Menelisik Peran Lembaga Skor Kredit dalam Pemulihan Ekonomi

loading...
Menelisik Peran Lembaga Skor Kredit dalam Pemulihan Ekonomi
Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOnews
JAKARTA - Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 mampu meluluh lantakkan sendi ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengalami kontraksi selama 2 kuartal berturut-turut. Nah hadirnya lembaga keuangan digital , khususnya skor kredit digadang-gadang dapat menjadi amunisi jitu untuk mendongkrak kembali perekonomian dengan jalan perbaikan kualitas kredit.

Sampai dengan Februari 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio kredit macet alias non performing loan (NPL) perbankan secara gross berada di level 3,21% dan 1,04% untuk NPL Nett. Angka tersebut terus menanjak jika dibandingkan dengan posisi NPL di 2019 yang sebesar 2,5% dan 3,0% di akhir tahun lalu.

Dengan hadirnya lembaga skor kredit bisa menjadi jurus jitu untuk menghindari NPL dalam fase pemulihan ekonomi seperti sekarang. Presiden Direktur Digiscore, Firlie Ganinduto menjelaskan Layanan innovative credit scoring dan verifikasi non-Costumer Due Diligence (CDD) dari Digiscore dapat membantu para lembaga jasa keuangan seperti bank, BPR, BPD, peer-to-peer lending dan perusahaan multi finance untuk meningkatkan kualitas penilaian kreditnya terhadap ratusan ribu bahkan jutaan calon peminjam.

Baca Juga : Pemain Baru Penyedia Layanan Keuangan Digital, Pos Indonesia Siapkan Sistemnya



Selain itu lanjut Firlie, layanan tersebut juga mampu menunjang kinerja anti-fraud internal secara ekstensif dengan memanfaatkan kemampuan artificial intelligence, machine learning dan big data Digiscore dalam mengolah dan menganalisa data alternatif selain data perkreditan yang relevan dalam proses credit underwriting, sehingga penilaian kelayakan kredit calon peminjam bisa berjalan lebih jelas.

“Karenanya, layanan Digiscore dapat berkontribusi kepada peningkatan kecepatan asesmen kredit dengan tetap mengedepankan kualitas kredit, dan disaat bersamaan juga meningkatkan jumlah pencairan pinjaman konsumtif maupun produktif secara meluas dan merata kepada masyarakat Indonesia yang terdampak secara finansial oleh pandemik Covid-19 dengan tetap menjaga rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan,” kata Firlie saat dihubungi SINDOnews.com, di Jakarta, Selasa (27/4/2021).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa pemulihan ekonomi nasional tidak bisa terlepas dari peningkatan inklusi keuangan dengan didukung komitmen berupa responsible lending dan manajemen risiko kredit yang berkualitas dari para lembaga jasa keuangan.

Untuk itu Digiscore akan proaktif mengajak rekan-rekan lembaga jasa keuangan untuk berkolaborasi dalam mewujudkan hal tersebut. “Kami sangat kuat di teknologi, analisa data, serta asesmen kelayakan kredit. Kami siap membantu ratusan lembaga jasa keuangan di masa yang sulit ini dan mendukung program pemulihan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Komisaris & Chief Legal Officer Digiscore, Chandra Kusuma menambahkan Innovative credit scoring dan Verifikasi Non-CDD yang perusahaan kembangkan dapat memberikan perspektif tambahan dan sudut pandang alternatif bagi kreditur dalam melakukan analisa kredit.

Baca Juga : DPR Minta Independensi OJK dan BI Dipertahankan dalam RUU RPPSK



“Pengembangan tersebut juga bisa dilakukan untuk mencegah kredit macet sekaligus mitigasi risiko fraud, sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan pertumbuhan portofolio kredit yang berkualitas, meluas dan bahkan meningkatkan potensi penyerapan kredit oleh segmen underbanked dan unbanked,” katanya ketika dihubungi secara terpisah.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, seperti pada perusahaan fintech lending, bisa dipahami bahwa permohonan pinjaman yang diterima pada perusahaan tersebut bisa mencapai jutaan per bulan, namun sayang prosesnya sering terkendala perihal asesmen kredit.

“Asesmen diperlukan untuk menilai siapa yang layak kredit, mana yang tidak, mana yang berpotensi fraud, mana yang aman. Digiscore dapat membantu dalam konteks meningkatkan kualitas, keandalan dan kecepatan asesmen kredit,” tambahnya.

Melalui layanan Digiscore lanjut Chandra,lembaga jasa keuangan dapat bermanuver dan berinovasi dalam mengeksplorasi dan memanfaatkan berbagai jenis, variabel dan klasifikasi data alternatif terkait calon peminjam diluar data dan informasi perkreditan dalam asesmen kredit untuk memberi gambaran yang semakin jelas, meyakinkan dan efektif mengenai kelayakan kredit calon peminjam.

Direktur Digiscore, Ravindra Airlangga menjelaskan dengan memanfaatkan data alternatif yang akan dianalisa oleh perusahaan scoring digital, dan dikombinasikan pula dengan data tradisional terkait kredit yang diakses akan membuat hasil analisa kredit menjadi lebih optimal.

Baca Juga : Penyerapan Dana PEN Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi

Adapun data calon debitur yang dinilai biasanya meliputi informasi riwayat kredit seseorang dalam SLIK, rekening bank dan juga data terkait kredit lainnya. Selain itu juga ada data tambahan lain yang dijadikan penilaian seperti data telekomunikasi, pulsa atau tagihan telepon, rekam jejak media sosial dan data belanja online. Data seperti itu bersifat ekstensif dan real-time dengan proses skor kredit yang inovatif.

“Kami berharap solusi dan layanan Digiscore setelah disempurnakan dapat semakin meningkatkan potensi penyerapan kredit oleh masyarakat di berbagai daerah dengan cepat, meluas dan efektif, meskipun mereka belum memiliki rekening bank (unbanked) ataupun rekam jejak keuangan di lembaga jasa keuangan konvensional,” pungkasnya.
(dar)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top