen beralih menggunakan moda transportasi lain.
Baca Juga: Kenaikan Tarif Ojol Ditunda Lagi, Begini Penjelasan Menhub
"Nantinya konsumen akan lebih memilih naik taksi misalnya, kan bisa naik berdua dibandingkan dengan naik ojol. Kenaikan ini jadinya tidak kompetitif bagi ojol," kata Harya dalam keterangannya kepada media, Senin (29/8/2022).
Karena itu, dia mengapresiasi langkah Kemenhub untuk melibatkan lebih banyak pihak terkait untuk memetakan masalah, mencari masukan dan solusi bersama-sama. Dengan demikian, kata dia, kebijakan yang diambil nantinya akan lebih memperhitungkan berbagai aspek.
Tidak kompetitifnya tarif, lanjut dia, juga bisa berdampak pada pendapatan pengemudi. Sementara, kenaikan tarif ojol yang tinggi dipastikan membuat daya beli konsumen menengah ke bawah yang selama ini menjadi pasar ojol tertekan.
"Pemerintah harus bisa mempertimbangkan semua itu. Seperti apa sebenarnya segmentasi konsumen ojol. Jika dengan kebijakan ini pemerintah pro terhadap driver, bagaimana dengan masyarakat lainnya yang menjadi konsumen? Jadi jangan berasumsi menaikkan tarif menjadi sebuah solusi," tuturnya.
Pasalnya, jika kenaikan tarif sebesar 30-50% jadi diberlakukan, hal itu diperkirakan justru bakal membuat ojol menjadi kurang kompetitif. Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Harya S Dillon menilai, jika dipaksakan kenaikan sebesar itu justru bisa membuat konsumen beralih menggunakan moda transportasi lain.
Baca Juga: Kenaikan Tarif Ojol Ditunda Lagi, Begini Penjelasan Menhub
"Nantinya konsumen akan lebih memilih naik taksi misalnya, kan bisa naik berdua dibandingkan dengan naik ojol. Kenaikan ini jadinya tidak kompetitif bagi ojol," kata Harya dalam keterangannya kepada media, Senin (29/8/2022).
Karena itu, dia mengapresiasi langkah Kemenhub untuk melibatkan lebih banyak pihak terkait untuk memetakan masalah, mencari masukan dan solusi bersama-sama. Dengan demikian, kata dia, kebijakan yang diambil nantinya akan lebih memperhitungkan berbagai aspek.
Tidak kompetitifnya tarif, lanjut dia, juga bisa berdampak pada pendapatan pengemudi. Sementara, kenaikan tarif ojol yang tinggi dipastikan membuat daya beli konsumen menengah ke bawah yang selama ini menjadi pasar ojol tertekan.
"Pemerintah harus bisa mempertimbangkan semua itu. Seperti apa sebenarnya segmentasi konsumen ojol. Jika dengan kebijakan ini pemerintah pro terhadap driver, bagaimana dengan masyarakat lainnya yang menjadi konsumen? Jadi jangan berasumsi menaikkan tarif menjadi sebuah solusi," tuturnya.
Lihat Juga :