Memanen Keuntungan dari Hidroponik
Sabtu, 19 September 2020 - 06:02 WIB
Kualitas sayur yang lebih baik membuat harga sayuran hidroponik relatif lebih mahal. Namun faktor itulah yang membuat sayur-mayur yang dihasilkan dari kebun hidroponik memiliki segmen pasar tersendiri.
Terlebih lagi saat pandemi seperti ini, kesadaran akan hidup sehat meningkat sehingga permintaan pasar sayur hidroponik pun meningkat hingga 50%. Hal ini karena sayur hidroponik berbeda dengan sayur yang di jual di pasar.
"Selain dari perseorangan, peminat sayur hidroponik banyak juga dari restoran dan hotel. Kalau untuk persentasenya restoran sekitar 30%, hotel 60%, perseorangan 10%,”ujar Ginanjar. (Baca juga: 4 Jenis Olahraga Ini Efektif Turunkan Kadar Kolesterol)
Dia mengungkapkan, di swalayan sudah ada yang memasok, tetapi belum terlalu banyak karena para petani hidroponik masih terkendala volume saat panen, juga keterbatasan biaya karena sayur hidroponik tidak bisa bertahan lama. Begitu juga bila kita ingin melakukan ekspor masih terkendala masalah pengemasan dan pengirimannya," ungkap dia.
Selada, kale, dan berbagai jenis sawi seperti pakchoy, caisim, dan sawi putih masih menjadi sayuran hidroponik yang banyak diminati. Untuk satu kilogram kale harga jualnya bisa mencapai Rp120.000, ?selada Rp40.000, dan sawi Rp35.000.
"Kale menjadi komoditas utama para petani hidroponik. Selain nilai jualnya tinggi, permintaan akan sayuran ini masih sangat tinggi, baik lokal ataupun pasar luar negeri," tambah Ginanjar. (Lihat videonya: Istana Para Raja di Wilayah Sulses Berusia Ratusan Tahun)
Di sisi lain pemerintah terus mendorong pengembangan budi daya hidroponik di beberapa area terbuka seperti di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) sebagai pencapaian ketahanan pangan di tingkat lokal. Anggota DPR Ahmad Syaikhu mengatakan, hidroponik dapat menjadi alternatif dalam mencapai ketahanan pangan di tingkat keluarga. Tapi harus ada inovasi teknologi agar hasilnya bisa benar-benar tercukupi. Sebab masyarakat kita masih memanfaatkan hidroponik sebatas hobi, hanya sebagian kecil yang memanfaatkannya sebagai usaha pertanian.
"Kendalanya masih cukup banyak terkait dana untuk membuat hidroponik dan meningkatkan pengetahuan untuk meracik larutan hidroponik serta pemilihan jenis sayuran yang tepat," ungkapnya. (Aprilia S Andyna)
Terlebih lagi saat pandemi seperti ini, kesadaran akan hidup sehat meningkat sehingga permintaan pasar sayur hidroponik pun meningkat hingga 50%. Hal ini karena sayur hidroponik berbeda dengan sayur yang di jual di pasar.
"Selain dari perseorangan, peminat sayur hidroponik banyak juga dari restoran dan hotel. Kalau untuk persentasenya restoran sekitar 30%, hotel 60%, perseorangan 10%,”ujar Ginanjar. (Baca juga: 4 Jenis Olahraga Ini Efektif Turunkan Kadar Kolesterol)
Dia mengungkapkan, di swalayan sudah ada yang memasok, tetapi belum terlalu banyak karena para petani hidroponik masih terkendala volume saat panen, juga keterbatasan biaya karena sayur hidroponik tidak bisa bertahan lama. Begitu juga bila kita ingin melakukan ekspor masih terkendala masalah pengemasan dan pengirimannya," ungkap dia.
Selada, kale, dan berbagai jenis sawi seperti pakchoy, caisim, dan sawi putih masih menjadi sayuran hidroponik yang banyak diminati. Untuk satu kilogram kale harga jualnya bisa mencapai Rp120.000, ?selada Rp40.000, dan sawi Rp35.000.
"Kale menjadi komoditas utama para petani hidroponik. Selain nilai jualnya tinggi, permintaan akan sayuran ini masih sangat tinggi, baik lokal ataupun pasar luar negeri," tambah Ginanjar. (Lihat videonya: Istana Para Raja di Wilayah Sulses Berusia Ratusan Tahun)
Di sisi lain pemerintah terus mendorong pengembangan budi daya hidroponik di beberapa area terbuka seperti di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) sebagai pencapaian ketahanan pangan di tingkat lokal. Anggota DPR Ahmad Syaikhu mengatakan, hidroponik dapat menjadi alternatif dalam mencapai ketahanan pangan di tingkat keluarga. Tapi harus ada inovasi teknologi agar hasilnya bisa benar-benar tercukupi. Sebab masyarakat kita masih memanfaatkan hidroponik sebatas hobi, hanya sebagian kecil yang memanfaatkannya sebagai usaha pertanian.
"Kendalanya masih cukup banyak terkait dana untuk membuat hidroponik dan meningkatkan pengetahuan untuk meracik larutan hidroponik serta pemilihan jenis sayuran yang tepat," ungkapnya. (Aprilia S Andyna)
(ysw)
Lihat Juga :