Indonesia Belum Punya Destinasi Wisata Cokelat, Ini Penyebabnya!
Sabtu, 17 September 2022 - 08:20 WIB
loading...
A
A
A
"Caranya mungkin ke depan kami bakal punya tagline Chocolate For Everyone dengan menyediakan cokelat di semua lapisan pasar. Artinya, cokelat bisa dirasakan tidak hanya dari bahan cemilan atau jenis-jenis kue, namun bagaimana menikmati batangan cokelat varian rasa,” ucapnya.
Di dalam negeri, kebutuhan dasar cokelat untuk berbagai kebutuhan industri makanan dan minuman masih mampu dipenuhi. Presentasenya 30%, sedangkan sisanya 70% disediakan untuk kebutuhan global.
“Saya rasa kita masih mampu selama pasarnya atau industrinya juga berkembang. Jika industrinya berkembang ke bagai varian produk, kebutuhan bahan baku cokelat juga pasti bakal besar,” ujar Ciptadi, optimistis.
Di sisi lain, sentra-sentra kakao sebagai penghasil cokelat juga harus diberdayakan dengan menciptakan lab atau pusat cokelat yang mampu memenuhi kebuthan cokelat terhadap semua kalangan.
“Bukan kebetulan, per hari ini (16 September) dikenal sebagai Hari Kakao. Harapan dan cita-cita kami juga besar karena Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi, namun juga cokelat dengan varian rasa dan barista,” pungkasnya.
Konsumsi cokelat tahunan di Indonesia saat ini hanya sekitar 0,3 kilogram per kapita. Jumlah konsumsi ini masih kalah dibanding Autralia (5,1 kg), Singapura (11 kg) dan Malaysia (0,5 kg). Ini menjadi tantangan tersendiri, sebab Indonesia masih dikenal sebagai produsen biji kakao terbesar, terutama di wilayah Sulawesi dan Sumatra.
Di dalam negeri, kebutuhan dasar cokelat untuk berbagai kebutuhan industri makanan dan minuman masih mampu dipenuhi. Presentasenya 30%, sedangkan sisanya 70% disediakan untuk kebutuhan global.
“Saya rasa kita masih mampu selama pasarnya atau industrinya juga berkembang. Jika industrinya berkembang ke bagai varian produk, kebutuhan bahan baku cokelat juga pasti bakal besar,” ujar Ciptadi, optimistis.
Di sisi lain, sentra-sentra kakao sebagai penghasil cokelat juga harus diberdayakan dengan menciptakan lab atau pusat cokelat yang mampu memenuhi kebuthan cokelat terhadap semua kalangan.
“Bukan kebetulan, per hari ini (16 September) dikenal sebagai Hari Kakao. Harapan dan cita-cita kami juga besar karena Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi, namun juga cokelat dengan varian rasa dan barista,” pungkasnya.
Konsumsi cokelat tahunan di Indonesia saat ini hanya sekitar 0,3 kilogram per kapita. Jumlah konsumsi ini masih kalah dibanding Autralia (5,1 kg), Singapura (11 kg) dan Malaysia (0,5 kg). Ini menjadi tantangan tersendiri, sebab Indonesia masih dikenal sebagai produsen biji kakao terbesar, terutama di wilayah Sulawesi dan Sumatra.
Lihat Juga :