Membaca Peluang Usaha Mie Sagu yang Belum Banyak Pemainnya
Selasa, 01 November 2022 - 19:49 WIB
loading...
A
A
A
“Harapan saya, mari bersama bersinergi, antara petani pengolah sagu, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, agar harga bahan baku bisa stabil dan sesuai, serta harga jual sagu mie bisa berkompetisi dengan mie instan lainnya,” harap Henny.
Ia meminta, peran aktif pemerintah untuk semakin gencar mempromosikan mie sagu yang sehat ini kepada seluruh lapisan masyarakat agar pasarnya semakin terbuka luas dan memberikan dukungan atau motivasi dengan berbagai fasilitas kemudahan seperti perizinan usaha dan lain-lain kepada para pengusaha mie sagu dari hulu sampai hilirnya.
Pengusaha Mie Sagu lainnya, Kelompok Tani Rimbo Bujang, beranggota 25 orang, sejak tahun 2016 hingga kini terus konsisten mengembangkan sagu.
Baca Juga: Sagu, Olahan yang Lekat di Lidah Orang Indonesia
Ia juga menganggap kalau mie sagu lebih aman dikonsumsi dalam jangka panjang karena tidak menggunakan bahan pengawet dan kandungan glikemiknya cukup rendah. Ditambah lagi kesadaran masyarakat untuk lebih memilih makanan yang sehat semakin meningkat.
“Kami gencar sosialisasi di media online maupun di toko-toko atau agen penjualan online, melakukan kerja sama dengan dinas pangan dan terkait setempat untuk ikut program-program promosi pangan sehat serta membagikan sample (tester) maupun leaflet atau brosur pada event-event tersebut," ucap Ketua Kelompok Tani Rimbo Bujang, dan pemilik Toko Sagu Kite, Praptini.
"Saat ini pasar terbanyak baru untuk dalam negeri, tetapi beberapa waktu lalu juga sempat tembus ke pasar luar negeri diantaranya Jepang, Belanda, meski jumlahnya belum banyak karena baru taraf promosi pengenalan,” sambungnya.
Diterangkan juga bahawa, harga mie siap saji miliknya untuk dalam negeri rata-rata dibandrol harga sebesar Rp.16.000 hingga Rp.18.000, belum ongkir (Perangkau Meranti-Riau).
Ia meminta, peran aktif pemerintah untuk semakin gencar mempromosikan mie sagu yang sehat ini kepada seluruh lapisan masyarakat agar pasarnya semakin terbuka luas dan memberikan dukungan atau motivasi dengan berbagai fasilitas kemudahan seperti perizinan usaha dan lain-lain kepada para pengusaha mie sagu dari hulu sampai hilirnya.
Pengusaha Mie Sagu lainnya, Kelompok Tani Rimbo Bujang, beranggota 25 orang, sejak tahun 2016 hingga kini terus konsisten mengembangkan sagu.
Baca Juga: Sagu, Olahan yang Lekat di Lidah Orang Indonesia
Ia juga menganggap kalau mie sagu lebih aman dikonsumsi dalam jangka panjang karena tidak menggunakan bahan pengawet dan kandungan glikemiknya cukup rendah. Ditambah lagi kesadaran masyarakat untuk lebih memilih makanan yang sehat semakin meningkat.
“Kami gencar sosialisasi di media online maupun di toko-toko atau agen penjualan online, melakukan kerja sama dengan dinas pangan dan terkait setempat untuk ikut program-program promosi pangan sehat serta membagikan sample (tester) maupun leaflet atau brosur pada event-event tersebut," ucap Ketua Kelompok Tani Rimbo Bujang, dan pemilik Toko Sagu Kite, Praptini.
"Saat ini pasar terbanyak baru untuk dalam negeri, tetapi beberapa waktu lalu juga sempat tembus ke pasar luar negeri diantaranya Jepang, Belanda, meski jumlahnya belum banyak karena baru taraf promosi pengenalan,” sambungnya.
Diterangkan juga bahawa, harga mie siap saji miliknya untuk dalam negeri rata-rata dibandrol harga sebesar Rp.16.000 hingga Rp.18.000, belum ongkir (Perangkau Meranti-Riau).
Lihat Juga :