Waspada Investasi Bodong

Sabtu, 30 Januari 2021 - 12:31 WIB
loading...
Waspada Investasi Bodong
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu terus meningkatkan literasi berinvestasi kepada masyarakat agar tidak terjebak investasi bodong. (Foto: Dok/Sindonews)
A A A
MASYARAKAT masih mudah terjerat iming-iming keuntungan secara kilat dari investasi . Karena itu, banyak oknum yang memanfaatkan celah ini untuk mengumpulkan dana masyarakat, sehingga kasus investasi bodong makin marak.

Pengamat ekonomi Melvin Mumpuni mengatakan, untuk investasi yang tidak benar akan memberikan penawaran fantastis lebih dari 2% per bulan. Bahkan, ada juga jaminan dapat melipatgandakan investasi dengan waktu singkat.

Padahal, untuk investasi yang benar itu butuh waktu untuk bekerja, sehingga tidak bisa memberikan hasil dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu waspada terhadap banyaknya penawaran investasi. Apalagi, dengan teknologi online seperti saat ini, masyarakat begitu mudahnya mendapatkan informasi penawaran baik yang legal maupun ilegal.

"Hanya dari pemerintah investasi yang berjamin, yaitu surat berharga pemerintah. Deposito juga ada, tapi keberadaannya sejauh yang dibatasi lembaga pemberi jaminan simpanan," ungkap Melvin. Baca juga: Nih Daftar 14 Investasi Ilegal yang Distop Satgas Waspada Investasi

Modus lain dari investasi tipu menipu ialah kewajiban untuk mengajak orang. Dan ini termasuk sistem piramida. Kebanyakan keuntungan yang diperoleh di level atas berasal dari uang anggota yang baru masuk (kelompok bawah). Jadi, ini bukan sistem investasinya yang bekerja, melainkan sistem rekrutmen.

Jadi, jika tidak ada lagi orang yang masuk ke sistem, maka sistem tersebut akan runtuh dengan sendirinya. Sebab, sumber keuangan mereka adalah dari kelompok-kelompok rekrutan baru.

Menurut Melvin, investasi itu dipengaruhi beberapa hal, yakni modal pertama yang kemudin setiap bulan dapat ditambah atau menambah modal. Periode investasi yang perlu diperhatikan adalah jika investasi semakin panjang periode investasinya, maka return-nya juga akan lebih tinggi.

"Jika ada yang menawarkan itu dalam waktu yang cepat, bahkan ada biaya pendaftaran, itu perlu dicek kembali. Perusahaan investasi ada di bawah OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau tidak. Karena yang boleh mengelola uang nasabah menurut UU pasar modal adalah manajer investasi," ungkapnya.

Di luar itu seharusnya tidak boleh ada yang mengelola uang sekalipun bentuknya forex. Bahkan untuk P2P Lending pun, OJK kini tidak lagi menggunakan kata investasi, tapi pendanaan atau penggalangan dana.

Mengenai soal izin pun perlu ditinjau seperti perusahaan forex luar negeri yang ada izinnya di negaranya, tapi belum izin di Indonesia. Menurut Melvin, itu memang belum tentu penipuan, karena hanya belum mengurus perizinan di Indonesia. Kalau sudah terdaftar di Indonesia berarti sudah legal secara hukum. Jadi, mereka juga belum tentu investasi bodong

"Penipuan yang mengatasnamakan investasi akan selalu ada. Mengutip pendapat Dahlan Iskan, mereka boleh pintar tapi kitanya jangan bodoh. Saat ingin menggelontorkan uang untuk membeli atau investasi sesuai harus dipikirkan apakah masuk akal atau tidak. Literasi keuangan seluruh lapisan masyarakat harus terus diasah," tegasnya. Baca juga: Modal Asing Rp22,14 Triliun Masuk d Akhir Januari 2021

Bagaimana di pasar modal? Adakah tipu menipu dalam investasi ini? Pakar investasi saham, Frisca Devi Choirina mengatakan, di pasar modal jauh dari modus penipuan. Sebab, semua investor mengeksekusi secara mandiri.

