Biaya Angkut Jadi Penyebab Kenaikan Harga Kedelai
loading...
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut beberapa penyebab kenaikan harga kedelai impor. Pertama, adanya kenaikan ongkos angkut dari negara asal impor hingga ke Indonesia.
“Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor, yakni ongkos angkut yang juga mengalami kenaikan,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Harga Kedelai Naik, Mentan: Petani Lebih Menanam Komoditas Lain)
Kemudian, lanjut dia, waktu transpor impor kedelai dari negara asal yang semula ditempuh selama tiga pekan menjadi lebih lama, yaitu enam hingga sembilan pekan.
(Baca Juga : Oh Ternyata Ini Biang Keladi Naiknya Harga Kedelai )
“Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami guncangan akibat tingginya ketergantungan impor,” kata dia.
Untuk itu, lanjut dia, peluang ini tentunya dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri.
“Kita melakukan MoU antara Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) dengan Gabungan Kelompok Tani dengan investor dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk meningkatkan kemitraan produksi dan memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai lokal milik petani,” ungkap dia.
Untuk diketahui, tingginya impor kedelai bukan semata-mata karena faktor produksi. Namun demikian, hal tersebut terjadi karena disebabkan kondisi kedelai merupakan komoditas nonlartas yang bebas impor kapan saja dan berapa pun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan. (Baca juga: Doa untuk Pengantin Baru Beserta Maknanya)
Terkait harga kedelai saat ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan sekitar 35% merupakan dampak pandemi Covid-19, terutama produksi di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia, Ukraina, dan lainnya.
Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh perajin tahu-tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut pihaknya akan meningkatkan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor. Langkah itu dilakukan untuk mengatasi harga kedelai impor yang sering melonjak.
Dia menjelaskan, upaya menggenjot produksi kedelai lokal akan dilakukan dalam dua kali musim tanam hingga panen atau 200 hari. Dengan strategi itu maka kebutuhan kedelai dalam negeri bisa dipenuhi dari kedelai lokal.
“Jadi, kami butuh 100 hari minimal kalau pertanaman dan dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap, sambil ada agenda untuk mempersiapkan ketersediaannya (kedelai),” ujar Mentan. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Namun, lanjut dia, dirinya belum dapat memastikan seberapa besar peningkatan produksi kedelai lokal ke depannya. Dia juga mengatakan, Kementan telah melakukan koordinasi dengan integrator, pengembang kedelai, pemda, dan kementerian terkait untuk mendorong produksi.
“Memang, saya tidak berbicara angka. Namun, tentu dengan langkah cepat Kementan hari ini (berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait). Kami coba lipat gandakan kekuatan yang ada,” ungkap dia. (Taufik Fajar)
“Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor, yakni ongkos angkut yang juga mengalami kenaikan,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Harga Kedelai Naik, Mentan: Petani Lebih Menanam Komoditas Lain)
Kemudian, lanjut dia, waktu transpor impor kedelai dari negara asal yang semula ditempuh selama tiga pekan menjadi lebih lama, yaitu enam hingga sembilan pekan.
(Baca Juga : Oh Ternyata Ini Biang Keladi Naiknya Harga Kedelai )
“Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami guncangan akibat tingginya ketergantungan impor,” kata dia.
Untuk itu, lanjut dia, peluang ini tentunya dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri.
“Kita melakukan MoU antara Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) dengan Gabungan Kelompok Tani dengan investor dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk meningkatkan kemitraan produksi dan memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai lokal milik petani,” ungkap dia.
Untuk diketahui, tingginya impor kedelai bukan semata-mata karena faktor produksi. Namun demikian, hal tersebut terjadi karena disebabkan kondisi kedelai merupakan komoditas nonlartas yang bebas impor kapan saja dan berapa pun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan. (Baca juga: Doa untuk Pengantin Baru Beserta Maknanya)
Terkait harga kedelai saat ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan sekitar 35% merupakan dampak pandemi Covid-19, terutama produksi di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia, Ukraina, dan lainnya.
Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh perajin tahu-tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut pihaknya akan meningkatkan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor. Langkah itu dilakukan untuk mengatasi harga kedelai impor yang sering melonjak.
Dia menjelaskan, upaya menggenjot produksi kedelai lokal akan dilakukan dalam dua kali musim tanam hingga panen atau 200 hari. Dengan strategi itu maka kebutuhan kedelai dalam negeri bisa dipenuhi dari kedelai lokal.
“Jadi, kami butuh 100 hari minimal kalau pertanaman dan dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap, sambil ada agenda untuk mempersiapkan ketersediaannya (kedelai),” ujar Mentan. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Namun, lanjut dia, dirinya belum dapat memastikan seberapa besar peningkatan produksi kedelai lokal ke depannya. Dia juga mengatakan, Kementan telah melakukan koordinasi dengan integrator, pengembang kedelai, pemda, dan kementerian terkait untuk mendorong produksi.
“Memang, saya tidak berbicara angka. Namun, tentu dengan langkah cepat Kementan hari ini (berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait). Kami coba lipat gandakan kekuatan yang ada,” ungkap dia. (Taufik Fajar)
(ysw)