Industry Megashifts 2021
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Kini leadership para pemimpin negara di seluruh dunia diuji. Efektif tidaknya kepemimpinan mereka menangani krisis Covid-19 akan menentukan cepat tidaknya pemulihan ekonomi, industri, dan bisnis.
#5. Global Supply-Chain Disruption
Sebelum pandemi, sistem produksi global mengalami globalisasi di mana rantai pasok produksi tersebar di berbagai untuk memanfaatkan spesialisasi, skala ekonomi, pasok tenaga kerja, kedekatan dengan bahan baku maupun kedekatan pasar akhir.
Namun dengan adanya pandemi, kondisinya berbalik. Memiliki rantai pasok tersebar di berbagai belahan dunia membawa risiko kritis ketika arus barang melintas negara mengalami bottleneck. Dampaknya serius di sektor-sektor manufaktur seperti automotif, komputer/elektronik, garmen, farmasi, kimia hingga makanan/minuman.
Pascapandemi berbagai industri akan membangun resiliensi dengan membangun ekosistem rantai pasok yang lebih terkonsentrasi di lingkup regional atau bahkan nasional, tak lagi tersebar di berbagai belahan dunia.
#6. Accelerated Digitalization
Pandemi menjadi katalis bagi konsumen untuk bermigrasi ke ranah digital/online. Dengan munculnya stay @ home economy akibat pandemi, seluruh aktivitas konsumen kini dilakukan secara digital: berbelanja, bekerja, belajar, berobat, menikmati hiburan, bahkan beribadah. (Lihat videonya: Viral Pengendara Motor Diduga Bonceng Mayat di Boyolali)
Ketika ekonomi fisikal mandek akibat pandemi, ekonomi digital menggantikannya sehingga geliat perekonomian masih berjalan. Tak aneh jika transformasi digital menjadi agenda terpenting bagi perusahaan untuk tetap bisa survive di tengah pandemi. Semboyannya: "Go digital or die!"
(Bersambung)
#5. Global Supply-Chain Disruption
Sebelum pandemi, sistem produksi global mengalami globalisasi di mana rantai pasok produksi tersebar di berbagai untuk memanfaatkan spesialisasi, skala ekonomi, pasok tenaga kerja, kedekatan dengan bahan baku maupun kedekatan pasar akhir.
Namun dengan adanya pandemi, kondisinya berbalik. Memiliki rantai pasok tersebar di berbagai belahan dunia membawa risiko kritis ketika arus barang melintas negara mengalami bottleneck. Dampaknya serius di sektor-sektor manufaktur seperti automotif, komputer/elektronik, garmen, farmasi, kimia hingga makanan/minuman.
Pascapandemi berbagai industri akan membangun resiliensi dengan membangun ekosistem rantai pasok yang lebih terkonsentrasi di lingkup regional atau bahkan nasional, tak lagi tersebar di berbagai belahan dunia.
#6. Accelerated Digitalization
Pandemi menjadi katalis bagi konsumen untuk bermigrasi ke ranah digital/online. Dengan munculnya stay @ home economy akibat pandemi, seluruh aktivitas konsumen kini dilakukan secara digital: berbelanja, bekerja, belajar, berobat, menikmati hiburan, bahkan beribadah. (Lihat videonya: Viral Pengendara Motor Diduga Bonceng Mayat di Boyolali)
Ketika ekonomi fisikal mandek akibat pandemi, ekonomi digital menggantikannya sehingga geliat perekonomian masih berjalan. Tak aneh jika transformasi digital menjadi agenda terpenting bagi perusahaan untuk tetap bisa survive di tengah pandemi. Semboyannya: "Go digital or die!"
(Bersambung)
(ysw)
Lihat Juga :