Namun, Frisca mengakui sering melihat ada saham gorengan yang seperti memberi janji menguntungkan, namun belum tentu kenyataannya seindah itu. Menurutnya,saham gorengan ialah saham berasal dari perusahaan atau emiten yang kapitalisasi pasarnya kecil cenderung kerjanya pun negatif.

Baca juga: Pesan Lahan di Batang, Tiga Perusahaan Asing Siap Investasi di RI

"Memang lebih mudah dilihat dari kapitalisasi pasar, semakin kecil semakin mudah untuk 'digoreng' oleh market maker atau yang kerap disebut bandar," ungkapnya.

Market maker itu biasanya orang atau sekumpulan orang yang bermodal besar. Sebab, jika bukan investor dengan dana besar tidak mungkin dapat menaikkan atau menurunkan saham dalam waktu singkat. Berbeda dengan saham biasa yang tergantung permintaan dan penawaran pasar.

Di dalam pasar, saham gorengan itu masih legal selama tidak ada cornering atau antara dua pihak market maker sengaja melakukan jual beli di antara kedua mereka saja.

Frisca yang kerap memberikan edukasi mengenai saham di komunitas @ngertisaham dan @investorsahampemula juga turut memberikan edukasi mengenai saham gorengan ini. "Pastinya saya selalu memberi informasi agar mereka paham mana sebaiknya emiten yang dipilih karena kami memberikan risiko yang ada. Karena tidak semua perusahaan di bursa layak dan bagus untuk dibeli," tutur Frisca.

Frisca bukan sekadar mengajari bermain saham, namun mengenalkan adanya saham gorengan. Kemudian, kembali diserahkan masing-masing orang untuk selektif dalam memilih saham.

"Kami tetap menyarankan untuk memilih saham yang sehat kinerjanya. Investor ingin menaruh dana di perusahaan yang benar, tidak mungkin ingin di perusahaan yang bobrok," sambungnya.

Selama ini sudah banyak investor rugi dan ‘nyangkut’ karena tidak mendengar saran investor lain, termasuk di dalamnya fenomena saham gorengan. Mereka tergiur untung dalam waktu singkat karena memang menggiurkan. Janji manisnya misalnya satu hari bisa mencapai belasan persen.

Untuk mencegah hal tersebut memang dibutuhkan manajer investasi agar investasinya lebih tertata. Namun, menurut Frisca, bisa juga nasabah menganalisa sendiri saham yang layak dieksekusi, sehingga saat untung atau rugi tidak ada pihak yang disalahkan.

"Terkecuali reksadana menggunakan manajer investasi, kita tidak punya kendali untuk menyuruh manajer investasi untuk beli saham tertentu yang kita inginkan. Kita hanya sebagai investor pasif yang menerima laporan saja tiap bulan naik atau turun sekian persen," jelasnya.

Frisca meyakini, investor saham lebih nyaman sendiri secara independen. Manajer investasi dapat digunakan bagi investor pemula yang belum percaya diri dapat menggunakan manajer investasi untuk membeli reksadana saham. Tentu dengan risiko jika rugi tidak bisa menyalahkan manajer investasi.
(Ananda Nararya)
(wan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IHSG Menguat 2,67% Sore...
IHSG Menguat 2,67% Sore Ini, Ditutup di Level 5.900
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Berbagai Jenis ETF Sebelum Berinvestasi
Mahasiswa UPJ Belajar...
Mahasiswa UPJ Belajar Analisis Fundamental dan Teknikal di Jaya Investment Week 2026 bersama MNC Sekuritas
IHSG Ditutup Melejit...
IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Free Float 15% Bakal...
Free Float 15% Bakal Kerek Daya Tarik Perusahaan di Mata Investor, Begini Kata BEI
MNC Sekuritas Bekali...
MNC Sekuritas Bekali Mahasiswa UPJ Edukasi Pasar Modal dalam Acara Jaya Investment Week 2026
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
BP Batam Kawal Investasi...
BP Batam Kawal Investasi 88 Triliun AI Data Centre guna Transformasi Digital
Bontang Lestari dan...
Bontang Lestari dan KIE Siap Jadi Magnet Baru Kaltim
Rekomendasi
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
Infografis
Jomblo Waspada! Kesepian...
Jomblo Waspada! Kesepian Picu Penyakit Jantung hingga Diabetes
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved