Tumbuh 4,9% di Kuartal III, Ekonomi China Jadi Harapan Dunia
Senin, 19 Oktober 2020 - 10:17 WIB
loading...
Perekonomian China di kuartal III/2020 tumbuh 4,9% menunjukkan pemulihan yang makin cepat dari guncangan pandemi Covid-19. Foto/Ilustrasi
A
A
A
BEIJING - China sukses meningkatkan pemulihan ekonominya pada kuartal III/2020 dari guncangan virus corona, meski angka pertumbuhannya masih meleset dari perkiraan. Hal itu menunjukkan tantangan yang masih terus berlanjut bagi salah satu dari sedikit negara pendorong pertumbuhan global tahun ini.
Seperti dikutip Reuters, Senin (19/10/2020), Biro Statistik Nasional (NBS) menyebutkan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,9% pada Juli-September dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini lebih kecil dari perkiraan rata-rata analis sebesar 5,2% dalam jajak pendapat Reuters, namun naik cukup tinggi dari pertumbuhan 3,2% di kuartal kedua.
(Baca Juga: Negara Lain Masih Terjebak dalam Resesi, Ekonomi China Bangkit Lebih Awal)
NBS menyebutkan, ekonomi terbesar kedua di dunia ini tumbuh 0,7% dalam sembilan bulan pertama dari tahun sebelumnya. Para pembuat kebijakan secara global menggantungkan harapan mereka pada pemulihan yang kuat di China untuk membantu memulai kembali permintaan, setelah ekonomi negara masing-masing terdampak signifikan akibat lockdown serta gelombang kedua infeksi virus corona.
China yang terus pulih dari pertumbuhan terendah selama beberapa dekade akibat guncangan virus corona ini juga telah menunjukkan peningkatan konsumsi yang lebih luas juga pada kuartal ketiga. NBS menyebutkan, pada basis kuartal ke kuartal, PDB naik 2,7% pada Juli-September, dibandingkan dengan ekspektasi untuk kenaikan 3,2% dan kenaikan 11,5% pada kuartal sebelumnya.
Sementara, output industri tumbuh 6,9% pada September dari tahun sebelumnya, setelah kenaikan 5,6% pada Agustus, sementara penjualan ritel tumbuh 3,3%, versus kenaikan 0,5% pada Agustus. Selanjutnya, investasi aset tetap naik 0,8% dalam sembilan bulan pertama dari tahun sebelumnya, setelah turun 0,3% dalam delapan bulan pertama.
Pemerintah China telah meluncurkan serangkaian langkah tahun ini, termasuk lebih banyak pengeluaran fiskal, keringanan pajak dan pemotongan suku bunga pinjaman dan persyaratan cadangan bank untuk menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda virus corona dan mendukung lapangan kerja.
Seperti dikutip Reuters, Senin (19/10/2020), Biro Statistik Nasional (NBS) menyebutkan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,9% pada Juli-September dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini lebih kecil dari perkiraan rata-rata analis sebesar 5,2% dalam jajak pendapat Reuters, namun naik cukup tinggi dari pertumbuhan 3,2% di kuartal kedua.
(Baca Juga: Negara Lain Masih Terjebak dalam Resesi, Ekonomi China Bangkit Lebih Awal)
NBS menyebutkan, ekonomi terbesar kedua di dunia ini tumbuh 0,7% dalam sembilan bulan pertama dari tahun sebelumnya. Para pembuat kebijakan secara global menggantungkan harapan mereka pada pemulihan yang kuat di China untuk membantu memulai kembali permintaan, setelah ekonomi negara masing-masing terdampak signifikan akibat lockdown serta gelombang kedua infeksi virus corona.
China yang terus pulih dari pertumbuhan terendah selama beberapa dekade akibat guncangan virus corona ini juga telah menunjukkan peningkatan konsumsi yang lebih luas juga pada kuartal ketiga. NBS menyebutkan, pada basis kuartal ke kuartal, PDB naik 2,7% pada Juli-September, dibandingkan dengan ekspektasi untuk kenaikan 3,2% dan kenaikan 11,5% pada kuartal sebelumnya.
Sementara, output industri tumbuh 6,9% pada September dari tahun sebelumnya, setelah kenaikan 5,6% pada Agustus, sementara penjualan ritel tumbuh 3,3%, versus kenaikan 0,5% pada Agustus. Selanjutnya, investasi aset tetap naik 0,8% dalam sembilan bulan pertama dari tahun sebelumnya, setelah turun 0,3% dalam delapan bulan pertama.
Pemerintah China telah meluncurkan serangkaian langkah tahun ini, termasuk lebih banyak pengeluaran fiskal, keringanan pajak dan pemotongan suku bunga pinjaman dan persyaratan cadangan bank untuk menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda virus corona dan mendukung lapangan kerja.
Lihat Juga :