Tantangan Naik Kelas

Jum'at, 03 Juli 2020 - 05:58 WIB
loading...
A A A
Dia berharap naiknya status ini akan lebih memperkuat kepercayaan serta persepsi investor, mitra dagang, mitra bilateral, dan mitra pembangunan atas ketahanan ekonomi Indonesia. Harapannya status negara berpendapatan menengah atas dapat meningkatkan investasi, memperbaiki kinerja current account, mendorong daya saing ekonomi dan memperkuat dukungan pembiayaan. (Baca: Kondisi Ekspor-Impor Anjlok, Pertumbuhan Industri Perlu Diwaspadai)

Klasifikasi kategori ini biasa digunakan secara internal oleh Bank Dunia, namun tak jarang menjadi rujukan lembaga dan organisasi internasional. Bank Dunia menggunakan klasifikasi ini untuk menentukan sebuah negara memenuhi syarat dalam menggunakan fasilitas dan produk Bank Dunia, termasuk loan pricing (harga pinjaman).

Menurut Sri Mulyani, kenaikan status ini merupakan tahapan strategis dan landasan kokoh menuju Indonesia Maju 2045. Untuk menjadi ekonomi terbesar kelima di dunia, beberapa kebijakan yang perlu ditingkatkan antara lain memperkuat sumber daya manusia melalui pendidikan, program kesehatan, dan perlindungan sosial.

Hal lain adalah membangun infrastruktur yang layak untuk menyokong mobilitas dan mendorong pembangunan. Kemudian memperkaya inovasi dan teknologi dalam menjawab tantangan industri ke depan, memperbaiki kualitas layanan, dan meningkatkan efisiensi proses bisnis. "Tentu saja menjaga APBN yang sehat sebagai kunci sukses menuju Indonesia Maju 2045," ujar Sri Mulyani.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengatakan, dengan status baru tersebut menandakan bahwa Bank Dunia melihat naiknya rata-rata pendapatan orang Indonesia per tahun. "Saya kaget karena mengumumkannya saat keadaan seperti ini," ucap Luhut.

Dalam keterangan resminya Bank Dunia menyatakan, Indonesia bersama Aljazair, Mauritius, Nepal, Sri Lanka, dan Romania, sebenarnya tidak terlalu mengalami perubahan pendapatan yang signifikan dibandingkan setahun sebelumnya. Namun, perubahan itu cukup untuk membawa Indonesia masuk ke dalam kelompok negara menengah ke atas.

Manajer Development Data Group Bank Dunia, Umar Serajuddin, mengatakan perubahan ini terjadi akibat beberapa faktor, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai mata uang, hingga pertumbuhan penduduk yang memengaruhi tingkat pendapatan per kapita. Revisi data dan metode akun nasional juga dinilai memengaruhi nilai tersebut. “Ambang pendapatan ini juga kami sesuaikan dengan tingkat inflasi, semuanya terjadi dalam waktu nyata,” ujar Umar.

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Muhammad Edhie Purnawan menilai, keputusan Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income country menjadi upper middle income country akan menjadi sinyal positif. (Baca juga: Turki Tuntut Permintaan Maaf Prancis Atas Insiden Kapal Perang)

"Status yang dinaikkan ini jadi sinyal positif di tengah krisis kesehatan dan ekonomi sekarang. Kemungkinan karena penilaiannya dilakukan untuk masa sebelum pandemi Covid-19 positif di Indonesia," ujar Edhie.

Namun meskipun sinyalnya positif, dia juga menyarankan pemerintah sebaiknya melakukan perubahan pendekatan ekonomi dengan fokus pada pendekatan berbasis perbaikan taraf hidup masyarakat. Pendekatan ini menurutnya, akan jauh lebih berdampak dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Global Dinilai Masih Kuat
Orang Super Kaya Indonesia...
Orang Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat di Dunia, tapi Kelas Menengah Menyusut
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
Mengapa Sensus Ekonomi...
Mengapa Sensus Ekonomi Masih Dilakukan dari Pintu ke Pintu?
Gelombang PHK Ancam...
Gelombang PHK Ancam Industri Strategis, Regulasi yang Menggerus Daya Saing Harus Ditinjau Ulang
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
Mega Korupsi Penegak...
Mega Korupsi Penegak Hukum Merusak Ekonomi Negara
Perlambatan Ekonomi...
Perlambatan Ekonomi Tekan Pendapatan, Agus Taufiq Perindo Desak Perluasan Lapangan Kerja
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Rekomendasi
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
Infografis
7 Tantangan Zohran Mamdani...
7 Tantangan Zohran Mamdani Memimpin Kota New York
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved