PSBB Jilid II Bikin Indeks Manufaktur Merosot Lagi

loading...
PSBB Jilid II Bikin Indeks Manufaktur Merosot Lagi
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kondisi manufaktur Indonesia memburuk pada bulan September saat Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) terkait Covid-19 diberlakukan kembali.

IHS Markit mencatat Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun hampir empat poin dari 50,8 pada bulan Agustus menjadi 47,2. Hal ini menandai penurunan indeks pertama sejak bulan April, pada saat pandemi global memuncak.

Poin PMI di bawah ambang batas netral 50 mengindikasikan penurunan pada sektor kesehatan dan menggambarkan kemerosotan perolehan yang dicapai PMI pada bulan-bulan terakhir.

Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw mengatakan, data terkini PMI mengindikasikan kemerosotan baru pada kondisi pabrik pada bulan September, dengan penjualan dan produksi menurun secara solid pada akhir triwulan ketiga setelah adanya peningkatan pada bulan Agustus.



"Perusahaan mengurangi kapasitas dan biaya tambahan sebagai bagian dari upaya untuk mengendalikan biaya dan tetap tetap bertahan. Ketenagakerjaan menurun sementara aktivitas pembelian terus berkontraksi. Inventaris juga menipis," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2020). (Baca juga: OJK Catat Baki Debet 74 Perusahaan Besar Berkurang)

Menurut dia, angka PMI terkini menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia menghadapi kondisi pengoperasian yang menantang pada beberapa bulan ke depan.

"Apakah pemulihan yang kuat akan mengakar? Sebagian besar bergantung pada kemampuan negara mengendalikan pandemi. Harapan terhadap prospek tahun depan tetap positif, tetapi optimisme bergantung pada perkembangan situasi Covid-19," tuturnya.



Data PMI menunjukkan penurunan permintaan yang membuat produksi kembali turun. Selain itu, penciptaan lapangan kerja menurun selama tujuh bulan berturut-turut dengan laju Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin cepat.

Perusahaan juga mengurangi aktivitas pembelian dan inventaris sebagai bagian dari upaya untuk mengendalikan pengeluaran. Dari sisi harga, tekanan inflasi membaik pada akhir kuartal ketiga. Rupiah yang lemah dilaporkan mendorong inflasi biaya, meskipun biaya input total naik dengan kecepatan terendah sejak bulan Maret. (Baca juga: Omzet 0 Rupiah, Titik Nadir Pelaku Usaha Pariwisata Semarang di Masa Pandemi)

Biaya output naik pada kisaran marginal menunjukkan sejumlah perusahaan memberikan diskon harga untuk merangsang penjualan. Pembatasan terkait Covid-19 yang kembali diberlakukan juga membatasi kemampuan pemasok untuk mengirimkan pasokan secara tepat waktu.

Pada akhirnya, harapan mengenai output tahun mendatang sangat tinggi, tetapi optimisme umumnya bersandar pada harapan bahwa pandemi akan dapat dikendalikan.
(ind)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top