Biaya Angkut Jadi Penyebab Kenaikan Harga Kedelai

Selasa, 05 Januari 2021 - 10:01 WIB
loading...
Biaya Angkut Jadi Penyebab...
Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut beberapa penyebab kenaikan harga kedelai impor. Pertama, adanya kenaikan ongkos angkut dari negara asal impor hingga ke Indonesia. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut beberapa penyebab kenaikan harga kedelai impor. Pertama, adanya kenaikan ongkos angkut dari negara asal impor hingga ke Indonesia.

“Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor, yakni ongkos angkut yang juga mengalami kenaikan,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Harga Kedelai Naik, Mentan: Petani Lebih Menanam Komoditas Lain)

Kemudian, lanjut dia, waktu transpor impor kedelai dari negara asal yang semula ditempuh selama tiga pekan menjadi lebih lama, yaitu enam hingga sembilan pekan.

(Baca Juga : Oh Ternyata Ini Biang Keladi Naiknya Harga Kedelai )

“Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami guncangan akibat tingginya ketergantungan impor,” kata dia.

Untuk itu, lanjut dia, peluang ini tentunya dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri.

“Kita melakukan MoU antara Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) dengan Gabungan Kelompok Tani dengan investor dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk meningkatkan kemitraan produksi dan memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai lokal milik petani,” ungkap dia.

Untuk diketahui, tingginya impor kedelai bukan semata-mata karena faktor produksi. Namun demikian, hal tersebut terjadi karena disebabkan kondisi kedelai merupakan komoditas nonlartas yang bebas impor kapan saja dan berapa pun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan. (Baca juga: Doa untuk Pengantin Baru Beserta Maknanya)

Terkait harga kedelai saat ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan sekitar 35% merupakan dampak pandemi Covid-19, terutama produksi di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia, Ukraina, dan lainnya.

Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh perajin tahu-tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut pihaknya akan meningkatkan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor. Langkah itu dilakukan untuk mengatasi harga kedelai impor yang sering melonjak.

Dia menjelaskan, upaya menggenjot produksi kedelai lokal akan dilakukan dalam dua kali musim tanam hingga panen atau 200 hari. Dengan strategi itu maka kebutuhan kedelai dalam negeri bisa dipenuhi dari kedelai lokal.

“Jadi, kami butuh 100 hari minimal kalau pertanaman dan dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap, sambil ada agenda untuk mempersiapkan ketersediaannya (kedelai),” ujar Mentan. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)

Namun, lanjut dia, dirinya belum dapat memastikan seberapa besar peningkatan produksi kedelai lokal ke depannya. Dia juga mengatakan, Kementan telah melakukan koordinasi dengan integrator, pengembang kedelai, pemda, dan kementerian terkait untuk mendorong produksi.

“Memang, saya tidak berbicara angka. Namun, tentu dengan langkah cepat Kementan hari ini (berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait). Kami coba lipat gandakan kekuatan yang ada,” ungkap dia. (Taufik Fajar)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mentan Amran Copot Oknum...
Mentan Amran Copot Oknum ASN yang Sewakan Lahan Negara 300 Hektare
Pilar Swasembada Pangan,...
Pilar Swasembada Pangan, Kementan Cetak Ratusan Ribu Petani Muda
Harga Beras di Jepang...
Harga Beras di Jepang Naik 90%, Bagaimana di Indonesia?
Ini 3 Arahan Prabowo...
Ini 3 Arahan Prabowo untuk Mentan Amran di Kementerian Pertanian
Gerak Cepat Atasi Kekeringan,...
Gerak Cepat Atasi Kekeringan, Kementan Sabet Penghargaan Komunikasi Publik Terbaik di AMH 2024
Tebus Pupuk Subsidi...
Tebus Pupuk Subsidi Cukup Pakai KTP, Mentan Amran: Jangan Dipersulit!
Harga Kedelai Naik Imbas...
Harga Kedelai Naik Imbas Konflik Timur Tengah
Raker Komisi VI DPR,...
Raker Komisi VI DPR, Pemerintah Bahas Pemanggilan Importir Kedelai
Diskriminasi Menahun:...
Diskriminasi Menahun: Daging Sapi Vs Daging Kerbau
Rekomendasi
Ruben Onsu Syok Lihat...
Ruben Onsu Syok Lihat Betrand Peto Menangis, Siap Ajak Onyo Bicara dari Hati ke Hati
Polda Metro Jaya: 3.588...
Polda Metro Jaya: 3.588 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Demo di DPR RI
Resepsi Jennifer Coppen...
Resepsi Jennifer Coppen dan Justin Hubner Curi Perhatian, Tema Kartu Remi Bikin Salfok
Berita Terkini
Santai Seaplane Buka...
Santai Seaplane Buka Pangkalan di Banyuwangi, Perkuat Konektivitas Wisata Premium
IHSG Melesat 3,5 Persen,...
IHSG Melesat 3,5 Persen, Saham BUMN Jadi Motor Penguatan Bursa
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
Kena PHK Dapat Uang...
Kena PHK Dapat Uang Tunai 60% dari Gaji selama 6 Bulan, Ini Syaratnya
Pengembangan CBG Perkuat...
Pengembangan CBG Perkuat Transisi dan Kemandirian Energi Nasional
Cerita Purbaya Ingin...
Cerita Purbaya Ingin Beli Harley Davidson Hasil Sitaan Negara, Tapi Dilarang Istri
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved